
Abdul dan Juna bercengkerama di ruang tamu membahas banyak hal termasuk masalah bisnis. Di tengah perbincangan mereka, tak lama terdengar suara Ibel yang memberi salam dan masuk ke dalam rumah.
Sambutan hangat terucap dari Abdul, ia sangat respect dengan sosok Ibel yang sejak dulu selalu setia menjadi sahabat putrinya bahkan dalam saat-saat terburuk Viona sekalipun. Ibel langsung ikut bergabung menyapa Juna juga Abdul dan setelah beberapa saat mendadak Abdul mengajukan sebuah ide.
“Ini kan akhir pekan. Kalau kalian ada waktu, cobalah ajak Viona keluar rumah, seperti makan siang di luar mungkin? Om khawatir dia terpuruk jika terus menerus dibiarkan berlarut dalam kesedihannya. Om dan Tante sudah sering mencoba mengajaknya pergi keluar untuk sekedar berjalan-jalan, tapi Viona selalu menolak,” usul Abdul penuh harap.
“Wah, ide bagus Om. Gimana Jun?” Ibel menepuk lengan Juna yang duduk tak jauh darinya.
“Aku sih oke. Tapi siapa yang akan membujuknya? kamu tahu sendiri kan, Viona sekarang seperti berusaha menutup diri dari sekitar,” sahut Juna sangsi.
“Serahkan padaku, biar aku yang mencobanya.” Ibel mengepalkan tangannya penuh keyakinan. “Sekarang Vionanya di mana Om?” tanya Ibel.
“Ada di kamarnya, sedang menidurkan Nara.”
Tanpa basa basi lagi, dengan bersemangat Ibel segera beranjak menuju kamar Viona. Ibel mengetuk beberapa kali dan menunggu di depan pintu, lima menit berlalu belum ada tanda-tanda Viona membuka dari dalam, Rima yang melihatnya melangkah menghampiri.
“Langsung masuk aja Bel.” Rima mendorong pintu warna putih bertuliskan Viona’s room di bagian depannya.
Ibel melangkah masuk sedangkan Rima ikut bergabung ke ruang tamu. Dilihatnya Viona duduk di kursi empuk yang menghadap jendela dengan Nara dipangkuannya. Bayi lucu itu sudah tertidur, sedangkan yang menggendongnya tengah melamun, matanya tampak kosong menatap nanar keluar jendela.
“Hey, jangan ngelamun. Ntar kesambet wewe gombel kan nggak lucu.” Ibel memasang senyuman dengan wajah riang berharap semua itu bisa menghibur sahabatnya yang tengah dalam perundungan.
“Nggak kok, siapa yang ngelamun? gue cuma agak ngantuk dikit,” sangkal Viona yang kemudian mengusap wajahnya sekilas.
“Jam segini kok ngantuk sih. Nggak asik ah. Mending kita makan siang di luar yuk, daripada lo tidur mulu, ntar gendut lho nggak punya pinggang,” goda Ibel yang kemudian duduk di tepian ranjang sembari mengibaskan rambut panjangnya penuh energi khas para model iklan shampoo.
“Ah i-itu… gue, gue makan di rumah aja.” tolaknya halus seraya membuang pandangan.
“Vi, mau sampai kapan lo kayak gini? jangan nyiksa diri terus. Kasihan Nara, lo kudu kuat.”
“Entahlah, gue gak tahu. Rasanya masih takut akan tanggapan orang-orang sekitar tentang Mas Bima.” Viona menjalinkan jari-jemarinya gusar.
“Tapi mau sampai kapan? jangan jadi pengecut yang bersembunyi dan menghindar, lo pasti bisa menghadapi dunia lagi. Demi Nara. Kalu nggak mulai dari sekarang, hingga ujung waktu pun lo nggak akan pernah siap.” Ibel terus berusaha membujuk Viona.
Viona tercenung, dia tampak berpikir mempertimbangkan saran Ibel. Inginnya dia begini saja, menjadi pecundang, terdiam damai dalam kamar membentengi diri dari sentuhan dunia luar juga embusan komentar tak sedap.
Akan tetapi sesaat kemudian air mukanya berubah. “Ayo bel, kita makan di luar,” ajaknya antusias.