Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Kalian Berhak Bahagia



Tergesa-gesa, Viona masuk kembali ke dalam rumah dan menelepon Bik Yati agar segera membawa Nara pulang dari tempat les bimba lebih awal. Seminggu tiga kali Nara mengikuti les yang tempatnya tak begitu jauh dari rumah.


Dalam waktu lima belas menit, mobil Honda jazz warna merah yang membawa Bik Yati sudah sampai bersama Nara juga sopir. Ia melihat Viona mondar-mandir di halaman rumah sambil sesekali menggigiti kukunya.


“Ada apa Nyonya?”


“Ayo Bik bawa Nara, kita ke rumah ibu sekarang juga.” Viona langsung mengambil kunci mobil disusul Bik Yati di belakangnya, sedang si sopir diminta menunggui rumah saja.


“Apa Nyonya besar sakit?” tanya Bik Yati penasaran sekaligus khawatir.


“Nenek Rima kenapa Bunda?” si kecil Nara juga ikut menimpali, bocah itu duduk di sebelah Viona masih membawa tas gendong warna pink di punggungnya.


“Nenek nggak sakit. Kita cuma mau main aja ke rumah Nenek kok,” sahut Viona berusaha menjawab putrinya setenang mungkin, menyembunyikan keresahan yang tengah berkecamuk di dadanya.


“Ada hal darurat Bik, ini tentang nasib hidupku ke depannya.”


Viona yang duduk di kursi kemudi menarik seat belt dan memakainya, sebelum menekan tombol start di mobilnya, ia menghentikan pergerakannya. Pikirannya kalut, haruskah ia juga memberi tahu Bima tentang masalah ini?


Setelah menimbang beberapa saat, Viona akhirnya mengirim pesan teks pada Bima, juga memintanya datang ke rumah ayah dan ibunya, memintanya membantu membujuk Abdul agar tidak melanjutkan rencana yang tak pernah diinginkannya.


Sedan BMW itu diparkirkan serampangan, Viona setengah berlari memasuki rumah orang tuanya hingga bertabrakan dengan ibunya yang baru saja keluar dari kamar.


“Ibu… di mana Ayah? Tolong aku harus bicara padanya. Ayah berencana mempercepat waktu pertunangan dari yang sudah ditentukan sebelumnya. Aku nggak mau bertunangan dengan Juna Bu, tolong aku….”


“Apa? di-dimajukan. Ibu sama sekali tidak tahu-menahu tentang hal ini, kenapa sekarang ayahmu tak pernah berunding dengan Ibu kala memutuskan sesuatu yang berkaitan denganmu?" Rima tampak emosi serta kecewa, Viona juga anaknya, bukan hanya anak Abdul. Dia juga berhak diajak berunding tentang segala sesuatu yang diputuskan Abdul untuk putrinya.


“Aku harus bagaimana Bu? Ayah sama sekali tak mau mendengarkanku.” Viona meratap pilu.


“Tenanglah sayang. Kita bicara pada Ayahmu bersama-sama. Duduklah dulu, Ayah masih di kamar mandi.” Rima mengangkat bahu Viona agar berdiri dan menuntunnya untuk duduk di sofa di ruang tengah.


Nara sejak tadi masih tak mengerti kenapa bundanya menangis meraung-raung, bocah itu berdiri termenung memperhatikan dari ruang tamu, sedang Bik Yati segera ke belakang tak ingin ikut campur terlalu jauh karena, dia cukup tahu diri dengan statusnya di keluarga besar itu.


Nara yang sepertinya masih kebingungan akan situasi di sekitarnya menoleh keluar kala mendengar deru mesin mobil yang sangat disukainya, mobil Chevrolet Camaro milik Bima.


“Ayaaaah….” Nara menghambur keluar dan berjingkrak senang. Seperti biasa ia langsung meminta digendong.


Rima dan Viona juga menoleh ke arah pintu di mana Bima muncul dengan Nara dalam gendongannya, tanpa berbasa basi Viona bangkit dan menghambur menubruk dada Bima lalu memeluknya erat, tak peduli lagi pada sekitar ia hanya ingin berlindung di sana, mencari ketenangan dari laki-laki yang kini juga balas memeluknya.


“Sshhh… jangan menangis, hmm. Kita bicara baik-baik pada Ayahmu, situasi menjadi rumyam seperti sekarang ini pun tak luput dari kekhilafanku dulu.” Bima mengusap-usap punggung Viona yang berguncang menumpahkan tangis.


Rima ikut mendekat, sungguh tak tega rasanya jika harus memaksa Viona menjauh dari Bima. Bukankah dulu kebersamaan Viona dan Bima juga ada andil dirinya di dalamnya, lantas ketika bertumbuh rasa yang bernama cinta di hati mereka, tegakah ia memisahkannya?


Semua manusia tak luput dari kesalahan, bukan hanya Bima. Rima tak bisa serta merta menutup mata melihat pemandangan di depannya, apalagi Bima berusaha keras memperbaiki dan memantaskan diri untuk menjadi ayah juga suami yang baik, membuat sudut hatinya terenyuh dan menghangat.


“Bim, makasih sudah datang. Kita sama-sama bicara pada Ayah. kalian berhak bahagia. Ibu yakin, dalam setiap permasalahan pasti selalu ada jalan keluarnya."