
Panggilan tiba-tiba dimatikan. Viona panik merasa kehilangan, menghapus air mata dan bermaksud kembali menelepon Bima bersamaan dengan panggilan video call tertera di layar.
“Mas, kenapa dimatiin? Aku masih kangen,” protes Viona terisak sambil mengusap air matanya yang terus saja terjun bebas.
Demi apapun Bima ingin berlari menerjang pagar rumah Abdul dan dan merengkuh Viona ketika wajah wanita tercintanya terpampang di layar. Sembap dan pucat dengan kelopak mata bengkak, ingin sekali Bima mengecupi wajah itu penuh sayang.
Hatinya meringis perih, kala teringat kembali jika dulu ia sering membuat mata indah itu menangis. Bima berusaha memasang senyum menghibur di wajahnya yang sendu, ia tak boleh ikut menangis agar Viona yang tengah rapuh tak semakin melemah.
“Aku mematikannya karena ingin melihat wajahmu, dengan mata panda pun ternyata kamu tetap cantik,” ujar Bima sambil tersenyum diiringi tawa ringan.
“Mas!” pekiknya, lalu sesaat Viona tersenyum tipis.
“Vi, ada dua rekaman yang harus kamu dengarkan. Semua history rekaman di tanggal hari ini, kuharap itu berguna. Ingat, jaga kesehatanmu, kamu harus makan sayang. Atau, haruskah aku datang dan memanjat pagar kemudian naik ke kamarmu seperti di film-film agar kamu mau makan hmm?”
Viona ikut terkekeh meski wajahnya sembap luar biasa. “Aku akan makan," sahutnya.
“Semua pasti ada jalan keluarnya. Aku paham akan reaksi ayahmu, pasti tak mudah baginya menerimaku kembali yang pernah menorehkan kecewa teramat dalam di hatinya. Kita tak bisa menyalahkan ayahmu begitu saja, semuanya berawal dari kesalahanku, dan di sini sekarang aku ingin memperbaiki semuanya. Makasih, karena kamu mau berjuang bersama, merajut kembali ikatan yang telah kurusak.”
Viona tersenyum simpul dan matanya kembali memanas. "Makasih juga, karena Mas mau berusaha menjadi lebih baik untuk kami," jawabnya serak.
“Jangan menangis lagi, oke. I miss you, my love,” ucapnya dengan sorot mata penuh sayang.
“Mungkin sejak aku jatuh cinta padamu, hanya saja dulu aku bodoh.” Bima terkekeh pelan. “Sekarang makanlah dulu, setelah itu dengarkan rekamannya.”
“Hmm.” Viona mengangguk. “I miss you more,” ucapnya yang kemudian menyudahi panggilan.
Viona segera mengotak atik ponsel Bima mencari rekaman yang dimaksud. Ia mulai mendengarkan rekaman pertama, terdengar Bima berbincang dengan suara wanita yang lebih mendominasi. Dan di rekaman kedua adalah percakapan Bima dengan Arjuna.
Setelah mendengarkan semuanya Viona terdiam sesaat. Apakah dia jadi membenci Juna? Tidak, ia tak membencinya, karena Juna adalah salah satu manusia spesial dalam hidupnya, spesial sebagai seorang sahabat, tidak lebih.
Hanya saja terselip rasa kecewa merayap di hatinya, saat mengetahui Juna sampai hati bersembunyi darinya dan tak menyangka bahwa lelaki itu menggunakan kepercayaan ayahnya untuk memuluskan keinginannya.
Viona tahu bahwa keputusannya akan menyakiti Arjuna, dia sungguh minta maaf akan hal itu, tetapi itu lebih baik dari pada harus menumpuk dusta hingga akhir hayat.
Raut lega perlahan kembali membias di wajah pucatnya, setidaknya secercah harapan muncul setelah mendengarkan seluruh isi percakapan di dalam rekaman, terutama kenyataan bahwa ibunya Juna tak menyukainya juga tak setuju akan keinginan Juna bertunangan dengannya membuat Viona sangat bersyukur.
Ia bergegas mengambil air wudhu, kemudian menunaikan shalat isya. Bersujud memohon pada yang kuasa agar semua orang diberikan hati lapang, terutama ayahnya juga Juna. Semoga mereka dibukakan pintu hatinya juga dilembutkan kalbunya.
Setelahnya ia melahap dan berusaha menelan makan malamnya meski tak berselera. Seperti yang dikatakan Bima, dia harus kuat, demi Nara, juga demi ayah dari anaknya, agar bisa berjuang bersama-sama.
Dia akan menyalin terlebih dahulu rekaman ini dan meminta ibunya menyerahkan salinannya pada sang ayah, untuk berjaga-jaga jika Abdul tak percaya juga Juna mengelak, setidaknya ia masih punya rekaman aslinya. Ia percaya, jika orang tuanya tak mungkin membiarkan dirinya dipersunting oleh Juna sementara keluarga besar Juna menolak dirinya menjadi menantu.