Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Second Chance



Deru napas memburu keduanya kini mulai mereda, Bima mengangkat wajahnya dari ceruk leher Viona, melabuhkan kecupan sayangnya di kening wanita yang berada di bawahnya.


“Makasih, sudah menerimaku kembali menjadi suamimu, sayang,” ucapnya dengan sorot mata berlumur cinta.


Viona meraba sisi wajah Bima disertai senyuman. “Itu karena hanya Mas lah, penghuni ruang hatiku, tak terganti selalu begitu.”


Senyum bahagia mengembang di wajah tampannya. Bima menggesekkan hidung mancungnya ke hidung Viona sebelum berguling ke samping. Diraihnya selimut yang bergulung di kaki yang keberadaannnya di ranjang tadi sempat tersisih, menutupkannya ke tubuh urian mereka berdua, melindungi diri dari dinginnya embusan air conditioner.


Direngkuhnya tubuh Viona agar tak berjauhan dengannya, memeluknya dari belakang, merapat saling bergesekan kulit sembari meresapi sisa-sisa nikmat yang masih membanjiri di seluruh aliran darahnya.


“Kamu semakin cantik dan seksi saat mengejang,” desis Bima mesum ke telinga Viona sambil meniupkan napas hangatnya dengan sengaja.


"Ish Mas, aku malu.” Viona menangkupkan kedua tangannya guna menutupi wajahnya yang memanas lantaran mendengar kata-kata vulgar terlontar dari lelaki yang memeluknya posessif itu.


Bima tergelak ringan, kemudian mencium leher Viona gemas dan kembali memeluknya.


“Dulu, aku bodoh!” ujarnya tiba-tiba.


“Eh… maksudnya?” Viona menoleh tak mengerti.


“Ya, dulu aku bodoh, karena mataku buta. Telah menyia-nyiakan permata berharga sepertimu hanya demi setumpuk sampah busuk.”


Viona terkekeh. “Baru sadar Anda rupanya, Tuan,” sindirnya menggoda.


“Ya, itu benar. Dulu seharusnya kamu memukul kepalaku agar aku lebih cepat tersadar.” Bima mengangsurkan tangannya membelai lembut lengan Viona hingga ke pundak secara berulang.


“Benar juga, kenapa tak terpikirkan olehku ya.” Viona terkikik geli.


Bima kembali merengkuh wanita tercintanya, memeluknya dan menghidu aroma menyenangkan, memabukkan, sekaligus menenangkan yang menguar dari tubuh Viona.


“Maaf,” bisik Bima serak.


“Kenapa meminta maaf?"


“Maaf karena menjadi suami yang buruk untukmu dulu. Aku berjanji akan berusaha memperbaiki semuanya, mengganti semua waktu yang kulewatkan. Terima kasih sudah memberiku kesempatan kedua.”


Viona merasakan tubuh yang memeluknya sedikit berguncang, juga terdengar nada isakan tertahan dari lelakinya. Ia mengusap lembut lengan Bima yang melingkari perutnya.


“Apapun itu asalkan aku diizinkan untuk selalu bersamamu akan kulakukan. Melepasmu juga Nara adalah mimpi terburuk yang pernah terjadi dalam hidupku. Selama ini, di benakku bertanya-tanya. Kenapa dulu kamu bertahan dengan sikap burukku? Dokter Arsyad mengatakan, jika yang menjadi istriku bukan kamu, mungkin aku sudah ditinggalkan mentah-mentah. Tapi kamu tak melakukannya meskipun kutahu bahwa dirimu mampu. Memilih tetap peduli padaku, menunaikan seluruh kewajibanmu sebagai seorang istri saat sikapku bahkan tak cocok disebut suami.”


Viona mengulas senyumnya. Menyandarkan diri makin merapat pada Bima. “Itu karena aku adalah istrimu Mas. Seorang istri tak boleh pergi meninggalkan rumah tangganya tanpa seizin suaminya. Setelah menikah, aku adalah milik suamiku, bukan milik orang tuaku lagi. Surgaku terletak pada ridhamu. Menikah itu bukan melulu tentang bahagia, tapi lebih tepatnya tentang perjuangan di dalamnya, itulah mengapa pernikahan menjadi salah satu ibadah. Mungkin aku terdengar naif, tapi saat itu aku tetap mempunyai keyakinan, bahwa seburuk-buruknya setiap manusia pasti mempunyai sisi baik di dalamnya, begitu juga dirimu."


“Aku menyesal, pernah bersikap buruk dan abai terhadapmu, aku merasa sangat berdosa.” Suara Bima terdengar serak dan berat sarat akan penyesalan. “Maafkan aku istriku… maafkan aku yang sering membuat mata indahmu dipenuhi air mata.” Bima menenggelamkan diri di ceruk leher Viona dan terisak di sana.


Wanita mungil itu mengubah posisi berbaringnya, membuka kedua tangannya mengundang sang suami untuk masuk kedalam pelukannya. Bima menyusup masuk ke dalam dekapan wanita tercintanya, memeluk erat seakan takut kehilangan lagi.


“Bagiku yang terpenting sekarang adalah Mas belajar dari masa lalu. Kita sama-sama belajar memperbaiki diri, akupun hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa. Kita songsong masa depan bersama dan jangan pernah lelah untuk terus berusaha menjadi manusia yang lebih baik lagi.” Viona mengecup kening Bima lalu mengangsurkan jemarinya di rambut hitam suaminya itu.


Bima sedikit menengadah sambil mengeratkan pelukannya. “Aku sangat mencintaimu, istriku.”


“Aku tahu," jawab Viona yang mengulas senyum lembut lalu menatap mata sendu suaminya yang mengkilap. Lama mereka saling berpandangan, saling menyelami sorot mata masing-masing.


“Kenapa suamiku jadi cengeng begini?” Ia terkekeh dan menggulirkan jemarinya di wajah tampan Bima.


“Mulai sekarang, saat bersamamu biarkan aku menjadi cengeng.”


“Hei, dasar manja. Seperti bayi saja?” sindir Viona.


“Kalau begitu aku ingin menjadi bayimu saja?” Tangan Bima mulai bergerak nakal membelai kulit perut Viona lalu semakin ke atas.


“Yang benar saja! Mana ada bayi yang sudah bisa membuat bayi.” Viona tergelak meluapkan tawa.


“Kalau begitu aku ingin membuatnya lagi,” pinta Bima memelas.


“Membuat apa?” Viona sedikit menjauhkan wajahnya.


“Membuat bayi,” bisiknya sensual.


Tanpa memberi kesempatan untuk menjawab, Bima sudah kembali membungkam bibir ranum Viona, menyeretnya untuk berkubang lagi dalam peleburan bergelora, mengolah dan memupuk ladang agar semakin subur untuk ditanami.