
"Kamu masih ingat dengan ulang tahunku, Juna?" Viona terkejut sekaligus senang. Terbukti dari senyuman yang langsung terukir di wajah cantiknya.
"Aku selalu mengingatnya, ditambah lagi hari ulang tahunmu bertepatan dengan hari sumpah pemuda. Seharusnya kita juga mengadakan upacara bendera serta membangun monumen untuk memperingati hari kelahiranmu," ejeknya sambil terkekeh.
"Dasar kau! Memangnya aku ini pahlawan perjuangan. Tapi, makasih banget lho bunganya. Ini bunga kesukaanku," cicit Viona yang kemudian membaui sebuket bunga pemberian Juna dengan penuh suka cita.
"Sebetulnya ini baru hadiah pembuka. Hadiah utamanya sebentar lagi tiba." Ia sengaja membuat Viona penasaran.
"Hadiah utama, apa itu?" tanyanya bersemangat. Mendengar kata hadiah siapapun pasti langsung berbinar bahagia.
Sebuah mobil box tiba, Juna menggandeng Viona keluar dan menuju parkiran kemudian menghampiri mobil tersebut.
"Ini hadiah utamanya, bukalah," pinta Juna begitu mereka tepat berasa di belakang mobil box tersebut.
"Apa ini? Mencurigakan. Isinya bukan gorila yang memakai pita kan?" tanya Viona dengan mata memicing penuh curiga kepada Juna.
"Mana mungkin isinya gorila. Bisa-bisa aku ditangkap para pecinta fauna jika menjadikan gorila sebagai hadiah." Juna berdecak kesal dan berpura-pura merajuk.
Viona tergelak kencang. Juna sudah bukan remaja lagi, tetapi terkadang sikapnya masih kekanak-kanakan.
"Ayo buka, Vi. Aku sudah mempersiapkan semua ini selama satu minggu. Kuharap kamu menyukainya," sambungnya kembali.
"Oke. Tapi isinya beneran aman ya? Jangan sampai mengagetkan bayi dalam perutku." Viona masih belum membuka pintu mobil box tersebut.
"Yakin deh seribu persen isinya aman. Tapi tentang kaget atau tidak aku tak menjaminnya." Laki-laki berambut lurus itu melipat kedua tangannya di dada sambil menipiskan bibir.
"Iya, iya. Mendingan cepet buka aja deh, biar kamu tahu isinya berbahaya atau tidak." Juna sudah tak sabar ingin melihat reaksi Viona saat membuka kado darinya.
Dengan perlahan Viona membuka pintu belakang mobil tersebut, saat semua pintu terbuka sempurna ia tercengang dan menutup mulutnya yang menganga.
"Ini ... ini semua, beneran buat aku?" Viona masih tak percaya dengan isi kadonya.
"Iya, ini semua buat kamu. Aku sendiri yang memilihkannya," ujarnya bangga.
Isinya adalah berbagai macam kain pilihan yang berasal dari dalam dan luar negeri. Netra indahnya berbinar penuh semangat. Sebagai perancang busana, kain merupakan salah satu aspek terpenting. Selain desain yang unik, kain pilihan kualitas terbaik adalah penunjang terbesar dalam mewujudkan goresan sketsanya menjadi karya yang luar biasa.
"Makasih banyak, Jun. Aku seneng banget," pekiknya girang setengah berjingkrak.
Viona secara impulsif memeluk Juna saking senangnya. Ia terkesiap luar biasa karena reaksi Viona melebihi ekspektasinya. Tak dipungkiri Juna teramat senang bersentuhan fisik dengan wanita yang sudah lama dipujanya, menciptakan getaran yang semakin menguat diseluruh ruang hatinya bak sengatan listrik yang memercik di mana-mana.
Inginnya balas memeluk. Namun, semua itu hanya bisa dilakukannya dalam angan yang berkecamuk, si Bunga indah yang diimpikan hanya bisa dirindukannya bagaikan pungguk.
"Kamu suka?" Juna berusaha membuat nada bicaranya terdengar tenang seperti biasanya, padahal saat ini degupan jantungnya menggila serupa genderang yang ditabuh dengan nyaringnya.
"Suka banget. Bahkan jenis kain yang sulit didapat semuanya ada di sini. Pasti kamu bersusah payah untuk mendapatkannya. Sekali lagi makasih banyak." Viona tersenyum senang dengan cantiknya, bahkan matanya pun ikut melengkung serupa senyuman.
"Sama-sama. Walaupun butuh usaha ekstra untuk mendapatkannya, tetapi aku lega karena kamu menyukainya."
Juna bahagia tak terkira karena Viona menerima hadiah pemberiannya dengan penuh rasa syukur. Apalagi kini Viona masih dalam posisi memeluknya, dia berdo'a dalam hati semoga saat ini wajahnya tidak merah merona karena lonjakan rasa senang yang melandanya begitu tiba-tiba.