Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Seperti Mimpi



Pesona langit malam pekat merayu, dihiasi bulan separuh dan gugusan bintang membaur satu. Berpendar dalam temaram nan syahdu, merengkuh penghuni bumi dalam tatapan sayu.


Ibel mengirimkan ucapan selamat dan turut berbahagia, juga meminta maaf tak bisa datang di hari bahagia sang sahabat lantaran dirinya kini lebih banyak tinggal di Belanda. Hana juga sempat berbincang riang bersama Viona, bercerita tentang Bima yang payah dan ketakutan saat mengikuti rencanya untuk membuat Viona cemburu.


Sedangkan Juna memilih memutar tubuhnya dan pergi dari sana tanpa menemui kedua mempelai, lalu mengirim pesan singkat pada Viona menyampaikan selamat dan meminta maaf tak bisa hadir dengan alasan kesibukan.


Pukul sebelas malam acara telah rampung. Mereka sekeluarga menginap di Hotel Hilton di mana pesta digelar, menyewa tiga kamar dengan kamar pengantin terletak di tengah. Nara yang sejak dari tempat pesta sudah tertidur dibawa Rima dan Abdul ke kamar yang mereka sewa. Annisa dan Malik pun sudah masuk ke kamarnya untuk beristirahat, begitu juga kedua mempelai. Selepas menyapa tamu hingga akhir acara, kini keduanya memasuki kamar pengantin mereka.


“Ah… lelahnya.” Viona mengeyakkan diri di sofa yang terdapat di kamar suit room tersebut. Memiringkan kepala ke kanan dan ke kiri, mecoba mengenyahkan pegal yang melanda.


Setelah pintu tertutup di belakang punggungnya, Bima mendekati Viona dan kedua tangannya mendarat di pundak Viona, memijatnya lembut membuat wanita cantik itu mendesah senang.


“Kamu capek? Kalau capek banget sebaiknya segera membasuh diri dan beristirahat,” ucap Bima dengan tangan yang bergerak seirama menciptakan rasa nyaman dan menyenangkan di pundak Viona yang pegal.


Viona menengadah, melempar senyum manis pada laki-laki yang kini telah menjadi suaminya lagi. “Pijatan Mas enak,” pujinya yang memang benar adanya, lalu Jemari lentiknya mengusap lengan kekar Bima.


Bima yang berdiri di belakang Viona, membungkukkan tubuh lebih dalam, mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Viona dengan gerakan sensual menggoda, menyapu bibir merah itu selembut kapas.


“Mau pijatan yang lebih enak?” ujarnya sambil tersenyum penuh arti.


“Yang lebih enak itu kayak gimana?” Viona malah balas menggoda. “Coba berikan contoh.”


“Mas pikir kita sedang ujian semester!” Viona tergelak ringan, pancaran rasa bahagia tak mampu disembunyikannya.


“Kalau gitu aku akan bersiap-siap menghadapi ujian ini supaya lulus dengan hasil memuaskan.” Viona bangun dan menggerlingkan matanya nakal sbelum beranjak masuk ke kamar mandi.


Bima menatap punggung wanita mungilnya yang kemudian menghilang di balik pintu kamar mandi dengan senyum mengembang terlukis di wajah tampannya. Masih terasa bagaikan mimpi, mereka kini bersatu kembali.


Dua puluh menit berlalu, Viona keluar hanya memakai bathrobe yang tersedia di kamar mandi. Baju tidurnya masih berada dalam tas pakaian ganti.


Terlihat di dekat kaca tembus pandang suaminya sedang memandang keluar meyaksikan kerlap kerlip lampu kota dari ketinggian.


Pemandangan punggung kekar dilengkapi kulit berwarna perunggu tak berpenghalang itu tampak seksi menggiurkan untuk diraba dan dicakar. Bima hanya memakai celana panjangnya saja, dia sengaja membuka jas serta kemejanya karena merasa gerah.


Viona menelan ludah, jantungnya berdebar tak karuan. Berada satu kamar lagi dengan Bima meski bukan yang pertama kalinya, tetap saja membuatnya dilanda kegugupan yang amat sangat, hanya saja kini desiran indah dan rasa mendamba menghiasi ruang hatinya.


“Ehm.. ehm. Mas, kalau mau mandi, a-aku udah siapin air hangat di bathub.” Viona mengusap tengkuknya canggung.


Bima berbalik begitu mendengar suara merdu wanitanya. Netranya seketika mengunci pada Viona yang ranum dalam balutan batrhrobe longgar kebesaran dengan rambut digulung ke atas menampakkan leher jenjangnya. Begitu menggoda untuk dicicipi, membuat sesuatu di dalam tubuhnya mulai berdesir dan menggeliat. Mendadak Bima diterjang serangan gugup, dia kemudian berdehem demi mengusir rasa canggungnya.


“Ma-makasih Vi. Aku mandi dulu.” Dengan langkah lebarnya Bima membawa dirinya masuk ke kamar mandi secepat mungkin.