
“Mana bayarannya?” Hana menyodorkan telapak tangannya kepada Bima. “Perban, alkohol dan yang lainnya itu semua harus dibeli pakai duit. Ah iya, jangan lupa juga tarif jasa pengobatannya, aku benci dengan orang kaya yang meminta gratisan,” ucapnya lugas membuat Bima tertawa di tengah suasana hatinya yang gamang gundah gulana.
“Dasar mata duitan!”
“Hidup ini tidak mudah, Tuan.” Hana terkikik ceria hingga matanya menyipit. “Ekspresimu terlihat menyedihkan, Kak,” sambungnya.
“Terlihat jelaskah?” tanya Bima, tampak guratan penyesalan, kesepian juga kerinduan tercetak di sana.
Hana mengangguk. “Sangat, bahkan hampir mirip seperti dokumen yang di laminating lalu ditempelkan di jidat,” ejeknya sembari terkekeh. "Tante Annisa pernah menceritakan semua padaku tanpa terkecuali, saat mengurus surat perceraianmu."
“Aku merindukan mereka, hingga hampir gila rasanya.” Bima mendesah panjang dan berat.
“Dapatkan mereka kembali. Aku tahu semuanya adalah kesalahanmu akibat diperbudak benda laknat itu. Tapi jika kita benar-benar mau berubah dan jangan mengulangi kesalahan yang sama, setiap orang berhak mendapat kesempatan kedua jika celah itu masih ada. Itulah sebaik-baiknya refleksi penyesalan.”
“Aku baru memulai kembali langkahku. Semoga kesempatan itu masih ada, bahkan jika kemungkinannya hanya satu persen pun aku akan tetap mencoba berusaha, meskipun pada kenyataannya dia membenciku dan juga sudah ada orang lain di sisinya,” imbuhnya pilu.
“Berjuanglah! Jika memang masih ada secercah rasa itu untukmu di hatinya, yakinlah bahwa kesempatan itu masih ada. Para wanita tak semudah itu melupakan rasa cintanya, meskipun pernah tersakiti. Seperti cintaku pada Alaric, Kakak juga pasti tahu cerita pernikahanku dulu tak melulu tentang bahagia. Badai besar dahsyat pernah menerjang, tapi hingga detik ini hanya Alaric yang mengisi ruang kalbuku.”
Hana mengulas senyum dan menatap foto lelaki tampan berwajah campuran Indonesia-Amerika dengan seragam pilotnya yang terpajang di sudut kanan ruangan, persis dekat meja kerjanya.
“Makasih Hana. Dukunganmu sangat berarti, jujur saja aku juga butuh sekutu untuk kembali berjuang,” sahut Bima sembari mengulum senyum.
Hana tergelak ringan. “Menjadikanku sekutu bayarannya mahal. Perlu Kakak tahu aku ini sangat mata duitan seperti Tuan Krab!"
“Sepertinya kau akan cepat kaya dengan kepribadianmu ini.” Bima kembali tertawa.
“Tapi jika ternyata sudah tak ada lagi dirimu di hatinya dan dia lebih bahagia dengan orang yang kini di sisinya, lepaskanlah, jangan memaksanya. Jika benar mencintainya, biarkan dia memilih dengan siapa ingin berbahagia. Mengenai anak, Nara akan tetap jadi anakmu takkan ada yang bisa mengubahnya. Tapi satu hal, jangan pernah berniat memisahkannya dari ibunya, itu tindakan kejam. Kakak masih bisa mencurahkan kasih sayang untuknya meskipun kalian tak bisa bersama lagi.” Nada bicara Hana kali ini begitu serius dalam setiap untaian kata yang diucapkannya kepada Bima.
Bima tersenyum getir dan mengangguk. “Aku mengerti, meskipun jika hasil akahirnya tak sesuai harapanku, setidaknya aku sudah berusaha. Berusaha untuk menyambungkan kembali ikatan yang telah tercerai berai.”
“Jangan mudah menyerah. Perbaiki diri, tetap berusaha dan berdo’a. Belajarlah dari kesalahan, pengalaman adalah guru terbaik. Semangat.” Hana mengepalkan kedua tangannya memberi semangat kepada Bima.
“Semangat.” Bima mengikuti gerakan tangan Hana. “Aku pulang dulu. Sampaikan salamku pada ibumu.” Bima beranjak dari duduknya.
“Hmm… hati-hati di jalan, Kak.”