
Mami akan menjual semua bagian saham Mami di perusahaan inti dan memberikan uangnya padamu dengan satu syarat, kamu harus menikah dengan gadis pilihan Mami. Itu terserah padamu, seluruh aset yang dimiliki perusahaan yang kau kelola ini hanya bisa memenuhi separuh dari ganti rugi yang harus dibayarkan, sedang sisanya kamu mau mencari ke mana? Jika memakai uang pribadi perusahaan inti akan mengundang pro dan kontra di keluarga besar kita. Mau meminjam ke bank pun belum tentu mereka mau memberi pinjaman dalam jumlah besar saat reputasi perusahaanmu di ujung tanduk. Terserah padamu, apakah kamu lebih memilih terseret ke meja hijau, atau menuruti permintaan Mami? Pikirkan semua itu secara dewasa, jika menerima tawaran Mami, semua permasalahan genting ini akan segera terselesaikan.
Itulah sepengal kalimat yang Marina ucapkan pada Juna di kantor tadi siang. Juna mengulirkan bola matanya pada kelap-kelip kota Bandung di malam hari dari jendela unit apartemennya dengan secangkir kopi di tangan.
Vietnam drip di cangkirnya baru berkurang seperempatnya saja, tak berselera untuk meneguknya kembali. Ia menyapu pandangan ke luar jendela, merenungi nasib, mencoba meredam segala kecamuk di benaknya.
Hidupnya saat ini benar-benar kacau, pertunangan impiannya batal dan perusahaan yang dibangunnya sejak lima tahun lalu kini diambang kehancuran. Juna menelaah setiap kejadian yang bertubi-tubi menimpanya.
Mungkinkah semua ini impas dari karena terlalu tunduk pada obsesi gilanya? Atau karena telah membangkang pada wanita yang melahirkannya? Ataukah mungkin juga karena terlalu mendamba milik orang lain sehingga alam menghukumnya?
Mengambil napas panjang lalu mengembuskannya perlahan.
Mungkin sudah saatnya dia menyerah dan melepaskan rantai obsesi mengatas namakan cinta yang dibelitkannya sendiri. Membuang segala ambisi terhadap Viona yang membuatnya menjadi gelap mata, ingin memiliki tanpa peduli seperti apapun caranya bahkan jika itu terlarang sekalipun.
Sepertinya pepatah orang bijak yang sering didengarnya bukanlah isapan jempol belaka. Jika sudah jodoh, mau didorong pergi dengan cara apapun tetap akan kembali menghampiri. Namun jika bukan, sekuat apapun kita menarik dan mengikatnya pada akhirnya akan lepas dan pergi berlayar menjauh, kembali pada pemilik yang seharusnya.
Mengesampingkan ego, Juna membuka ponselnya menghubungi Marina. Sudah saatnya dia bersikap dewasa, masalah pelik para investor yang menuntut ganti rugi harus lebih diprioritaskan dibanding urusan pribadinya.
Juga tentang pepatah yang mengatakan jika menentang seorang ibu akan membuat hidup menjadi sial juga tak berkah benar adanya dirasakannya kini. Rasa bersalah karena pernah berucap kasar, membangkang dengan nada meninggi mulai menimbulkan penyesalan di hatinya, seandainya dia menurut pada Marina, mungkin Tuhan takkan menghukumnya seperti sekarang.
Juna menempelkan gawai persegi panjang itu di telinganya. “Mi, aku terima tawaran Mami.”
"Keputusan yang bijak Juna. Beri Mami waktu satu hari untuk menyelesaikan transaksi penjualan saham. Uangya akan langsung ditransfer ke rekeningmu. Oh, iya. Mami kirimkan foto dan biodata gadis yang akan dijodohkan denganmu. Dia anak dari teman baik Mami di Jakarta, namanya Anggita Jelita. Akan Mami atur waktu untuk kita bertemu dengan keluarganya. Bersikaplah dewasa Juna, pria sejati harus menepati janji, dan Mami yakin kamu takkan menyesali keputusanmu."
Marina menjawab penuh semangat panjang kali lebar.
"Terserah Mami, dan jangan khawatir, aku pasti menepati kata-kataku. Aku tunggu dana yang Mami janjikan."
*****
Nara sudah diperbolehkan pulang setelah hampir seminggu dirawat inap. Semua orang bersuka cita terutama Viona dan Bima. Orang tua Viona dan juga Bima tengah berkumpul bersama bercengkerama di ruang tengah sambil meminum teh, sedangkan Bima dan Viona berada di kamar Nara sedang bersenda gurau tertawa bersama.
“Nara masih harus banyak istirahat ya. Sekarang minum vitaminnya abis itu bobo lagi.” Viona mengeluarkan botol vitamin dari kantung berisi obat-obatan Nara, menuangnya ke dalam sendok takar dan meminumkannya pada Nara.
Bima mengusap tengkuknya resah. “Begini sayang, Ayah harus minum obat lagi karena masih sakit, jadi belum bisa bobo sama Nara di rumah, nanti Dokter Ayah marah.” Bima berusaha menjawab selogis mungkin.
“Tapi waktu di rumah sakit, Ayah boleh bobo tiap malem nemenin Nara,” rajuknya sambil memajukan bibirnya.
“Oh, itu karena dokternya Ayah ada di sana juga. Jadi Ayah dibolehin bobo sama Nara,” sahut Viona mencoba mencari alasan karena Bima tampak kebingungan.
“Terus kapan Ayah sembuh?” Bocah cantik itu mengeluh kemudian naik ke pangkuan Bima yang duduk bersandar di tempat tidurnya. “Pengen bobonya ada Bunda sama Ayah lagi.”
“Nggak lama lagi, Ayah janji bakalan segera sembuh biar bisa nemenin Nara setiap hari.” Bima mengecup pipi lucu anaknya yang sedang cemberut.
“Asik…. Kalau gitu Ayah harus berani minum obat kayak Nara biar cepet sembuh. Tuh, Nara aja udah boleh pulang sama dokter karena minum obatnya nggak nangis walaupun pahit,” celotehnya lucu menggemaskan.
“Iya, Ayah janji.”
*****
Bima, Viona, juga kedua orang tua mereka kini duduk berkumpul melingkar di karpet ruang tengah, sedangkan Nara sedang ditemani Bik Yati di kamarnya.
“Om, saya dan Viona sudah memutuskan. Jika Anda setuju, Tiga minggu lagi, kami berencana untuk menikah kembali.”
Bima menyampaikan niatannya, meskipun jujur saja saat ini tangannya serasa sedingin es akibat kegugupan yang melandanya. Dulu orang tuanya lah yang melamarkan Viona untuknya, karena mereka menikah melalui jalan perjodohan. Jadi kali inilah Bima baru merasakan betapa menegangkannya meminta wanita yang dicintainya untuk dipersunting.
Hening sesaat terbentang di ruangan itu, hanya denting jarum jam juga suara jangkrik yang terdengar. Viona bahkan sejak tadi menunduk tak berani mengangkat wajahnya sembari meremas jari jemarinya, khawatir jika Abdul tiba-tiba berubah pikiran dan kembali menentang keinginan mereka untuk rujuk.
“Om ikut saja dengan keputusan kalian, lebih cepat lebih baik," ucap Abdul.
Sontak, Viona mengangkat wajahnya, begitu juga Bima. Dua sejoli itu Tak mampu menyembunyikan rona bahagia, jelas tercetak di wajah masing-masing. Rima dan Annisa juga menebar senyum yang sama, begitu pun Malik.
“Terima kasih Yah, terima kasih.” Viona memeluk Abdul penuh rasa syukur juga bahagia. Masih terasa seperti mimpi baginya, akhirnya sang ayah memberi restu akan cintanya dengan Bima.
Semua orang menyambut penuh suka cita, memanjatkan do’a terbaik bagi pasangan yang sempat retak itu.