
"Apa yang kamu inginkan?" tanya Bima tanpa basi basi lagi kepada Sesil dengan nada bicara tak sabaran.
Sekarang ini mereka sudah duduk saling berhadapan di sebuah cafe. Sesil tersenyum senang dengan santai dan angkuh, sementara Bima terlihat luar biasa gusar.
Sesil memang memiliki paras cantik dan tubuh seksi yang sudah pasti sangat mudah baginya menyihir para kaum Adam terutama para hidung belang. Namun, semua itu hanya indah di permukaan saja, karena sesungguhnya perilakunya bobrok berbanding terbalik dengan cangkang luarnya.
"Santai saja Tuan Bima. Atau, mulai sekarang aku harus membiasakan diri memanggilmu Mas Bima karena kini aku menampung benihmu yang sedang bertumbuh di dalam rahimku," ucap Sesil menyeringai tipis sambil menaikan salah satu alisnya.
"Jangan mimpi! Panggilan itu hanya untuk istriku. Jika anak yang kau kandung itu memang benar anakku maka aku akan bertanggung jawab sepenuhnya. Tapi ingat, aku hanya akan bertanggung jawab pada nyawa tak berdosa itu tidak termasuk dirimu. Sekarang mengenai harga untuk video sialan itu apa yang kamu inginkan?" seru Bima dengan gigi gemeletuk geram.
"Ck ... ck ... ck. Kamu sungguh tidak sabaran. Membuatku semakin tertarik padamu," celoteh Sesil yang melempar senyum genit kepada Bima.
"Hentikan semua basa basi ini! Kamu terlalu banyak membuang waktuku."
"Baiklah. Untuk video ini aku meminta satu juta dollar harga tukarnya. Bagaimana, cukup murah bukan? Aku yakin sangat mudah bagimu memberiku uang dalam jumlah itu," jawab Sesil sambil memainkan sedotan di gelas jus jeruknya.
Sebenarnya ia ingin memesan cocktail beralkohol, tetapi mana mungkin dia mengkonsumsi minuman semacam itu di hadapan Bima sementara saat ini dirinya mengaku tengah hamil. Bisa-bisa sandiwara tentang kehamilannya terbongkar mentah-mentah.
"Kamu benar-benar gila!" bentak Bima dengan mata membeliak murka.
"Ya, itu sih terserah padamu. Kalau kamu tidak bisa memenuhi jumlahnya jangan salahkan aku jika video ini berakhir di tangan polisi," ancam Sesil.
"Wow ... kamu semakin seksi jika sedang dalam mode mengancam seperti ini. Bagaimana kalau kita mampir dulu ke hotel terdekat sepulang dari sini? pesonamu membuatku ingin merasakan lagi malam bergelora yang pernah kita lewati bersama." Sesil berpindah tempat duduk ke samping Bima dan bergelayut manja tak tahu malu.
"Apa kamu tidak ingin menyapa anakmu di dalam sana?" desisnya. Terdengar hasrat yang tersirat dari air muka dan nada suara Sesil.
"Jangan sentuh aku j*lang!" Bima menepiskan tangan Sesil yang menggelayut di lengannya. Ia langsung berpindah duduk menjauh dari wanita gila itu.
Sesil mengerutkan wajahnya kesal karena ternyata Bima bukanlah pria yang mudah luluh dengan pesonanya, padahal ia sudah memakai baju yang terbuka dimana-mana dengan harapan Bima akan kembali terjerumus ke dalam pelukannya.
"Jika benar kamu menyanggupinya maka berikan uangnya padaku sekarang juga. Barulah file asli ini akan kuberikan." Sesil mengeluarkan memori card dan juga kamera berukuran mini dari dalam tasnya.
"Berikan dulu semua barang itu padaku. Setelahnya barulah akan kukirimkan uangnya," pintanya dengan ujung bibir berkedut menahan luapan emosi.
Bima duduk menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, kedua tangannya terlipat di dada dengan raut wajah datarnya.
"Bagaimana kalau kamu berbohong? Tidak ada jaminan bagiku setelah kuberikan semua barang ini padamu bahwa kamu akan menepati kata-katamu," seru Sesil sengit.
"Aku bukan pecundang! Jadi cepat serahkan barang-barang itu dan juga nomor rekeningmu. Akan kutransfer uangnya sekarang juga!"