
Suara alarm dari ponsel berbunyi nyaring. Seperti biasanya Viona memasang alarm tiga puluh menit sebelum adzan subuh berkumandang. Beringsut turun dari tempat tidur, Viona menyalakan lampu dan bermaksud ke kamar mandi. Lalu ia teringat sesuatu, kalau tidak salah dini hari tadi Bima datang dan tidur di mobil setelah ia mengirimi pesan yang mengandung kerinduan terselubung di dalamnya, atau mungkin itu hanya mimpi?
Kaki jenjangnya berlari menuju jendela dan menyibak goden dalam satu tarikan. Ternyata memang benar, semalam itu bukanlah mimpi ataupun halusinasi semata, di halaman rumahnya mobil Bima masih terparkir di sana.
Selintas pikirannya tertuju pada Hana. Sebetulnya ada hubungan apa di antara dua orang itu? Akhir-akhir ini Viona sering mendapati mereka tengah bersama secara tak sengaja. Kalau memang mereka dalam suatu hubungan, kenapa Bima bahkan datang secepat kilat semalam? Jika begini, bisakah ia menyimpulkan bahwa bagi Bima dirinya masih sangatlah penting? Bolehkah ia kembali menggugah asanya.
Bima memanglah bukan laki-laki sempurna tanpa cela, bahkan pernah menggoreskan luka. Namun, tahukah kamu mengapa goresan luka di hati bisa terasa teramat sakit? Itu karena yang menorehkannya adalah orang yang paling kita cintai. Seumpama pepatah zaman dulu, benci dan cinta batasnya hanya setipis kulit bawang.
“Duuh kenapa wajahku panas sih.” Viona meletakkan tangannya meraba pipinya berulang kali, tersentuh karena Bima rela tidur di luar di dalam mobil hanya demi memenuhi permintaan isengnya.
Viona membasuh muka dengan cepat, bergegas keluar dari kamarnya lalu membuka kunci pintu depan dan keluar ke halaman.
“Mas… Mas Bima. Udah mau subuh, bangun.” Viona mengetuk-ngetuk kaca mobil.
“Mmhh… Oh iya Vi." Bima menegakkan kursi, mengusap wajahnya dan terdiam sejenak menyesuaikan kesadarannya yang baru saja terbetot dari alam mimpi. Ia membuka pintu lalu turun dan berdiri di hadapan Viona.
“Makasih udah di bangunin. Masuk lagi saja, aku mau pulang, mumpung azdan belum berkumandang.” Bima mengulas senyum lalu membuka kembali pintu mobilnya, pergerakannya terhenti kala Viona menahan lengannya.
“Ehm… gimana kalau shalat dulu di sini aja? Sekalian sarapan. Barulah pulang,” tawar Viona sembari mengusap-usap tengkuknya merasa canggung.
Hei, bisakah Mas Bima berhenti menyebutkan tentang semalam? Itu benar-benar memalukan! umpatnya dalam hati.
“Lagian aku kan Cuma bercanda, Mas aja yang terlalu serius. Tapi kalau nggak mau juga nggak apa-apa. Gak maksa kok.” Viona memasang wajah cemberut berusaha menutupi kegugupan juga rasa malunya.
“Siapa bilang nggak mau, lagipula aku juga kangen sarapan buatanmu, Bunda,” jawabnya sengaja disusul kekehan, kemudian melenggang masuk setelah menutup pintu mobilnya diikuti Viona yang menundukkan wajah diliputi rasa malu.
“Mas bisa shalat di kamar tamu, ini sajadahnya.” Viona menyerahkan sajadah ke tangan Bima.
“Boleh pinjam handuk? Kalau boleh aku mau sekalian numpang mandi. Hari ini ada jadwal rapat pagi, jadi setelah sarapan aku bisa langsung berangkat ke perusahaan.”
“Tapi tentang baju ganti gimana?” tanya VIona.
“Itu biar Adrian yang mengurus, aku tinggal memintanya ke apartemen dan membawakan pakaian gantiku ke kantor,” jelas Bima.
“Handuk bersih ada di kamar tamu. Di lemari laci dekat pintu kamar mandinya. Kalau gitu aku ke kamarku dulu ya, Mas."
“Iya Vi.”