Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Jagoanku



Acara aqiqah si ganteng Bisma diselenggarakan meriah juga besar-besaran. Usia bayi gembul itu kini menginjak 21 hari. Seluruh keluarga besar bersuka cita. Hana yang belum sempat menjenguk buah cinta kedua Bima dan Viona itu baru bisa datang hari ini. Buah tangan untuk si bayi juga tak ketinggalan.


Halaman belakang rumah yang tersambung dengan taman didekorasi begitu elegan. Didominasi warna biru dan putih juga bunga-bungaan serta tanaman hijau membuat kesan segar menguar begitu menyenangkan. Meja-meja panjang dan kursi ditata rapi dengan manisnya. Dilengkapi taplak berwarna senada juga buket bunga di setiap meja.


Untuk keluarga, didekorasi duduk di halaman, karpet empuk khas Turki yang disebut-sebut sebagai karpet kualitas terbaik digunakan sebagai alasnya. Tempat duduk kursi panjang empuk untuk Viona sudah disiapkan agar tetap nyaman untuk ibu yang baru saja selesai bersalin. Tak lupa kursi serupa untuk para orang tua di kedua sisi.


Berbagai macam hidangan juga kudapan dari para juru masak terkenal di Bandung sudah berjejer rapi di setiap booth makanan untuk menjamu. Souvenir unik dan mewah sebagai cinderamata para tamu pun, telah dipersiapkan. Mereka menyiapkan segala sesuatu yang terbaik yang mereka bisa sebagai ungkapan syukur, bahwa kini anak cucu mereka bersatu dalam ikatan utuh dan juga sebagai simbol sukacita dengan dihadiahkannya anggota keluarga baru.


Aqiqah kali ini digelar di kediaman Malik. Mereka bergantian ingin menyambut kelahiran cucu tercinta lantaran dulu saat acara aqiqah Nara diadakan di rumah Abdul. Nara tak hentinya mengajak Bisma berceloteh kendati si bayi belum bisa menyahuti. Dan jangan lupa, semua kado buah tangan untuk Bisma diboikot oleh Nara. Ia melarang siapapun untuk membuka kado dan acara membuka hadiah hanya ingin dilakukan olehnya seorang.


Semua keluarga besar kedua belah pihak, rekan-rekan Bima, juga para pekerja di butik Viona turut menghadiri, ditambah orang-orang penting kolega Malik juga Abdul.


Bima tak sekali pun jauh dari sang istri, bahkan selama acara berlangsung Bima lebih banyak menggendong Bisma serta Nara yang terus bergelayut manja di pangkuannya. Bisma tampak begitu nyaman bergelung di lengan kokoh sang ayah dan si sulung Nara terus merecoki adik kecilnya, terus menerus menjahili Bisma agar tidak tidur.


Sambutan singkat penuh syukur disampaikan oleh Malik juga Abdul selaku kakek si bayi. Dan sepatah dua patah kata berbalut cinta sarat akan kasih sayang disuguhkan oleh ayah dan bundanya.


Acara utama berlangsung khidmat dipimpin oleh penceramah kondang beserta juru do’anya. Do’a-do’a terbaik dipanjatkan. Semoga si bayi panjang umur dalam kesehatan yang baik, rezeki yang melimpah, berbakti dan taat pada agama serta orang tua.


Kebahagian Bima sebagai laki-laki terasa lengkaplah sudah. Sepasang buah hati yang lucu menggemaskan, rumah yang hangat penuh kegembiraan, juga istri cantik yang menggairahkan. Yang selalu siap sedia melayaninya tanpa lelah. Yang selalu berbakti padanya. Baik itu pemenuhan kebutuhan lahir maupun batin.


Acara inti telah usai, dilanjutkan dengan makan bersama dan berbincang-bincang. Hana ikut bergabung bersama Viona dan Bima. Sudah tak tahan ingin menggendong bayi gembul menggemaskan yang tengah menjadi raja hari ini.


“Halo sayangnya Auntie.” Hana mengecup gemas Bisma yang betah tertidur.


“Ya ampun pelitnya. Cuma nyium, bukan dibawa kabur. Teganya menganggapku kuman!” seru Hana yang mendelik dan menatap sebal.


“Udah nggak apa-apa, Mas.” Viona mengelus lengan Bima sambil tertawa kecil.


“Makanya bikin bayi sendiri. Nikah lagi sana!”ujar Bima berbalut candaan pada Hana.


“Aku lebih suka jadi mak comblang, Tuan! Seperti yang kulakukan pada kalian yang sama-sama bodoh soal cinta. Lihat kan bukti keberhasilanku? Begitu tampan dan lucu. Jadi biarkan aku menggendongnya. Ingatlah, hadirnya jagoan gendut ini terdapat peranku juga di dalamnya.” Hana berkilah disusul kekehan.


“Dasar iseng! Kukira kalian benar-benar berkencan waktu itu.” Viona menepuk pelan pundak Hana dengan wajah cemberut.


“Maaf. Kamu harus tahu, Kak Bima nyaris gila saat mendengar kabar rencana pertunanganmu. Makanya aku mengusulkan untuk membuat api cemburu dalam dirimu berkobar, dan akhirnya berhasil bukan?”


Hana tertawa renyah sengaja menggoda membuat Viona meraba wajahnya sendiri yang terasa memanas.


“Sudah, sudah. Jangan menggoda istriku terus,” protes Bima yang kemudian merangkulkan lengan ke pinggang Viona.


“Dasar bucin” ejek Hana ceria seperti biasanya. ”Sebetulnya ada hal penting lain yang ingin kusampaikan pada kalian, terutama padamu, Kak. Bisakah kita bicara sekarang?”


"Ada apa memangnya?" Bima tampak kebingungan. "Bicaralah," pintanya.