Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Coming Soon



"Apa!"


Bima memekik kaget membuatnya tak sengaja berteriak sehingga seisi mobil ikut terperanjat. "Jadi, aku harus bagaimana? Apa yang harus kulakukan?" ujarnya panik.


Bik Yati dan Mang Ujang si sopir juga ikut terkejut. Perkataan sang nyonya yang menyebutkan perihal melahirkan ditambah tuannya yang tiba-tiba belingsatan tak tertahankan membuat mereka ikut diserang wabah kepanikan. Hanya si cantik Nara yang tetap tenang, sibuk menonton film kartun kesukaannya dari ponsel.


Bima juga meraba ke bawah paha Viona dan ia dapat merasakan sesuatu yang basah menyapa telapak tangannya. Ekspresi Bima tampak makin menegang, perasaan berkecamuk membelitnya makin parah, sementara Viona malah seperti orang linglung. Seingatnya mulas melahirkan bukanlah begini, atau jangan-jangan dirinya sudah lupa. Viona kembali meringis kecil mengusap perut bagian bawahnya saat diterjang rasa menyengat yang sama.


"Sayang, apa sakit sekali?" Bima ikut mengelus perut Viona. Dada Bima kembang kempis, wajahnya juga pias.


"Ini kayak mules mau pup, tapi kayaknya bukan," jawab Viona ambigu membuat Bima makin tak menentu.


Bima ingin meminta sopir untuk menambah laju kecepatan. Akan tetapi ia takut malah berakibat buruk pada semua penumpang di dalam mobil apabila dirinya tak bisa menenangkan diri meski sulit.


"Mang Ujang, kalau bisa lebih cepat. Tapi jangan dipaksakan, tetap berhati-hati. Kita ke rumah sakit terdekat saja," usul Bima sambil tak melepaskan tangannya dari perut bulat sang istri.


"Aku ingin melahirkan di Bandung saja, Mas. Sepertinya bayi kita tidak akan keluar sekarang, kurasa masih ada waktu hingga kita sampai di rumah sakit tempatku kontrol kehamilan." Viona berucap tenang, ia sudah tak sebingung tadi dan entah kenapa firasatnya mengatakan bahwa mereka masih memiliki waktu hingga tiba di kota tempat tinggalnya.


"Aku ingin menelepon dokter kandunganku saja dan meminta sarannya, aku yakin bayi dalam perutku tak akan menendang sekarang, aku bisa merasakannya, Mas. Kalau dokter menyarankan untuk ke rumah sakit terdekat, barulah kita lakukan." Viona masih tetap pada pendirian dan keyakinannya.


Bima termenung sejenak. Tak urung dirinya pun mengangguk. Segera menghubungi dokter kandungan yang menangani Viona yang merupakan salah satu temannya juga. Begitu telepon tersambung, Bima langsung menjelaskan kondisi Viona pada si dokter. Ia menyerocos tanpa jeda seperti laju kereta api yang berisik disertai klaksonnya, melaju menerjang tak memberikan kesempatan pada si dokter untuk menjawab.


Berikan ponselnya pada istrimu!


Si dokter berteriak dari seberang telepon, penjelasan Bima yang tengah panik malah membuat kepalanya pusing.


Ponsel segera beralih ke tangan Viona. Ia menjelaskan semuanya secara terperinci tentang reaksi tubuhnya saat ini. Dokter memberi instruksi setelah mendengarkan penjelasan panjang kali lebar dari Viona. Dan dokter memperkirakan masih ada waktu hingga sampai di Bandung, dia memberi tips-tips apa yang harus dilakukan Viona dalam keadaan darurat ini, menjaga supaya kondisinya tetap aman hingga tiba. Si dokter akan menyiapkan segala sesuatunya agar begitu Viona sampai mereka sudah siap sedia.


"Nah, Mas juga dengar kan? Jangan panik, jagoan kita baru memberi aba-aba." Viona meremas lengan Bima lembut sambil meringis sesekali. Mengulas senyumnya berusaha menenangkan sang suami juga penumpang lainnya. Di sini justru yang akan melahirkan yang menenangkan orang-orang di sekitarnya.


Bima menelan ludahnya susah payah seraya menatap Viona kuatir. Ia menundukkan wajahnya semakin turun.


"Baby boy. Jangan menendang keluar dulu hingga kita sampai di Bandung ya," ucap Bima dengan bibir bergetar tepat di depan perut Viona.