
Ibel membulatkan mata, ini adalah kali pertama Viona mengiyakan ajakannya keluar rumah semenjak Bima ditangkap polisi. Gadis itu berjingkrak berteriak senang, suara cemprengnya hampir saja membangunkan Nara yang tengah terlelap.
“Isabela... jangan berisik! Ntar Nara bangun.” Viona bersungut-sungut pelan, meletakkan telunjuk di depan mulutnya geram.
“Opss… sorry, sorry. Saking senengnya gue lupa kalau Nara lagi Bobo,hehe,” sahut Ibel sembari cengengesan. “Lo serius kan?”
Sebetulnya Ibel sedikit keheranan, saat hendak membujuk dia sempat mengira mungkin butuh usaha ekstra hingga berhasil, akan tetapi di luar dugaan, Viona menyetujuinya tanpa banyak drama bermusim-musim.
“Iya serius. Tunggu di luar bentar, gue ganti baju dulu.”
“Oke, dandan yang cantik ya.” Ibel melangkah riang keluar kamar dengan senandung sumbang dari mulutnya.
Viona membaringkan Nara ke dalam box, kemudian setelahnya membuka lemari mengambil celana denim juga t-shirt serta hodie dengan model penutup kepala yang cukup lebar. Menyisir rambutnya yang semakin panjang dan mencepolnya dengan ikat rambut sembarang.
Ditatapnya pantulan dirinya di cermin. Wajahnya semakin tirus dengan mata panda yang kentara, guratan lelah juga jejak tangisan tak bisa disembunyikan, Viona menyapukan sedikit bedak tabur juga lipstick tipis-tipis untuk menyamarkan wajah pucatnya.
“Titip Nara ya Bu.” Viona masih berdiri di ambang pintu mobil Ibel, sedangkan kedua temannya itu sudah berada di dalam mobilnya masing-masing.
“Jangan khawatirkan, Nara. Pergilah, sayang. Kamu juga butuh hiburan.” Rima mengusap sayang kepala Viona.
“Kalau Nara nangis, ada ASI cadangan di kulkas. Aku nggak akan lama.”
Rima dan Abdul melambai kala mobil Juna juga Ibel meninggalkan garasi. Seulas senyum menghiasi wajah mereka, keduanya begitu senang ketika Viona mau diajak pergi keluar dan tak mengurung diri lagi di dalam rumah.
Viona turun dan masuk ke dalam restoran, ia memakai penutup kepala lebar dari hodie yang dipakainya hingga hampir menutupi sebagian wajah mungilnya. Dia memilih meja paling ujung yang jauh dari pandangan orang-orang, duduk di sana tanpa membuka penutup kepalanya.
“Vi, hodienya buka aja kali. Siang-siang terik begini lo pakai baju kayak gitu apa nggak gerah?” protes Ibel.
“Gue kedinginan, begini lebih nyaman,” sahutnya singkat sambil mengulas senyum yang dipaksakan.
Ketiganya makan siang menyantap menu favorit masing-masing. Ibel hanya memesan salad sayuran demi menjaga bentuk tubuhnya, profesinya sebagai model mengharuskannya menjalani diet ketat demi menjaga penampilan, meskipun sesekali dia menggerutu karena iri dengan hidangan yang dimakan Juna.
Juna memesan lasagna dengan tampilan dan aroma menggugah selera, melihat betapa lahapnya Juna menyantap makanannya membuat Ibel menelan liurnya karena sudah pasti rasanya sangatlah lezat. Sedangkan Viona sejak tadi hanya mengaduk-aduk fetucininya, baru satu suapan saja yang masuk ke mulutnya.
Ponsel Ibel berdering dan tertera panggilan dari orang tuanya, mereka memintanya untuk segera pulang lantaran orang tua Zoey mendadak datang berkunjung, dengan berat hati akhirnya Ibel berpamitan dan pulang lebih dulu.
Juna dan Viona sudah berada diparkiran, setelah selesai makan siang Viona mengajak Juna untuk segera pergi dari sana, meskipun makanan yang masuk ke perutnya tak kunjung bertambah dan hanya satu sendok saja sejak tadi. Viona duduk di kursi depan, dengan penuh perhatian Juna memasangkan sabuk pengaman begitu melihat Viona kembali melamun setelah menutupkan pintu.
“Vi, sebelum pulang mau mampir dulu ke tempat lain mungkin? seperti membeli makanan lainnya yang kamu inginkan? kuperhatikan tadi kamu hanya makan satu suapan saja,” ucap Juna dengan nada khawatir.
Viona tersenyum tipis dan mendesahkan napasnya berat. “Aku cuma lagi nggak nafsu makan aja. Tapi, bolehkah aku minta tolong, sebelum pulang aku ingin mampir ke suatu tempat.”
“Boleh, kamu mau pergi kemanapun akan kuantar,” sahut Juna antusias.
“Tolong, antar aku ke tempat Mas Bima. Aku ingin bertemu dengannya.”