
Satu jam menunggu munculah Ibel dengan langkah tergesa memasuki cafe. Begitu melihat Viona, Ibel langsung menghambur dan memeluk sahabatnya itu. “Vi, lo kemana aja, semua orang nyariin.”
“Ceritanya panjang Bel. Tapi sekarang ada hal yang lebih penting. Gue butuh bantuan, ini darurat.”
Viona langsung menyela tanpa memberi jeda untuk Ibel beristirahat. Tak mempersilakan duduk ataupun menawarkan minuman sebagaimana adab yang menjadi kebiasaan Viona selama ini.
Tanpa basa basi Viona langsung menyampaikan maksud menghubunginya, bercerita panjang lebar dan setengah memaksa Ibel untuk membantunya mencari barang haram kesukaan Bima. Ibel terperangah dan menatap prihatin sahabatnya itu. Hatinya sungguh nelangsa, tak menyangka dengan nasib yang menimpa Viona. ini seperti bukan Viona yang dikenalnya, sahabatnya tampak kacau dengan sorot mata resah gelisah yang nyata.
“Bel, Mas Bima mengancam akan membawa Nara kabur kalau gue sampai nggak berhasil mendapatkan yang dinginkannya sekarang juga. Tolong gue Bel, please.”
Ibel menahan rasa tercekat di tenggorokannya, ingin sekali dia mengumpat Bima sekarang. “Vi, yang lo lakukan sekarang adalah kesalahan besar, sebuah tindakan kriminal!”
“Gue… bingung harus gimana. Tapi memang ini yang harus dilakukan,” ujar Viona seperti orang linglung.
"Yang harus dilakukan adalah melaporkan suamimu pada polisi. Dia buronan yang sedang dicari-cari sekarang. Dengan berusaha menyembunyikannya maka lo juga akan ikut terseret jeratan hukum!" ucap Ibel memperingatkan.
“Nggak, nggak bisa. Mas Bima bakal misahin gue dengan Nara. Juga… gue nggak mau Mas Bima dipenjara dan menjadi narapidana!” teriak Viona dengan tubuh gemetaran.
Plak….
Sebuah tamparan dari Ibel mendarat mulus di wajahnya.
“Lo bahkan sulit dihubungi. Apa lo tahu? bokap lo terbaring di rumah sakit karena kejadian mengejutkan ini. Beliau mencemaskan anaknya, mengigau menyebut nama lo, tapi anaknya memilih menjadi pengecut dan mengorbankan orang tuanya untuk lari dari kenyataan!” jerit Ibel dengan bibir gemetar.
Ia benar-benar kasihan kepada Viona, Ibel bahkan terpaksa harus melayangkan telapak tangannya demi membuat pikiran sahabatnya kembali ke jalan yang seharusnya. Viona lunglai dan luruh ke lantai, akhirnya tangisnya pecah, terdengar begitu menyayat hati dan memilukan.
“Ayah… Ayah… maafkan anakmu… maafkan aku, Ayah.” Viona mengepalkan tangannya dan memukul-mukul dadanya sendiri yang terasa sakit dan sesak. Sungguh rasanya ia tak mampu lagi memikul beban seberat ini.
Ibel berlutut di lantai dan merengkuh Viona ke dalam pelukannya. Mereka sama-sama menangis.
“Sekarang… sekarang gue harus gimana Bel? kalau gue laporin Mas Bima sekarang bagaimana dengan Nara. Mas Bima menyandera Nara hiks hiks,” lirihnya di sela-sela isakanya.
“Jika sudah memantapkan hati untuk melapor, kita bisa berkoordinasi dengan pihak polisi dan menjelaskan situasinya supaya mereka bisa mencari solusi agar mengambil Nara terlebih dahulu sebelum mereka menangkap suamimu.”
“Tapi, Mas Bima pasti akan sangat membenci gue, jika dia tahu istrinya melaporkannya pada polisi. Bagaimana kalau dia juga membenci Nara? Nara butuh ayahnya, Bel hiks hiks.”
“Semua ini justru demi kebaikan suami lo, Vi. Dan hanya pihak berwajib serta jajarannya yang paling paham bagaimana cara mengatasi dia yang sekarang kecanduan semakin parah. Percayalah, semua ini demi kebaikan kalian semua.” Ibel pantang menyerah untuk meyakinkan, dia tak akan membiarkan sahabatnya ikut terjerumus lebih jauh lagi ke dalam lubang nista.
Viona mengusap air mata dengan punggung tangannya. Ia tampak masih meragu, tetapi apa yang dikatakan Ibel mampu membuatnya kembali berpikir jernih. “Bantu gue melapor pada polisi,” pinta Viona.
“Tentu, kita lakukan sekarang juga. Lebih cepat lebih baik.”