
Adrian diperintahkan kembali ke kantor terlebih dahulu bersama sopir, sementara Bima pergi bersama Marina menuju apartemen Juna. Awalnya Marina menghubungi nomor anak sulungnya itu, tetapi karena panggilannya tak kunjung diangkat, akhirnya ia memutuskan untuk datang lagi ke apartemen anaknya bersama Bima yang ikut serta.
Juna sedang berkutat dengan laptopnya, memeriksa laporan dari ivestasi saham di beberapa perusahaan rekannya dan teralihkan kala bel pintu berdenting. Ia terdiam sejenak, memilih mengabaikannya dan kembali fokus pada laptopnya, sama sekali tak tertarik dengan orang yang berkunjung mengganggu harinya.
Kedamaiannya hanya berlangsung sesaat, bel kembali berdenting tanpa henti, sepertinya si pemencet bel tak berniat menyudahinya sebelum pintu dibuka.
Dengan langkah malas Juna menuju pintu, berdecak kesal ketika monitor menampilkan ibunya yang kembali datang. Bima yang berdiri agak jauh dari Marina luput dari tangkapan kamera, sehinga Juna mengira ibunya datang seorang diri seperti terakhir kali.
Pintu terbuka, Juna menyambut tak semangat. Berdiri di ambang pintu dengan kedua tangan masuk ke saku celana.
“Ada apa lagi sih, Mi? Apapun yang Mami katakan pertunangan ini akan tetap berlangsung," semburnya tanpa berbasa-basi.
“Ternyata luar kota versimu sangat bebeda, Arjuna.” Bima muncul menampakkan diri berdiri menjulang di belakang Marina dengan senyum mengejek.
Terperanjat kaget bukan kepalang, tak menyangka Bima berada di hadapannya, Juna bahkan mundur beberapa langkah nyaris terjengkang. “Ka-kamu! Bagimana kamu bisa ke sini?”
“Mami yang mengajaknya! Sebaiknya kita bicara di dalam, kamu ingin mengundang keributan dan menjadi tontonan?” Marina menatap anaknya tajam.
Dengan raut wajah juga sorot mata tak ikhlas, Juna membuka pintu dan membiarkan ibunya juga Bima masuk ke dalam. Dua laki-laki itu sempat bersinggungan di ambang pintu, sepertinya Bima memang sengaja menyenggol bahu Juna. Bima tersenyum miring, sedangkan Juna mendengus dengan mata berkilat penuh permusuhan.
Mereka duduk berjauhan di sofa melengkung yang dilapisi kain oskar berwarna biru muda. Ketiganya belum ada yang memulai pembicaraan. Saling melempar pandangan yang sulit diartikan, hingga suasana di ruang tamu itu begitu sesak karena terhimpit keheningan.
“Arjuna.” Bima bersuara lebih dulu setelah beberapa menit lalu tak membuka mulut.
“Bisakah kita berbicara sebagai sesama laki-laki dewasa? Berdua saja.” Bima melirik ke arah Marina. Wanita paruh baya yang memakai gaun hijau tua itu mengerti akan maksud Bima.
"Kalian bicaralah." Ia menyingkir dari sana dan pergi ke ruang makan.
“Aku tak berminat mendengar ocehanmu. Kalau kamu datang kemari untuk memohon agar aku menghentikan niatanku bertunangan dengan Viona maka sebaiknya lupakan saja.” Juna berdecih seraya menyeringai miring.
“Jadi selama ini luar kotamu di sini?” Bima menaikkan alisnya sembari melipat tangan di dada.
“Bukan urusanmu!"
“Kamu sengaja menghindari Viona? Atau kamu justru sudah tahu bahwa Viona ingin membatalkan pertunangan tapi kamu menghindarinya dengan alasan keluar kota? Juga tentang dimajukannya tanggal dari rencana awal itu semua adalah ulahmu, iya kan?"
"Viona ingin membatalkannya pun percuma saja. Dia berada di bawah kuasa ayahnya, dan ayahnya sudah tunduk padaku," ujarnya sombong.
"Kamu yakin mencintai Viona? Benarkah kamu menyayanginya?” seloroh Bima mencecar tanpa jeda.
“Aku tahu itu. Viona sudah banyak bercerita tentangmu. Kuucapkan banyak terima kasih, kamu berada di sisinya selama aku tak ada, aku menghargai itu, semoga Allah membalas semua kebaikanmu,” ucap Bima tulus.
Juna memutar bola matanya malas. “Jangan sok mendo’akan, kamu hanya manusia penuh dosa,” cibirnya menghina.
“Terima kasih sudah mengingatkan. Tapi, apakah rasamu tumpul? Atau kamu berpura-pura buta?” lanjut Bima.
“Maksudmu? Tak usah bertele-tele!”
“Kamu pikir aku tak tahu kamu menugaskan orang untuk mengawasi dan membuntuti Viona? Jika ingin kuhentikan sudah sejak lama kulakukan, itu bukalah hal sulit. Viona yang polos mungkin takkan tahu bahwa dirinya tengah diawasi, tapi aku bukanlah orang bodoh. Sengaja kubiarkan mereka mengawasi apapun kegiatan Viona termasuk interaksinya denganku. Orang-orangmu pasti mengirimkan gambar-gambar kebersamaanku dengan Viona juga kan? Telaah dari sana? Siapa yang ada di hati Viona, aku yakin kamu tak sebodoh itu Arjuna."
Juna terdiam, tangannya terkepal hingga buku-bukunya memutih, rahangnya juga mengeras, pertanda emosi mulai tak terkendali.
“Dan juga apakah kamu yakin bisa membuat Viona bahagia sementara ibumu sendiri tak menginginkan dia jadi menantu di keluargamu? Apakah kamu pikir kalian akan bahagia saat hati Viona tertambat padaku dan ibumu tak merestui?”
“Aku yakin bisa membahagiakan Viona dengan atau tanpa restu ibuku. Hanya saja kamu muncul kembali merusak semua angan-anganku.” Juna berteriak murka.
“Maafkan aku. Tapi cobalah berpikir jernih Arjuna, memaksakan kehendak hanya akan berakhir dalam kubangan nestapa. Kamu itu orang baik, hanya saja obsesi gilamu mengubahmu jadi tak berperasaan. Aku tahu, kamu menaruh hati padanya sejak lama, saat dulu dia sedang mengandung Nara kita pernah makan siang bersama, kamu pasti masih ingat. Tapi jika benar mencintainya, bebaskan dia, biarkan dia memilih ingin menjemput bahagia dengan siapa. Jangan biarkan kebaikanmu selama ini tak menjadi catatan amal baik lantaran kamu tak ikhlas melakukannya. Saat mengharap balas budi, semua kebaikanmu hanya akan menguap percuma, laksana tumpukan kertas berharga yang dikumpulkan susah payah berakhir dilalap api, tak ada faedahnya lagi untukmu saat semuanya telah hangus menjadi abu."
Juna bangkit dan menjambak kerah kemeja Bima. “Jangan berceramah di sini brengsek! Kata-kata semacam itu tak pantas keluar dari mulut mantan napi!”
“Itulah aku, mantan narapidana. Untuk itu kamu harus bersyukur dan menghargai hidupmu tak menyandang gelar sepertiku. Tapi aku yakin kamu tahu pasti, dia tak pernah mencintaimu. Viona dan aku saling mencintai dan akan selalu begitu. Jika tak ingin Viona menderita, lepaskanlah dia, demi kebaikan kalian berdua. Aku yakin, Allah sudah mempersiapkan jodoh terbaik untukmu, tapi yang pasti bukan Viona.” Bima menepuk-nepuk bahu Juna.
“Pergi kamu dari sini! Sudah cukup ocehan omong kosongmu itu!” Juna menarik kerah kemeja Bima agar bangkit dari duduknya dan menyeretnya ke arah pintu. Bima hanya menyeimbangkan langkah tanpa melawan, dia percaya bahwa tidak setiap permasalahan harus diselesaikan dengan kekerasan.
Seperti kata pepatah, kelembutan hati dan tutur kata dapat menembus sesuatu yang tak tertembus oleh pedang.
“Pikirkanlah lagi, yang Viona dan Nara butuhkan adalah aku. Kuharap kamu mengerti dan berbesar hati.” Bima masih berkata dengan nada rendah begitu sampai di depan pintu.
“Tutup saja mulutmu dan jangan campuri urusanku!” Juna membanting kencang pintunya tepat di hadapan wajah Bima, menciptakan getaran di dinding sisa-sisa dari pintu yang berdentam.
Bima mencoba menetralkan napasnya, sejak tadi ia mengendalikan diri agar amarahnya tidak berkobar. Setidaknya dia sudah berusaha berbicara baik-baik dengan Juna, mengenai hasilnya ia serahkan pada Yang Mahakuasa. Bima kembali teringat akan Viona yang masih tak ada kabarnya, ia bergegas turun dari gedung apartemen tersebut, memesan taksi dan segera meluncur ke rumah Viona.
*****
Bagi yang aplikasinya sudah di update, vote sekarang bukan hanya memakai poin dan koin melalui kolom hadiah saja, juga bisa vote dengan kupon mingguan untuk mendukung cerita kesayanganmu. Jangan lupa berikan dukungan juga melalui like, komentar dan kolom hadiah dan vote kupon kalian untuk Mas Bima dan Viona, thank you all💕😘.