Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Foto Kenangan



Bima memilih menutup pintu dan kembali menyeret langkahnya ke ranjang Nara, memberi ruang serta waktu pada ibu dan anak yang sedang berpelukan di ruang keluarga, ia mengurungkan niatnya untuk keluar dari kamar dan memilih menunggu hingga beberapa menit ke depan.


Ia membaringkan tubuh jangkungnya di tempat tidur Nara, merengkuh buah hatinya yang terlelap dan menghirup aroma Nara sedalam-dalamnya, aroma anaknya yang selalu mampu menenangkannya. Matanya menyapu sekeliling hingga perhatiannya jatuh pada selembar kertas menyembul di bawah boneka beruang coklat yang disimpan di meja nakas samping kanannya.


Menegakkan punggungnya, Bima mengambil kertas yang terselip karena penasaran. Rupanya itu adalah selembar foto, foto dirinya dengan Viona sewaktu berbulan madu di Maldives.


Kristal bening kembali menitik, terenyuh karena ternyata Viona masih menyimpan foto bulan madu mereka dulu, tetapi kemudian dia malah terkekeh saat membaca tulisan berukuran sangat kecil menggunakan huruf tegak bersambung di belakang foto.


Bedebah!


Begitulah tulisannya, dan sudah pasti tulisan itu ditujukan untukknya. Jika orang lain yang mengatainya seperti itu, Bima pasti merasa marah, tetapi ketika Viona yang menuliskannya dia malah tertawa lucu. Cinta membuat segalanya menjadi indah, bahkan tulisan umpatan pun laksana ungkapan sayang baginya.


Bunyi pintu yang didorong membuyarkan lamunannya, Bima menaruh kembali foto tersebut ke tempat semula dan berpura-pura tak mengetahui apapun yang terjadi di ruang keluarga.


Viona masuk dan duduk di tepian tempat tidur. “Maaf, Mas jadi susah pulang lagi karena Nara merajuk,” ucapnya.


“Kalau boleh jujur, sebetulnya aku pun tak mau pulang dan ingin terus memeluk Anakku. Tapi, apa nanti kata orang kalau aku bermalam di sini, hanya menambah bahan untuk dijadikan gunjingan tetangga. Tak rela rasanya jika mereka bergosip miring tentangmu, jadi aku akan bersabar hingga waktunya tiba. Semoga Allah memudahkan jalanku untuk kembali berkumpul dalam ikatan yang utuh dengan kalian.” Bima berkata sambil menatap Nara dan membelai sayang kepala sang anak.


“Aamiin, kita sama-sama berdo’a dan berusaha menghadapi semua rintangan yang menghadang. Semoga, niatan baik kita dilancarkan. Sudah pukul sepuluh, Mas pulanglah dan beristirahat, jaga kesehatan jangan sampai sakit seperti terakhir kali.” Viona mengulas senyumnya dan menatap penuh kerinduan yang dibalas sama oleh nerta kelam Bima yang juga menyiratkan hal serupa.


Bima mengangguk, mengecup Nara kembali lalu keluar dari kamar dan berpamitan pulang pada Rima. Viona mengantar hingga ke halaman, keduanya hanya saling menatap penuh cinta sebelum berpisah, menahan diri dari keinginan saling memeluk satu sama lain. Viona melambaikan tangan begitu mobil mantan suaminya melaju meningalkan rumahnya.


Mobil mercy hitam itu tak mengambil jalur ke apartemen, Bima memutuskan untuk datang ke rumah orang tuanya, ia memacu kendaraanya lebih cepat, semoga kedua orang tuanya masih terjaga.


“Assalamualaikum.” Bima masuk ke dalam rumah besar bercat krem nude itu.


“Wa’alaikumsalam. Annisa yang baru saja hendak naik ke lantai dua menghentikan langkah begitu mendengar suara putranya. Ia berbalik dan menghambur menyambut Bima, memeluk putra semata wayangnya.


“Kamu kemana saja, bagaimana kabarmu Bim?” Annisa mengusap sayang kepala Bima lembut.


“Aku sibuk berjuang untuk menyatukan kembali kembali keluarga kecilku,” jawabnya diiringi seulas senyum tampannya.


“Papa kemana, Ma?”


“Papa masih di ruang kerja, ada apa? Sepertinya ada hal yang sangat penting sampai kamu datang larut malam begini?” tanya Annisa.


“Aku ingin berbincang tentang sesuatu dengan Mama dan Papa. Ini tentangku, Viona juga Nara.”


“Apakah ini kabar baik?” Annisa tersenyum lebar.


“Belum sepenuhnya Ma, maka dari itu aku datang kemari untuk memohon sesuatu. Bisa tolong panggilkan Papa?” pinta Bima.


“Tunggu di sini, Mama panggilkan Papamu.”