
Viona menaruh sendok dan garpu yang dipegangnya ke dalam mangkuk yang isinya telah berpindah tempat ke dalam perutnya, menyisakan mangkuk bersih kosong tak bersisa. Ia mengelus perutnya yang kekenyangan, karena selain semangkuk soto ayam dia juga menghabiskan satu piring nasi putih hangat yang dipesannya.
Viona bahkan tidak bisa menahan sendawanya, perutnya benar-benar sudah terisi penuh saat ini. Tiba-tiba Viona tersadar bahwa Juna belum makan siang satu sendok pun karena tadi soto yang tersisa hanya tinggal satu porsi. Ia menolehkan kepalanya, karena saking semangat menyantap makanannya membuatnya lupa bahwa orang yang sedang duduk di sebelahnya juga butuh makan.
"Jun, maaf. Aku lupa, kamu pasti lapar juga kan?" tanyanya dengan raut wajah bersalah.
"Hahaha, tenang aja. Melihat ibu hamil makan dengan rakus kayak tadi aja aku udah kenyang kok," godanya tersenyum jahil.
"Jadi maksudmu aku rakus gitu?" Viona mencebikkan bibirnya. "Aku bukannya rakus, tapi itu karena bawaan bayi," sahutnya kesal.
"Oke, baiklah. Iya deh iya bukan rakus tapi bawaan bayi," Juna mengulum senyumnya.
"Oh iya Vi, sebenarnya aku membuka perusahaan yang kurintis di sini, baru diresmikan seminggu yang lalu. Masih bekerja sama dengan perusahaan papiku. Mulai sekarang aku akan lebih banyak mengelola perusahaanku di sini, dan aku juga berencana tinggal di apartemen dekat kantor. Tapi aku belum begitu hapal situasi Bandung sekarang, karena sudah banyak yang berubah tidak seperti dulu lagi, apakah kamu keberatan jika aku banyak bertanya padamu tentang seluk beluk di sini?"
"Bertanyalah padaku sesukamu, jangan sungkan begitu, bukankah kita teman?" ujarnya dengan senyuman manis yang tersungging di bibirnya.
"Thank you, Vi, kamu jangan bosan jika nanti aku terus menghubungimu seperti seorang penguntit," ucap Juna terkekeh dan Viona ikut tertawa.
"Sudah selesai kan makannya? Stau kamu mau nyemilin mangkuknya juga sekalian," ujar Juna jahil.
"Memangnya aku ini kuda lumping!" serunya sengit dengan melemparkan tatapan maut pada Juna.
Juna tergelak kencang karena berhasil menggoda Viona hingga kesal. "Sorry sorry, Vi, mengenai kain yang ingin kamu pesan aku sudah membawa beberapa sampel, sebentar kuambilkan di mobil." Juna bergegas mengambil contoh kain yang akan di perlihatkan pada Viona.
Viona begitu serius melihat setiap contoh kain yang di bawakan Juna, mereka bercakap-cakap panjang lebar tentang pekerjaan hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore.
Setelah membayar mereka segera kembali ke butik, di tengah perjalanan Juna mampir ke drive thru restoran cepat saji, ia membeli sandwich untuk sekedar mengisi perutnya yang menagih untuk diisi ulang.
*****
Senja mulai tiba, merayap merebakkan cahaya jingganya di ufuk barat. Viona sedang menunggu di jemput pulang oleh Bima. Sudah hampir pukul enam sore tetapi Bima masih belum juga tiba, sesekali ia melirik jam tangannya, Bima berjanji akan datang sebelum pukul lima sore, tapi hingga kini suaminya itu masih belum nampak batang hidungnya.
Viona menghubungi nomor suaminya tetapi ponselnya tidak aktif, Viona juga mencoba menelepon ke kantor Bima tetapi tidak ada yang mengangkat, mungkin karena jam kerja sudah usai maka dari itu para karyawan pasti sudah pulang, apakah mungkin suaminya itu sedang ada rapat di luar kantor?
*****
Pukul sembilan malam Bima baru sampai di rumahnya, ia memarkirkan mobilnya serampangan, dan tergesa-gesa masuk ke dalam rumahnya, pakaiannya kusut masai bahkan wajahnya pun terlihat sangat lelah.
Ternyata Viona belum tidur, ia sedang membenahi makanan dari meja makan untuk dimasukkan ke dalam kulkas. Selepas sholat myaghrib Viona memasak menu kesukaan Bima, dia akan mencoba kembali berdamai dengan suaminya itu, karena akhir-akhir ini Viona memperhatikan bahwa sikap Bima perlahan mulai berubah dan lebih perhatian padanya.
Tetapi lagi-lagi rasa kecewa menyelimuti hatinya, karena sejak sore tadi suaminya tidak bisa di hubungi ataupun memberi kabar padanya, membuat Viona merasa bahwa Bima tidak pernah menganggap dirinya penting.
Saat Viona sedang fokus memindahkan makanan ke dalam wadah khusus untuk ditaruh di kulkas, tiba-tiba sepasang lengan kekar menelusup dan memeluknya dari belakang mengusap perut buncitnya. Viona terkejut dan hampir saja menjatuhkan piring yang sedang dipegangnya, ia menaruh kembali piring itu ke atas meja dan membalikkan badannya hingga posisinya kini saling berhadapan dengan Bima.
Sungguh perpaduan yang kontras, Viona yang mungil berdiri berhadapan dengan Bima yang berperawakan tinggi dan atletis. Viona mendongak dan menatap tajam ke dalam mata Bima.
"Mas, kenapa baru pulang? Aku menunggu di butik hingga matahari hampir tenggelam tapi Mas tak kunjung datang? Apa Mas sedang berniat untuk mempermainkanku?" tanyanya, terselip nada kekecewaan yang kental di dalam setiap kalimat yang terlontar dari bibir ranumnya.
Bima termenung sejenak, kemudian teringat bahwa tadi pagi sudah berjanji akan menjemput Viona dan pulang bersama, tetapi ia malah melupakan janjinya itu karena sibuk dengan urusannya bersama Reva.
"Ah, be-begini. Tadi ... ada rapat dadakan, jadi aku tidak bisa menepati janji," sahutnya tergagap.
"Jika Mas tidak bisa menepati janji kenapa tidak memberi kabar padaku? Berulang kali aku menghubungi melalui ponsel, tetapi nomor yang kuhubungi tidak aktif. Aku juga mengirimkan Mas pesan teks, tapi hingga sekarang status pesan yang kukirim masih saja menunggu. Apa mas mengerti bagaimana khawatirnya aku? Apakah aku begitu mudah untuk diacuhkan? Pernahkah Mas benar-benar menganggapku sebagai seorang istri!" seru Viona di sela-sela isakan yang tertahan, bahkan ujung hidungnya mulai memerah karena menahan tangis, baru kali ini dia berani berbicara mengeluarkan segala rasa yang mengganjal di hatinya.
Bima merengkuh Viona ke dalam pelukannya dan mendekapnya dengan erat, walaupun yang dipeluk meronta-ronta ingin dilepaskan, bahkan Viona memukul mukul punggung Bima dengan kedua tangannya.
Napas Viona tersengal, paru-parunya laksana terhimpit hingga terasa sesak, seketika tangisnya pecah dan airmata yang ditahannya sejak tadi berderai dengan derasnya membasahi pipi mulusnya.
Rontaannya mulai mengendur, pukulannya di punggung Bima juga mulai melambat, kini hanya terdengar raungan dari Viona yang menangis sejadi-jadinya.
Rasa bersalah perlahan merayapi hati Bima yang sekeras batu, bagaimanapun juga Viona adalah istrinya dan juga ibu dari anak yang sedang di kandungnya. Awalnya kebersamaan mereka selama ini laksana air mengalir yang Bima biarkan dan acuhkan begitu saja. Namun kini, kebersamaan mereka mulai mengikis sanubarinya sedikit demi sedikit.
Dalam hatinya Bima mengakui hal pribadinya masih menjadi pengendali terbesar dalam kehidupannya, entah ia bisa mengubah semua itu atau tidak dirinya pun tidak yakin.
Bima mengusap punggung Viona, dan mengecup sisi pelipisnya. "Maaf, maafkan aku, Sayang," bisiknya parau.