
Setelah hampir satu jam berlalu, pintu berwarna putih di hadapan Viona pun terbuka dan seorang dokter keluar dari sana. Dengan tak sabaran Viona menyemburkan kalimatnya segera.
“Dokter, bagaimana keadaan suami saya?” tanyanya dengan nada luar biasa kuatir.
“Begini Nyonya, setelah kami periksa secara menyeluruh, kondisi Pak Bima lebih dominan dengan luka luar. Beruntung benturan yang mengenai kepala belakangnya tidak terlalu fatal meski kemungkinan menyebabkan gegar otak ringan, kami baru bisa mendiagnosa pasti mengenai perkiraan gegar otak ringan saat nanti Pak Bima siuman karena sampai sekarang beliau masih tak sadarkan diri. Sepertinya efek dari darah yang keluar cukup banyak. Hanya saja ada cedera yang cukup parah yaitu kondisi tulang bahunya patah. Untuk itu kami harus melakukan tindakan operasi sebagai upaya prosedur pemasangan pen di tulang yang patah. Kami butuh izin dari keluarga untuk melaksanakan prosedur tersebut, lebih cepat lebih baik,” jelas dokter secara terperinci.
Viona nyaris terjengkang ke belakang jika Adrian tidak sigap menyangga tubuhnya. Viona merasakan kakinya tak bertenaga. Meski dokter mengatakan demikian, akan tetapi ketika mendengar kata operasi seluruh tubuhnya terasa lemas. Bukankah itu artinya suaminya memang terluka parah dan penyebab itu semua adalah dirinya. Viona terus menyalahkan diri, dilingkupi kesedihan tak terperi.
“Dokter, lakukan yang terbaik untuk menolong suami saya. Lakukan yang terbaik,” mohon Viona parau dengan bibir gemetar.
“Kami pasti selalu mengusahakan yang terbaik. Tapi perlu diingat, setiap prosedur operasi diiringi risiko di dalamnya. Semua kembali pada kehendak Yang Mahakuasa. Kami sebagai dokter hanyalah perantara. Berdo’alah Nyonya, agar operasinya lancar, juga demi keselamatan dan kesembuhan suami Anda. Dan saya sarankan segeralah obati luka di wajah Anda. Biarkan perawat kami mengobati luka Anda. Kami akan menyiapkan operasi sekarang juga. Permisi.” Dokter mengangguk sopan lalu kembali masuk ke dalam ruangan.
“Nyonya, bolehkah saya mengobati luka Anda sekarang?” tanya si perawat yang sama yang tadi hendak mengobati Viona.
Viona masih tercenung, tenggelam dalam pikirannya yang berkecamuk menyebabkan dadanya terasa sesak dalam kubangan rasa bersalah.
“Nyonya, sebaiknya Anda ikuti kata perawat. Sementara Anda diobati, saya akan menghubungi keluarga besar Anda juga Pak Bima.” Adrian kembali bersuara, menyarankan pada istri bos-nya yang kini tampak seperti orang linglung.
Viona menoleh pada Adrian. “Mas Bima, pasti akan sembuh lagi kan, Adrian?” tanyanya lirih. Ia butuh kata-kata yang meyakinkannya untuk menguatkan jiwa lemah dan rapuhnya saat ini.
“Pak Bima orang yang kuat. Dia pasti akan kembali sembuh untuk Anda, untuk semua.” Adrian mengulas senyum penuh pemakluman. Ia paham, Viona tengah rapuh saat ini. “Untuk itu Anda harus menjaga kondisi juga segera obati luka Anda, agar Pak Bima tidak cemas saat siuman nanti,” bujuk Adrian kembali.
“Silakan, obati saya, Suster,” pinta Viona, dan perawat segera melaksanakan tugasnya dengan sigap.
Annisa yang dikabari oleh Adrian perihal kejadian yang menimpa anak dan menantunya hampir saja ambruk saking terkejutnya. Ia dan Malik langsung meluncur ke rumah sakit saat itu juga. Begitu pun dengan Rima dan Abdul. Orang tua Viona itu bergegas datang dan tak lupa menjemput Nara terlebih dahulu.
Adrian juga menghubungi kediaman Bima, meminta Bik Yati mengemasi beberapa keperluan Bima dan Viona terutama pakaian ganti. Bik Yati menyusul ke rumah sakit bersama Mang Ujang si sopir kepercayaan Viona.
Di selasar rumah sakit, tepatnya di kursi tunggu di luar ruang operasi, Viona yang menunduk dalam diam tak henti meremas kedua tangannya yang terjalin di pangkuan seraya berdo’a dalam hati. Menjerit penuh permohonan pada Sang pencipta, agar ayah dari anak-anaknya diberi keselamatan, kesehatan juga umur yang panjang dalam keberkahan.
“Viona.”
“Mama … maafkan aku. Ini semua salahku yang tak mengindahkan kecemasan Mas Bima padaku,” isak Viona dengan suara tercekat efek dari tenggorokannya yang seperti digeromboli jutaan gumpalan air mata yang menyesakkan dada.
“Jangan berkata begitu, Sayang. Anak Mama.” Annisa mengurai pelukan, menghapus air mata di wajah sembab Viona penuh sayang. “Jangan menyalahkan diri, Bima pasti tidak suka melihat kamu menyalahkan diri sendiri. Sudah kewajiban seorang suami melindungi istrinya.”
Jujur saja Annisa pun didera kecemasan yang hebat lantaran putra semata wayangnya tertimpa hal buruk tak terduga. Akan tetapi saat ini menantunya lebih butuh dikuatkan, untuk itu sebagai seorang ibu dia tak boleh rapuh dan lemah.
“Ingat bayi dalam kandunganmu, Nak. Jangan terlalu banyak pikiran. Kita berdo’a bersama untuk keselamatan Bima. Yakinlah akan pertolongan Sang Pencipta.”
Rima tiba tak lama setelahnya. Ia juga tak henti menguatkan Viona, sedangkan Nara masih belum paham akan situasi di sekitarnya. Bocah lucu itu hanya tahu bahwa bundanya sedang bersedih. Ia memeluk Viona dan tangan mungilnya mengusap-usap perut sang Bunda yang sudah tampak membuncit.
“Bunda jangan nangis. Nanti dedek bayi di dalam sana kehausan karena airnya habis semua keluar dari mata Bunda,” ujarnya.
Celotehan Nara setidaknya mampu sedikit mencairkan suasana mencekam yang mengerubuti mereka dan seulas senyum terbit di wajah semua orang yang tengah menunggu harap-harap cemas.
Sekitar dua jam berlalu, dokter memanggil Viona dan menyatakan operasi berhasil. Bima sudah dipindah ke ruang pemulihan untuk observasi selama beberapa jam ke depan, guna memastikan tidak terjadi efek buruk lain dari prosedur yang baru saja dilakukan.
Viona dan yang lainnya menunggu di ruang tunggu dengan sabar, menanti hingga Bima bisa dipindahkan ke ruang perawatan. Malik dan Abdul sibuk mengurus segala sesuatunya agar Bima mendapatkan fasilitas terbaik.
Setelah beberapa jam di ruang observasi, dokter menyatakan Bima sudah boleh dipindahkan ke ruang perawatan. Viona dan yang lainnya bisa sedikit bernapas lega kendati hingga saat ini Bima masih belum sadarkan diri.
Bima dipindahkan ke kamar perawatan kelas VVIP. Viona menatap nanar melihat suaminya di balut perban di mana-mana dengan lebam-lebam membiru di permukaan kulitnya, serta selang infus juga transfusi darah yang tersambung ke tangan kanan dan kirinya. Viona membelai pelan kepala Bima, lelakinya itu masih setia memejamkan mata. Ia lalu semakin menunduk mengecup kening Bima.
“Segeralah sembuh, suamiku sayang,” bisik Viona serak diiringi kristal bening yang kembali luruh tanpa disuruh.
“Vi, sebaiknya bersihkan dirimu. Mandilah, Nak. Supaya lebih segar. Biar Mama dan ibumu yang menjaga Bima."
Terdiam sejenak tak merespons. Viona bergeming di sisi ranjang Bima. Namun, apa yang dikatakan mertuanya ada benarnya juga. Ia mengangguk pelan dan beranjak untuk membasuh diri.