Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Siuman



Para orang tua membujuk si kecil Nara untuk tidak tinggal di rumah sakit. Awalnya bocah lucu itu merengek, tetapi setelah diperbolehkan memeluk sebentar dan mengecup ayahnya yang masih memejamkan mata, akhirnya ia setuju ditambah bujukan lainnya yang dilancarkan.


Nara dibawa pulang oleh Rima lantaran khawatir jatuh sakit jika ikut menginap di rumah sakit. Mengingat usia Nara masih rentan terhadap kuman penyakit kendati ruangan sudah dalam keadaan steril. Abdul, Malik juga Adrian mengurus segala kelengkapan untuk diserahkan kepada pihak berwajib guna memperkuat bukti agar Yoga mendapat hukuman seberat-beratnya. Sedangkan Annisa menemani Viona di rumah sakit untuk menunggui Bima.


Viona menarik kursi sedekat mungkin ke sisi ranjang Bima dan duduk di sana. Kalbunya terus bertasbih, tak henti memanjatkan do’a untuk sang suami yang masih juga belum siuman.


“Makanlah, Nak. ini sudah hampir pukul sepuluh malam dan Mama perhatikan kamu belum makan sejak tadi.”


Annisa membuka tempat makanan berupa termos yang dikirimkan pelayan rumahnya ke rumah sakit. Isinya adalah sup krim kentang panas, di wadah lain ada juga salad buah komplit dengan taburan keju cheddar di atasnya. Dia tak ingin menantunya yang tengah bersedih dan tertekan sampai melupakan asupan nutrisinya dan jatuh sakit, mengingat kini Viona tengah berbadan dua. Butuh asupan ekstra agar ibu dan janin yang dikandungnya selalu dalam keadaan sehat.


“Aku nggak lapar, Ma,” sahut Viona pelan tanpa megalihkan pandangannya dari Bima.


Annisa menghela napas. Menatap penuh pemakluman pada Viona yang pasti masih terguncang. Ia beranjak dari duduknya dan ikut mendekat ke sisi ranjang.


“Paksakan makan ya, sedikit saja. Ingat bayi dalam kandunganmu butuh nutrisi. Kalau kamu sayang pada Bima, kamu juga harus menyayangi dirimu sendiri,” ucap Annisa lembut.


“Mama tak menyalahkanku atas semua kejadian buruk yang menimpa Mas Bima?” tanya Viona, matanya kembali berkaca-kaca. Kesedihan dan rasa bersalah masih merajai sanubarinya, bak banjir bandang dahsyat yang menyapu daratan dan meluluhlantakkan tanpa ampun.


“Kita kadang tak bisa mengendalikan takdir. Manusia hanya punya rencana, akan tetapi semua hal baik maupun buruk yang terjadi sepenuhnya berada dalam kuasa Allah. Sebaik dan sesempurna apa pun kita merencankan kehidupan, ada kalanya tidak selalu sesuai harapan. Mama yakin, selalu terdapat hikmah baik dari setiap kejadian, semata-mata untuk menjadikan kita pribadi yang semakin dekat kepada Sang Pencipta,” hiburnya lembut penuh kasih sayang.


“Aku merasa berdosa pada suamiku, Ma. Aku takut terjadi efek buruk lain pada Mas Bima di kemudian hari imbas dari kejadian ini. baru memikirkannya saja hatiku sakit dan rasa bersalahku makin menggunung.” Buliran air mata kembali membasahi wajah cantiknya, meluncur bebas begitu deras cerminan kesedihan mendalam.


“Mungkin takdir memang memilih Bima yang berbaring di ranjang ini. Coba pikirkan baik-baik. Jika di balik, maka kini Bima lah yang akan terpuruk melihatmu terbaring lemah. Dan dia akan merasa lebih buruk lantaran beban lain ditumpahkan di pundaknya, beban rasa tak mampu menjadi seorang suami yang melindungi istrinya. Bima sangat mencintai dan menyayangimu, untuk itulah kamu juga harus menyayangi dirimu sendiri, jangan biarkan pengorbanan Bima untuk melindungi dan memastikanmu baik-baik saja menjadi sia-sia. Kuatlah, Sayang. Dia pasti sedih jika tahu istrinya tak peduli pada diri sendiri. Mama percaya, kamu adalah wanita tangguh dan Bima pasti merasa bahagia telah mampu menjadi suami yang melindungi istrinya.”


"Benarkah begitu, Ma?" tanyanya ragu. Viona masih dalam mental terguncang, butuh dikuatkan dan diyakinkan. Raut kengerian masih berlalu lalang di benaknya. Bagaimana tidak, ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri Bima dipukuli hingga babak belur tanpa perlawanan.


"Iya, Nak. Tetaplah jaga kondisimu, ini juga demi Bima."


Setelah mendengar perkataan mertuanya, Viona termenung sejenak. Menghela napas dan mengusap air mata dengan punggung tangannya. Ia menoleh pada Annisa. “Aku ingin makan, Ma. Agar Mas Bima tidak sedih,” pintanya dengan seulas senyum getir.


“Ayo, Mama suapi.”


*****


Malam sunyi berpadu langit gelap merayu setiap insan untuk sejenak berhenti dari hiruk-pikuknya aktivitas. Heningnya memberi peringatan agar setiap manusia yang masih membuka mata supaya memberikan hak tubuh masing-masing untuk beristirahat.


Dalam posisi duduk, Viona memejamkan mata di sisi ranjang Bima berbantalkan kedua lengannya yang bersedekap sedangkan Annisa tidur di sofa. Ibu mertuanya sudah meminta Viona untuk merebahkan diri di sofa, tetapi wanita yang tengah hamil itu memilih tidur dalam posisi duduk tak ingin berjauhan dengan lelakinya.


Viona menekan bel yang berfungsi memanggil perawat saat mendapati cairan infus sudah hampir habis. Dua perawat jaga malam datang tak berselang lama, dengan cekatan dan terampil para perawat mengganti ampul yang lama dengan ampul infus baru, tak lupa memeriksa beberapa alat lain yang menempel di tubuh Bima memastikan semuanya dalam kondisi terpasang dengan baik. Mereka berpamitan keluar ruangan setelah selesai mengerjakan tugasnya.


Dielusnya dengan lembut lengan sang suami. Tangan halus berjemari kentik itu menyusuri merasakan hawa panas dari raga lelakinya yang menyapa permukaan kulitnya. “Kenapa masih belum bangun juga? Apa Mas tak mau melihat wajahku lagi,” bisiknya pelan ke telinga Bima disertai tatapan yang terus saja menyendu lalu ia menunduk.


Sebuah erangan pelan mengalihkan fokus Viona. Tampak pergerakan dari Bima yang mengerutkan keningnya samar disusul jari jemarinya yang ikut bergerak menandakan Bima mulai siuman. Viona terkesiap, ia bangkit dan mengamati reaksi tubuh suaminya dengan saksama. Kelopak mata Bima ikut bergerak juga, lalu perlahan mengerjap beberapa saat sebelum terbuka sempurna.


“Mas,” panggil Viona dalam rasa lega yang nyata, senyuman haru tercetak jelas di wajahnya. “Mas Bima. Alhamdulillah, akhirnya Mas siuman juga,” imbuhnya lagi sementara yang diajak bicara masih seperti orang linglung.


“Mmhh,” desah Bima yang malah kembali memejamkan mata bukannya menyapa Viona.


“Mas, maafkan aku … sungguh maafkan aku. Karena aku Mas tertimpa hal buruk semacam ini,” ucap Viona dengan suara bergetar menahan isakan.


Dengan gerakan hati-hati agar tidak menganggu kinerja peralatan medis yang menempel di tubuh Bima. Viona memeluknya, menumpahkan segala rasa yang bercokol tak nyaman di jantungnya.


Bima memang sudah membuka mata, tetapi ia tak bereaksi apapun ketika Viona menangis merapat di dadanya. Viona yang tak merasakan respons suaminya mengangkat wajah dari sisi dada Bima, khawatir gerakan spontannya menganggu kenyamanan Bima.


“Maaf, apa aku menyakitimu, Mas?” tanya Viona panik.


Bima memandang lurus masih tanpa mengucap satu patah kata pun. Ia menatap Viona dengan ekspresi datar.


"Mas, ke-kenapa? A-ada apa?" Viona kembali dilanda serangan panik. "Aku akan memanggil dokter jaga."


Viona hendak menekan tombol di sisi ranjang. Gerakannya terhenti kala Bima bersuara dengan kalimat yang membuatnya membeku seketika.


"Siapa Anda?"


*****


Author note.


Halo pembacaku tersayang. Terima kasih selalu setia menantikan kisah Bima dan Viona. Bagi yang aplikasinya sudah di update, vote sekarang bukan hanya memakai poin dan koin melalui kolom hadiah saja, juga bisa vote dengan kupon mingguan untuk mendukung cerita kesayanganmu. Jangan lupa selalu tinggalkan jejak setelah membaca berupa dukungan melalui like, komentar, kolom hadiah poin dan vote kupon untuk Mas Bima dan Viona, thank you all💕😘.


Follow juga Instagramku @Senjahari2412 untuk mengetahui info-info seputar cerita yang kutulis.