
Gemericik hujan membasahi, air langit jatuh menyentuh bumi, seumpama ikut bersedih menangisi, memeluk anak manusia yang tengah menjerit perih akan remuknya sang hati.
Juna berdiri menatap keluar jendela dari kamar perawatan Viona yang berada di lantai empat. Hari semakin gelap pekat, hanya dihiasi kelap kelip semaraknya lampu-lampu kota. Ia melirik arloji yang melingkar di tangan kirinya, ternyata waktu hampir menjelang tengah malam.
Dilihatnya Abdul yang meringkuk di atas sofa, baru saja tertidur satu jam lalu setelah Juna membujuknya untuk beristirahat, meyakinkannya bahwa dia akan menjaga Viona sebaik-baiknya. Lalu matanya beralih ke ranjang pesakitan di sebelah kanan ruangan, tampak Viona masih memejamkan mata kendati wajahnya sudah tak sepucat tadi.
Puas melihat pemandangan malam kota Bandung, Juna kembali menarik kursi dan duduk di dekat ranjang VIona. Ditatapnya cukup lama wajah wanita yang terbaring lemah itu, hatinya meringis perih karena setelah diperhatikan dengan baik dari jarak sedekat ini, ternyata Viona semakin kurus dari hari ke hari.
Tangannya terulur hendak menyentuh lengan Viona, tetapi dia mengurungkannya dan menarik kembali tangannya dari sana. “Sebenarnya apa yang membuatmu pingsan, Vi?” gumam Juna lirih.
Perlahan mata Viona mengerjap, jemarinya juga ikut bergerak perlahan. Secara refleks Juna menggenggam tangan Viona dan tersenyum lega. “Viona….”
Akan tetapi, mendadak Viona malah menjerit histeris. “Jangan ceraikan aku Mas, jangan ceraikan aku. Kumohon!" Dia menarik tangan Juna dan menggenggamnya erat seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
“PIkirkan lagi Mas, kalau kita berpisah bagaimana dengan Nara… anak kita membutuhkanmu Mas. Nara butuh ayahnya!” racau Viona menjerit-jerit dan meraung disusul tangis melengking memilukan. Dia mengira lelaki yang ada di hadapannya adalah Bima.
Juna bangkit dari kursi, berpindah duduk ke tepian ranjang dan sedikit membungkuk, tangannya meraih bahu Viona dan mengguncangnya lembut. “Vi, tenanglah. Ini aku.” Juna mencoba bersuara, tetapi sepertinya Viona masih dibalut shock lantaran dijatuhi talak secara tiba-tiba.
“Jangan begini Mas kumohon. Demi Nara hiks hiks.” Viona mencengkeram kemeja Juna dan terisak isak.
“Vi, Viona… ini aku Juna, Arjuna.” Netra teduh Juna bergulir menatap dalam ke bola mata basah di hadapannya.
Kesadaran perlahan berkumpul di kepala Viona, tangannya berangsur melepaskan kemeja Juna, mengerjapkan mata agar pandangnnya kembali normal, sosok dihadapannya yang tadi membias, kini terlihat jelas.
“Juna,” lirihnya masih dalam sedu sedannya.
“Ya, ini aku Vi.”
Viona mencoba bangun dan Juna segera membantunya, buliran-buliran bening itu tak kunjung surut, cerminan perasannya yang hancur remuk redam. Juna masih duduk di tepian ranjang menatap Viona yang dibanjiri air mata. Namun, tanpa disangka Viona menubruk dadanya dan menangis meraung di sana. Tangisannya menyayat hati, mengiris sunyi.
Tangan Juna gatal ingin sekali merengkuh tubuh rapuh yang menangis itu, ingin memeluknya dan menenggelamkannya ke dalam dekapannya, ingin menenangkannya dalam balutan rasa cinta yang penuh sesak di jiwanya.
Juna membiarkan Viona menumpahkan tangis di dadanya, dia mati-matian menahan diri menguatkan perasaannya supaya pikirannya tetap terkendali. Meskipun Juna mencintai Viona dalam diam, tetapi Viona tetaplah wanita bersuami.
Kendati mereka sudah bersahabat sejak lama, Juna tak ingin sembarangan memeluknya walaupun dalam keadaan darurat, tak ingin citra baiknya tercoreng menjadi lelaki kurang ajar. Akhirnya sebelah tangannya terulur dan hanya menepuk-nepuk lembut punggung Viona yang berguncang hebat.