Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Tergenggam



Polisi melakukan penggeledahan di kediaman utama Yoga untuk mengumpulkan barang bukti kejahatan lainnya guna melengkapi bukti-bukti sebelumnya yang didapat dari apartemen tempat digrebeknya Yoga saat terjadinya penculikan dan percobaan pembunuhan.


File asli video tak senonoh saat Yoga menggagahi Nia juga ditemukan dan ikut disita sebagai barang bukti. Ternyata yang ditemukan polisi bukan hanya video Nia saja, ada sekitar lima video lainnya yang diduga juga merupakan korban si buaya darat Yoga. Pasti video tersebut digunakan dalam upaya pemerasan.


Dari rumah sakit, Nia terburu-buru datang ke kantor polisi begitu mendengar temuan file asli yang selama ini menyiksanya. Adrian yang kebetulan sedang bersamanya menawarkan jasa untuk mengantar.


Nia yang masih didera trauma akan sikap baik laki-laki secara halus menarik diri, tetapi Adrian meyakinkan bahwa dia hanya berniat mengantar dan mempersilakan Nia duduk di kursi penumpang jika merasa tak nyaman duduk bersebelahan dengannya. Setelah menimbang-nimbang. Nia akhirnya mengangguk dan menerima tawaran Adrian lantaran aplikasi ojeg online di ponselnya sedang tak bisa dipergunakan.


Nia memohon kepada polisi agar file asli videonya dengan Yoga diserahkan padanya. Jika video tersebut masih berada di luar meski kini hanya dijadikan sebagai barang bukti, tetap saja dirinya merasa resah dan tak tenang. Negosiasi berlangsung alot, bagaimanapun juga benda tersebut dibutuhkan sebagai pelengkap berkas bukti.


Menghela napas frustrasi Nia tak bosan untuk kembali meminta, ia menjelaskan tak bisa melanjutkan hidupnya dengan tenang jika video tersebut tidak berada dalam genggamannya.


Akhirnya para polisi merasa iba, terlebih lagi Nia tampak stress dan tertekan mungkin saja nyaris gila. Mereka pun khawatir akan kondisi kejiwaan Nia yang selama ini berada di bawah tekanan dan perlakuan bengis Yoga. Mereka memutuskan untuk memberikannya kepada Nia, mereka masih memiliki bukti lain dari video temuan mereka lainnya. Dan salah satu polisi menjelaskan bahwa hasil visum Nia sudah cukup dijadikan bukti atas kejahatan dan pelecehan Yoga padanya selama ini.


Tampak kelegaan tergambar di wajah pucatnya. Tangannya yang gemetaran menerima memori card berisi file asli video laknat tersebut. Mengenggamnya kuat-kuat diiringi air mata yang berlinang. Nia mengucap beribu terima kasih kepada para polisi dan bergegas meninggalkan tempat tersebut.


Adrian ternyata kembali lagi. Sore begini jam kerjanya sudahlah usai dan memang bermaksud menjemput Nia barangkali saja gadis rapuh itu masih di kantor polisi. Entah apa yang mendorong Adrian untuk melakukan itu, sisi lain dalam dirinya tak bisa abai begitu saja. Nia merasa sungkan, akan tetapi petugas polisi malah menyarankannya pulang dengah Adrian saja supaya lebih aman, apalagi kondisi Nia yang serupa orang linglung cukup mengkhawatirkan.


Nia meyakinkan diri dan kembali duduk di kursi penumpang membiarkan dirinya diantar Adrian. Tiga puluh menit ditempuh sampailah mereka di tempat tinggal Nia yang baru dua hari ini ditempatinya. Tempat kost sederhana yang berada di pinggiran Kota Bandung.


Ia segera turun dan mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya pada Adrian. Membungkuk hormat dan segera berlari masuk ke dalam, melupakan amplop besar dari rumah sakit yang tertinggal di jok belakang mobil Adrian.


*****


Di hari ke enam, Bima sudah diperbolehkan pulang ke rumah. Hanya saja dokter mengingatkan untuk mematuhi jadwal kontrol yang sudah dibuat juga menjelaskan penyembuhan patah tulangnya diperkirakan memakan waktu sekitar enam sampai delapan minggu. Dalam kurun waktu tersebut dokter mewanti-wanti supaya lengan kiri Bima tetap digendong agar proses penyembuhan tulang bahunya yang patah berlangsung sesuai harapan.


Nara begitu bersemangat menyambut sang ayah. bocah lucu itu sudah menyambut di teras rumah dan berjingkrak senang kala Bima turun dari mobil digandeng bundanya.


“Ayaaahh … asik Ayah udah pulang. Nara kangen bobo sama Ayah,” celotehnya antusias.


“Ayah juga kangen sama princess cantik ini,” sahut Bima gemas.


Nara menggamit tangan kanan Bima, menuntunnya masuk hingga ke kamar. Viona menata bantal agar Bima bisa duduk bersandar dengan nyaman di ranjang besar mereka, dan Nara yang sejak tadi menempel ikut naik ke atas tempat tidur, duduk di samping Bima dan memeluknya. Ia rindu berat karena hampir satu minggu tak bisa bermanja-manja dengan leluasa.


"Dia harus dihukum seberat-beratnya!" Viona berkata geram penuh emosi.


"Sudah pasti, dia akan mendapatkan ganjaran atas perbuatan salahnya," gumam Bima seraya mengelus tangan Viona yang mengepal.


*****


Sudah hampir tiga minggu Nara tidur di kamar Bima dan Viona. biasanya Viona akan membujuk Nara untuk tidak terlalu sering tidur dengannya. Akan tatapi kali ini berbeda, ia membiarkan hal itu lantaran jika tidur berdua saja maka suaminya akan merengek ingin dihangatkan padahal kondisi Bima masihlah belum memungkinkan.


Saat membantu mandi pun, Viona berpura-pura tak melihat. Hanya fokus membantu Bima mandi dan berhati-hati supaya tidak mengenai bagian yang diperban. Meski sesekali sudut matanya menangkap bahwa benda yang selalu membuatnya mengerang nikmat seolah melambai lambai ingin menebar pupuk, bereaksi tegak menjulang setiap kali kegiatan mandi dilakukan.


Viona memilih mempercepat proses mandi sang suami. Lagipula jika hal itu dilakukan, Bima perlu menunaikan mandi wajib sedangkan kini bekas luka operasinya masih belum boleh terkena air.


Bima selalu berusaha mati-matian meredam gairahnya. Bahkan mengumpat kesal pada pusat tubuhnya sendiri yang selalu mudah terayu dan baper akan sentuhan wanita tercintanya. Viona sungguh berbahaya, seolah memiliki tegangan tinggi yang mampu memantik hasratnya dengan mudah meski hanya dalam sentuhan kecil.


Malam ini Viona membantu Bima berpakaian setelah dibantu mandi. Seperti biasa Bima akan memasang wajah memelas saat gairah tengah berputar-putar di kepalanya ingin menguasainya.


“Honey, aku haus,” ucap Bima sementara Viona sibuk mengancingkan piyama yang dipakainya.


“Mau minum? Mau air putih atau teh? Sebentar lagi kuambilkan setelah Mas selesai berpakaian,” sahut Viona sambil tersenyum dengan cantiknya.


“Aku tak butuh air putih ataupun teh. Aku ingin minum susu.”


“Susu? Bukannya Mas nggak begitu suka susu? Tapi kalau mau akan kubuatkan, mau susu coklat atau vanilla?” tanya Viona. Ia kini berdiri di belakang Bima yang duduk di kursi tengah membantu mengeringkan rambut.


“Aku nggak mau rasa coklat ataupun vanilla. Aku ingin susu dari sumbernya langsung,” bisiknya sensual menggoda. Ia membalikkan tubuh dan dengan sengaja tangan kanannya membelai bukit kembar ranum yang kini makin tampak bulat berisi efek dari kehamilannya.


“Ish … Mas! Apa si murahan terus merengek? Katakan padanya, untuk saat ini jadilah bermartabat, bersabarlah dan nikmati cuti menyiram ladang. Setelah luka Mas sembuh benar, aku yang akan memimpin penyiraman nanti, bagaimana?” tawar Viona yang kemudian melingkarkan lengan ke leher Bima.


“Benarkah? Janji?” Bima tersenyum merekah diberikan janji semacam itu. Ah, rasanya ia sudah tak sabar lagi ingin segera dimanjakan oleh istri tercintanya.


“Iya. Aku janji,” jawab Viona tersipu-sipu dan langsung tertunduk malu lantaran wajahnya kini memerah serupa tomat masak.