
Selesai dengan urusan di bank, Bima tancap gas melesat ke alamat yang didapat dari pesan yang dikirim Yoga ke ponsel Adrian. Letaknya agak ke pinggiran kota Bandung, menuju ke sebuah gedung apartemen yang terkesan sederhana.
Mobil hitam milik Bima berhenti di basemen. Membawa satu koper di tangan ia turun dan melangkah cepat menuju lift yang terhubung langsung ke lantai di mana alamat tersebut tertera yaitu lantai enam. Bima merasa benda kotak yang membawanya naik begitu lambat efek dari pikirannya yang tengah caruk maruk dengan kegusaran luar biasa berkecamuk, padahal kecepatan benda itu naik sudahlah sesuai standar.
Bunyi dentingan terdengar nyaring diiringi dengan pintu yang terbuka. Dari ambang pintu lift, Bima bisa melihat sekilas ke arah unit sebelah kanan yang dijaga tiga orang laki-laki di luarnya. Bima merogoh ponselnya dengan tetap menyalakan GPS, lalu menaruhnya ke dalam pot bunga yang terdapat di luar lift. Bima mengantisipasi situasi jika nantinya ia digeledah maka sudah pasti ponselnya akan diambil paksa.
Berusaha melangkah tenang dan tidak tergesa-gesa, Bima mendekati unit yang terletak di sebelah kanan pintu lift. Para preman yang berjaga menoleh ketika merasakan kedatangan Bima. Posturnya yang tinggi tegap menguarkan aura mengintimidasi dengan sorot mata menggelap.
Preman bertubuh gempal dan dua lagi yang berperawakan cungkring menelan ludah begitu melihat sosok Bima. Jujur saja hawa kemarahan yang menguar dari Bima membuat mereka menciut, terlebih lagi mata elangnya yang tajam seolah langsung menghujam bagai sebilah pedang saat Bima melayangkan pandangan pada mereka. Kharisma Direktur Sinar Abadi Grup ternyata bukan hanya kabar burung saat mereka kini nyata berhadapan langsung, padahal Bima hanya datang sendiri saja.
Para preman berdehem mengendalikan diri untuk tak terintimidasi. Berusaha tetap professional sesuai profesinya kini, karena Yoga sudah membayar mereka untuk menjadi kacungnya.
“Aku mau bertemu Yoga,” tegas Bima. Berucap datar tanpa senyuman.
“A-ada di dalam. Si-silakan masuk, Tuan.” Si preman bertubuh gempal malah tergeragap dan menelan ludah berkali-kali, sehingga salah satu kawannya menjitak kepalanya.
“Lo itu gimana sih? Gak usah sopan-sopan amat. Bos kita sekarang itu Pak Yoga!" peringatnya geram.
“Mana uangnya!” seru si preman satu lagi pada Bima dan menggeser posisi berdiri si gempal yang terkena serangan gugup.
“Ini baru sebagian.” Bima membuka koper yang dibawanya. "Katakan pada Yoga, aku harus melihat istriku dulu. Baru kuserahkan sisanya.” Bima berucap dengan nada dingin yang mampu membuat orang lain bergidik dan membeku seketika. Rahangnya mengetat dengan gigi gemeletuk.
Salah satu preman menghubungi Yoga melalui ponsel. Tak lama mereka mendorong pintu dan membawa Bima masuk dan memeganginya. Di dalam sana sudah ada Yoga juga Viona yang terikat duduk di kursi. Di belakang Viona ada Nia yang berdiri.
“Mas,” panggil Viona setengah memekik begitu melihat kemunculan Bima. Wajah cantiknya tampak menahan ketakutan yang teramat sangat agar tak menyeruak ke permukaan.
“Vi,” sahut Bima dengan tenggorokan tercekat. Bima ingin berlari dan merengkuh Viona ke dalam dekapan amannya saat ini juga. Namun, dirinya dipegangi dengan kuat oleh dua preman yang mengapitnya.
Sorot mata Bima mengkilat penuh dengan kobaran amarah melihat istrinya yang tengah hamil diikat tak beradab. Ia juga dapat menangkap penampakan pipi Viona yang mulai lebam dengan sudut bibir terluka. Tangannya terkepal di sisi tubuhnya. Inginnya ia langsung melayangkan tinju saat ini juga untuk membuat wajah Yoga tak berbentuk lagi karena telah berani meletakkan tangan kotornya pada wanita tercintanya. Akan tetapi Bima menahan diri, karena jika bertindak gegabah, khawatir membahayakan kondisi istri dan anaknya.
“Selamat datang, Pak Bima yang terhormat.” Yoga menyambut kedatangan Bima sembari menyeringai puas. “Tak kusangka, kamu datang sangat cepat. Sayang sekali, tadinya aku ingin mencicipi sedikit saja kecantikan wanita galakmu kalau-kalau kamu datang terlambat,” ujarnya kurang ajar.
Sudut bibir Bima berkedut menahan amarah. Kalimat melecehkan yang dilontarkan Yoga mengobarkan api dalam dirinya kian hebat. “Sedikit saja kamu berani menyentuh istriku, aku akan menghancurkanmu tanpa ampun!” geram Bima dengan suara rendah namun menakutkan.
“Ah, sayang sekali. Yang lebih kubutuhkan saat ini adalah uang. Jika tidak, istrimu memanglah lebih menggiurkan,” ujarnya menjijikkan.
“Jangan mimpi!” Bima berteriak marah.
Salah satu preman pembawa koper menghampiri Yoga dan menunjukkan uang di dalam koper tersebut.
“Mana sisanya? Ini hanya sedikit,” tanya Yoga dengan nada tak puas.
“Sisa uangnya ada di mobil. Kamu sudah mendapat apa yang kamu inginkan. Sekarang lepaskan istriku!” seru Bima dengan suara meninggi.
“Tidak semudah itu. Bagaimana kalau kamu berdusta, Tuan Bima,” ujar Yoga sambil tersenyum miring.”
“Aku bukan pecundang sepertimu. Periksa saja mobilku!”
Yoga memberi isyarat pada dua orang preman untuk menggeledah Bima dan menyita kunci mobilnya. Mereka bergegas turun ke basemen dan tak berapa lama ponselnya kembali berbunyi. Yoga mengangguk dengan senyum mengembang begitu mendengar laporan bahwa semua uang yang diinginkannya memang berada di mobil Bima.
“Angkut koper-kopernya kemari!” Perintahnya bersemangat.
“Semua yang kamu inginkan sudah didapat. Sekarang lepaskan istriku!” tegas Bima kembali yang mulai habis kesabaran. Sebetulnya Bima bisa dengan mudah melumpuhkan seorang preman yang memeganginya sekarang, tetapi ia tak bisa bertindak leluasa sebelum Viona benar-benar aman.
“Tidak semudah itu. Aku ingin sedikit bermain-main denganmu.” Yoga tertawa licik.”
"Selagi menunggu uangnya selesai diangkut, aku ingin melemaskan tinjuku dengan menghajarmu seperti kamu menghajarku sewaktu di restoran gara-gara wanita galakmu. Nia, jambak rambut istrinya sekuat tenaga jika Bima melawan,” bentak Yoga memerintah. Nia sedikit berjengit kaget, dan dengan tangan gemetarannya ia menggenggam rambut panjang Viona sesuai permintaan Yoga. Nia ingin melawan Yoga, tetapi dibentak kasar seperti itu nyalinya timbul tenggelam.
"Jangan berani kamu menyakiti istriku. Hajar saja aku sepuasmu bangsat!" Dada Bima tampak tersengal naik turun diserbu amarah.
Yoga terbahak-bahak seperti manusia tak waras hingga punggungnya terguncang nyaris terjengkang.
"Sabarlah Bima. Akan segera kukabulkan keinginanmu. Dan kau pegangi kuat-kuat Tuan Direktur yang terhormat ini saat kujadikan samsak tinju.” Tunjuknya pada si preman yang mencekal lengan Bima ke belakang.
“Dasar pengecut kamu, Yoga! Beraninya cuma main keroyokan!” hardik Viona. Ia tak terima suaminya hendak dipukuli tanpa diizinkan melawan.
“Viona, kumohon sayang diamlah!” bentak Bima. Ia takut Yoga menyakiti Viona jika istrinya menghardik dan melawan.
“Wow … kalian sungguh pasangan serasi.” Yoga tertawa sarkas sambil bertepuk tangan. Aku hanya hendak bermain-main saja dengan suamimu, cantik. Karena aku tak diberi kesempatan bermain-main denganmu. Sekarang tontonlah, lelakimu yang hebat akan bertekuk lutut di kakiku.”
Yoga melangkah medekati Bima dan sebuah tinju langsung dilayangkan, hingga bertubi-tubi. Viona menjerit melengking penuh kemarahan saat menyaksikan lelakinya disakiti dan direndahkan tanpa mampu melawan demi dirinya.