
Memasuki waktu pukul delapan malam Bima baru kembali ke hotel. Ia langsung tancap gas begitu seluruh rangkaian acara inti selesai. Rekan-rekan dan para panitia mengadakan acara tambahan untuk sekadar berbincang santai, tetapi Bima memilih berpamitan lebih awal dan tak ingin berlama-lama lagi di sana lantaran dirinya sudah rindu pada Viona. Dimabuk cinta sungguh berjuta rasanya, inginnya terus berdekatan setiap saat.
Begitu masuk ke kamar hotel tempatnya menginap, Viona yang terkantuk-kantuk menyambutnya. Istrinya tampak cantik dalam balutan gaun tidur warna putih selutut, juga menggemaskan karena kelopak mata beratnya yang ingin memejam terus saja mengatup meski Viona berusaha membukanya.
Bima terkekeh dan merangkul Viona ke dalam dekapannya. Berjalan bersama ke sisi tempat tidur dan duduk di sana. “Kalau ngantuk kenapa nggak tidur duluan? Tak usah menungguku.”
Viona yang bersandar di pelukan Bima menengadah dalam kantuk beratnya. “Tapi aku ingin melihat wajah suamiku dulu sebelum menyerah dalam lelap,” ucapnya manja. Viona meraba sisi wajah Bima dan membelainya penuh sayang.
Kedua sudut bibir lelaki tampan itu tertarik ke atas. Penatnya mulai rontok seinci demi seinci terbasuh luapan rasa cinta kala pujaan hatinya bermanja padanya, merasa dibutuhkan dan diinginkan.
“Sekarang kan sudah lihat, jadi tidurlah hmm.” Bima mengelus-elus lengan Viona hingga siku secara berulang dan mengecup pipinya mesra.
“Sepertinya malam ini acara berkebun harus diliburkan dulu, wahai Pak Tani. Maaf Mas, aku luar biasa mengantuk,” gumam Viona pelan dengan mata memejam, lalu mnenggelamkan diri menghidu aroma lelakinya, aroma yang selalu membuatnya merasa begitu hidup.
Bima tertawa kecil, istrinya ini bertambah menggemaskan saja setiap harinya. “Tidurlah, sayang. Kita bisa bercocok tanam di ladang besok pagi bukan? Angap saja sebagai olahraga pagi juga menu pembuka sarapan,” goda Bima diiringi tawa.
Kekehan lemah berderai dari mulut Viona, bersandar lebih merapat ke dalam dekapan Bima, menyerap rasa aman dan tertram dari lelaki tercintanya sebagai pengantar tidurnya.
“Apa besok ada waktu senggang? Aku ingin berjalan-jalan di pantai sambil bergandengan tangan dengan suamiku sambil menikmati suasana sore matahari terbenam.” Viona berucap dengan mata memejam, kesadarannya mulai timbul tenggelam efek dari kantuk yang menderanya.
“Besok acaranya tidak terlalu padat, setelah selesai memantau pameran aku akan segera kembali, dan menemani kemanapaun ratuku ingin pergi.”
Senyum merekah menghiasi wajah Viona, di menit kemudian embusan napasnya berangsur halus teratur, ternyata Viona sudah terjatuh dalam lelap.
Bima mengerti, istrinya butuh memulihkan kondisi sebelum kembali mengolah ladang walaupun rasanya tak pernah bosan untuk mengolah dan menebar. Hari ini dia pun luar biasa lelah, energi otak dan tubuhnya lumayan terkuras, jadi sepertinya malam ini sebaiknya dipergunakan untuk istirahat sebaik-baiknya.
Saat dirasa Viona sudah benar-benar terbuai kantuknya. Bima menggendongnya dan membaringkannya ke atas ranjang sepelan mungkin dan menyelimutinya. Ia lalu beranjak membasuh diri dan berganti pakaian kemudian ikut bergabung ke peraduan. Menyelinap ke dalam selimut, menarik tubuh hangat nan harum favoritnya untuk dipeluk dan menyusul berlari ke alam mimpi.
Di pagi buta, sekertaris Yoga yang lebih akrab disapa Nia itu beringsut dari ranjang di apartemen bosnya setelah dilecehkan tanpa henti dan tak diberikan hak beristirahat semalaman penuh dengan perlakuan yang tak beradab.
Di sebelahnya tampak Yoga yang terlelap dalam keadan bertelanjang dada setelah puas melampiaskan kekesalannya lantaran satu persatu mitra yang bekerja sama dengannya mulai menarik produk dan meminta pembatalan kerjasama.
Mereka lebih memilih membayar kompensasi daripada melanjutkan kerjasama. Sauangnya angka kompensasi pembatalan yang dulu disepakati dengan perusahaan-perusahaan besar hanya berjumlah sedikit demi menarik minat. Beda lagi dengan kesepakatan yang dibuatnya untuk para pelaku usaha kecil dan menengah, ia memasang angka dana pembatalan yang cukup tinggi yang pasti membuat mereka berpikir lagi berulang kali jika ingin memutus kerjasama, sehingga mau tak mau meerka mengikuti saja kebijakan *H*omeshopping yang terasa makin mencekik dari hari ke hari.
Yoga kalang kabut dengan apa yang terjadi di hari kemarin. Mendadak saja banyak mitra besar yang mengajukan pembatalan, padahal sebelum-sebelumnya ia dapat menutupi perihal Sinar Abadi Grup yang sudah tak lagi mempunyai hubungan kerjasama dengannya, tetapi sepertinya kini mereka sudah mengetahuinya entah dari mana informasi itu bocor padahal sudah ditutupi serapat mungkin.
Yoga juga mewanti pada sekertaris dan pegawainya agar jangan sampai pihak bank pun mencium kemelut yang melanda perusahaan yang dipimpinnya.
Terbakar amarah, Ia mengumpat dan melempar barang-barang di kantornya. Hingga akhirnya seperti biasa Nia lah yang menjadi sasaran, setengah diseret paksa ke apartemennya yang sudah pasti berakhir di atas ranjang nista sang bos tanpa bisa melawan. Setiap kali Yoga merasa tak senang ataupun tersulut amarah, Nia lah yang menaggung segala kekesalannya.
Terdapat lebam-lebam di beberapa bagian tubuhnya akibat ulah Yoga yang bermain kasar. Nia meringis-ringis menyeret langkah menuju kamar mandi dengan tubuh terbungkus selimut. Ia hanya dijadikan alat pelampiasan seumpama boneka oleh bosnya, tak bisa pergi meskipun ingin, karena Yoga merantainya dengan ancaman.
Sejujurnya Nia sudah tak tahan lagi, ingin rasanya ia kabur dan melarikan diri sejauh mungkin. Akan tetapi jika melakukannya, maka Yoga mengancam akan menyebarkan video tak senonoh mereka yang direkam Yoga diam-diam setahum lalu. Ia belum siap dihakimi khalayak, terlebih lagi jika orang tuanya yang sakit-sakitan di kampung tahu perihal hal tak bermoral tersebut, entah apa yang akan terjadi nantinya. Nia tak sanggup membayangkan dan menanggung kekecewaan orang tuanya.
Nia yang polos dan lugu, terjebak dalam permainan dan perangkap brengsek Yoga kala itu. Ia lengah dan terlalu larut dalam pesona si buaya darat yang ternyata beracun. Umpannya memang manis, tetapi ternyata aslinya berbisa, membuatnya tak mampu membebaskan diri dari belenggu yang dibelitkan Yoga di lehernya hingga sekarang.
Menatap dirinya yang menyedihkan di dalam cermin. Nia merasa jijik terhadap tubuhnya sendiri, merasa kotor di mana-mana lantaran tak kuasa menolak kala tangan kotor Yoga menjamahnya. Menangis dalam diam meratapi nasib seraya menggigit bibirnya kuat-kuat agar isakan menyakitkannya tak menyembur keluar.
Sampai kapan aku harus begini? Jika lebih lama lagi aku akan kehilangan kewarasanku. Apakah masih ada jalan agar aku terbebas dari belenggu hitam ini? Jeritnya dalam hati.
Menyalakan shower lalu berdiri di bawahnya, ia menengadah membiarkan air menyirami dirinya yang penuh noda, bersama air mata yang ikut luruh mengalir diiringi jeritan perih dari kalbunya yang pilu.