Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Persembunyian



Setelah menempuh empat jam perjalanan, sampailah Bima dan Viona serta si kecil Nara di villa yang dimaksud. Lokasinya berada di pedesaan yang cukup jauh dari kota Bandung, bahkan nyaris mendekati perbatasan antar provinsi.


Mereka tiba saat hari sudah larut kira-kira sekitar pukul sebelas malam. Si kecil Nara sudah tertidur lelap dengan nyamannya di dekapan bundanya, bahkan bayi montok itu sama sekali tak terganggu gerakan Viona yang turun dari mobil dengan Nara dalam gendongannya.


Di sekitar villa, tidak ada bangunan lain yang terlihat. Lokasinya begitu terpencil berada di pedalaman pedesaan, bahkan untuk sampai di situ tidak ada pilihan jalan lainnya selain menyusuri jalanan kecil dengan aspal yang sudah rusak parah ditemani hutan lebat sepanjang perjalanan.


Bangunannya tidak terlalu besar ataupun terlalu kecil, tetapi cukup luas untuk dipakai berlibur tiga sampai empat orang. Gaya arsitekturnya sangat alami, didominasi material kayu-kayuan juga batu alam.


"Ternyata jauh sekali Mas. Duuh ... punggungku pegal," keluh Viona sembari melangkah mengekori Bima.


Bima memutar kunci dan membuka pintu. "Sini, biar Nara aku yang gendong," pinta Bima.


"Nggak usah, Mas. Takut dia bangun kalau pindah-pindah tangan. Kasihan, tidurnya lagi pules banget," sahut Viona yang segera melangkah masuk begitu pintu terbuka lebar.


"Kamu langsung ke kamar aja, istirahatlah. Biar aku yang nurunin barang-barang di bagasi. Semua ruangan sudah dibersihkan tadi sore oleh pengurus villa yang tinggal di desa dekat sini."


"Yang mana kamar utamanya?" Viona mengedarkan pandangannya ke sekeliling saat sudah berada di dalam bangunan.


"Itu, yang di kanan, kamar paling besar." Bima mengarahkan telunjuknya dan Viona mengangguk paham.


"Sudah tugasku sebagai suami bukan? tidurlah," ucap Bima.


"Hmm," gumam Viona.


Viona melangkah menuju kamar yang ditunjuk Bima, memutar kenop pintu kemudian melangkah masuk. Ia segera menuju tempat tidur dan merebahkan bayi mungilnya di sisi ranjang yang menempel ke tembok, menaruh guling di sisi tembok tersebut untuk melindungi tubuh bayi kesayangannya, di susul dengannya yang juga ikut naik dan merebahkan diri di sisi Nara.


Si mungil berpipi gembul itu menggeliat-geliat dan sedikit begumam-gumam tak jelas khas seorang bayi. Mungkin karena merasa kehilangan dekapan hangat bundanya tidurnya sedikit terusik. Viona segera merapatkan diri dan mengusap-usap paha montok putrinya penuh sayang dan mengecup pipi gembul Nara yang menggemaskan. Meskipun matanya terpejam, tetapi Nara langsung tahu bahwa yang kembali mendekapnya adalah wanita yang melahirkannya, bayi itu kembali tenang dan melanjutkan tidurnya yang sempat terganggu.


Tubuh Viona luar biasa lelah, apalagi di tengah perjalanan tadi mereka sempat mampir dulu ke sebuah swalayan besar untuk membeli banyak belanjaan. Awalnya Viona kurang setuju karena suaminya terlalu banyak memborong keperluan untuk liburan yang Bima katakan hanya akan berlangsung satu minggu. Akan tetapi pria tinggi itu berdalih sebaiknya membeli sebanyak-banyaknya karena tempat berlibur mereka terletak di pedesaan terpencil yang jauh dari minimarket sekalipun, bahkan barang-barang yang dibelinya tadi mungkin cukup untuk memenuhi kebutuhan selama tiga bulan penuh.


*****


Pukul dua belas malam Bima baru selesai membasuh diri setelah menyelesaikan pekerjaannya mengangkut barang dari bagasi. Ia naik ke tempat tidur tepat di belakang posisi Viona berbaring, merapatkan tubuhnya dan merengkuh ibu dari anaknya yang sudah terlelap ke dalam pelukannya. Mengecup sisi wajah Viona dan menenggelamkan wajahnya di keharuman rambut istrinya itu.


"Jangan tinggalkan aku, Vi," bisiknya lirih menyedihkan.