Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Masih Bisakah?



Viona menangis tersedu-sedu, begitu pula dengan Bima yang tak mampu membendung desakan di bola matanya. Keduanya larut dalam tangisan, yang satu tangis kepedihan penuh luka yang bepadu rindu dan yang satunya lagi deraian penyesalan juga berpadu rindu menggelayut.


“Maafkan aku sayang… maafkan aku.”


Bima meraih kedua tangan Viona dan menggengamnya erat di sela-sela tangisannya, kelebatan-kelebatan bayangan betapa buruknya sikapnya pada Viona dulu sewaktu masih dalam pengaruh obat terlarang berlalu lalang dibenaknya serupa rekaman yang diputar. Jantungnya semakin terasa nyeri seperti diremas-remas, akibat efek buruk obat laknat itu, dia telah menyakiti wanita di hadapannya begitu dalam.


“Aku tak mau memaafkanmu Mas, aku benci padamu!” ucap Viona tersendat-sendat lantaran tenggorokannya tercekat.


“Bencilah aku sebanyak yang kau mau. Jangan maafkan aku, meski aku memohon sepanjang hidupku. Hukumlah aku, jika itu bisa sedikit saja mengobati luka di hatimu."


Bima berdiri dan merengkuh Viona yang masih terduduk di kursi ke dalam dekapannya. Punggung Viona semakin berguncang hebat, ia menumpahkan tangisnya seolah ingin mengeluarkan setumpuk kesedihan serta segunung air mata yang terpendam, meratapi luka dalam dada yang masih menganga.


Satu tangannya mencengkeram sisi baju Bima erat, sementara satu tangannya lagi kembali mengepal dan memukuli punggung Bima meskipun tak sekencang tadi. “Kamu jahat Mas, kamu Jahat!”


Viona terus meracau dengan air mata yang tak henti meluruh. Bima mengangsurkan telapak tangannya dengan lembut mengusap punggung mungil nan rapuh yang berguncang itu.


Hampir satu jam keduanya meluapkan segala rasa dalam deraian air mata. Bima mengurai pelukannya dan kembali berlutut, jemarinya mengusap wajah basah Viona dan merapikan rambutnya yang kusut.


“Masih ingin menangis?” Bima mengulas senyum meskipun dirinya juga kini sama-sama berwajah sembab dan semakin pucat.


“Nggak,” jawab Viona singkat yang kemudian memalingkan wajah dan menjatuhkan pandangan ke meja makan.


“Makanannya jadi dingin,” gumamnya.


“Tak apa, aku akan tetap memakannya walaupun dingin,” sahut Bima.


Vi, apakah kita masih bisa… kembali… bersama? Aku, kamu dan juga Nara," sambungnya lagi.


“Entahlah. lebih baik untuk sekarang Mas perhatikan kondisimu, tak usah memikirkan hal lain. cepatlah pulih dan jangan membuatku khawatir lagi. Makanlah, aku mau mencuci wajahku.” Viona beranjak dari duduknya dan bergegas setengah berlari menuju kamar mandi.


*****


“Nara mana Bi?”


Viona sampai di rumah menjelang senja, dia baru pulang setelah memastikan Bima menghabiskan makanan dan meminum obatnya, juga menunggu hingga sembab-sembab juga jejak air mata di wajahnya tak terlalu kentara.


Viona mengangguk lalu masuk ke kamar sang buah hati, membuka pintunya pelan dan melongokkan kepala sebelum masuk. Dilihatnya Nara seperti serius menatap sesuatu yang dipegangnya. Viona mematung di ambang pintu, sedangkan bocah cantik berambut panjang itu belum menyadari kehadiran sang bunda di kamarnya.


“Kenapa Om beruang dan orang ini mukanya sama ya? Tapi orang di foto ini kata Nenek Annisa ayahnya Nara. Tapi ayah Nara kan lagi sakit ya? Kapan sih ayah pulang?” gumamnya yang kemudian tampak cemberut


Ternyata Nara diam-diam memgambil foto di jurnal bundanya, sebenarnya dia kerap kali membandingkan wajah om beruangnya dengan sosok yang ada di foto. Viona melangkah pelan lalu duduk dibelakang anaknya.


“Nara?’’


“Eh Bu-Bunda.” Nara langsung menyembunyikan selembar foto di tangannya ke bawah si boneka beruang besar berwarna coklat, menatap Viona takut-takut lalu menunduk.


“Duduk di sini. Bunda mau ngobrol sama Nara.” Viona menepuk-nepuk pangkuannya sambil mengulas senyum lembut.


Ragu-ragu Nara bergerak duduk di pangkuan bundanya, ia masih tertunduk lantaran takut ketahuan mengambil barang sang bunda tanpa izin.


“Nara, mau ketemu ayah?” tanya Viona.


Seketika Nara yang tertunduk langsung mendongak, matanya berbinar dan senyumnya mengembang. “Mau mau, mau banget Bunda,” Jawabnya penuh semangat diiringi anggukan.


“Besok, kita temui ayah.”


*****


Halo my beloved readers.


Kali ini author akan mengadakan giveaway. Dua komentar yang menarik dan unik akan mendapatkan pulsa senilai 25rb per orang.


Periode giveaway terhitung sejak tanggal 15 Januari. Pengumuman pemenang tanggal 15 Februari 2021


dalam kurun waktu itu nanti akan dipilih dua komentar terbaik sebagai pemenang. Ayo tuliskan komentar terbaikmu sebanyak-banyaknya, ingat gunakan bahasa yang baik dan santun 😘💕.


Regards


Senjahari_ID24