Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Hari H



“Sayang, mana dasiku?” seru Bima yang tengah sibuk berpakaian di depan cermin. Hari ini adalah hari pernikahan Adrian, mereka berencana berangkat pagi-pagi sekali untuk menghindari kemacetan di akhir pekan karena pernikahan dilaksanakan di tempat asalnya Nia, memakan waktu sekitar empat jam perjalanan untuk sampai di sana.


Hari ini Juna juga menikah, Abdul serta Rima lah yang datang mewakili lantaran hari pernikahannya bentrok dengan Adrian. Bagaimanapun juga, Abdul dan Rima pernah begitu dekat dengan Juna, dan sebagai orang tua, Rima selalu ingat akan kebaikan Juna pada anak dan cucunya selama ini. Ia datang untuk mendo'akan, memberi selamat, juga mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya.


“Tunggu sebentar, Mas. Dasinya ada sama aku,” sahut Viona setengah berteriak dari kamar Nara. Pintu kamar mereka terbuka kedua-duanya. Viona sedang menalikan pita belakang gaun putri cantiknya.


Bima ikut masuk ke kamar Nara dan Viona segera menghampiri. Berjinjit mengalungkan dasi dan Bima sengaja membungkukkan tubuh jangkungnya untuk memudahkan Viona membantunya. Wanita cantik berbulu mata lentik itu menyimpulkan dasi dengan cekatan bertabur cinta dalam setiap sentuhannya.


“Bunda, bando warna pink kesukaanku di mana?” rengek Nara sambil mengacak-acak laci tempat asesorisnya.


“Iya sebentar, Sayang. Bunda cariin abis ini.” Viona menjawab tepat ketika merampungkan mengikat dasi.


Begitulah aktivitas pagi di rumah besar berhalaman luas itu. Anak Viona bukan cuma Nara dan si baby boy di dalam perutnya, tetapi sang suami lebih seperti anak sulungnya yang juga merengek meminta diperhatikan ini dan itu setiap hari.


Viona mensyukuri semua itu, senyuman selalu menghiasi wajah cantiknya, menikmati hari-harinya sebagai seorang istri juga ibu. Dan kini memilih untuk lebih banyak fokus pada suami serta anaknya dan barulah di sisa waktunya ia mengurus butik. Bima juga mencari dan menggaji orang-orang yang kompeten di bidang fashion untuk membantu bisnis sang istri.


Mereka berangkat sekitar pukul setengah enam pagi. Bima memutuskan untuk membawa sopir juga Bik Yati. Memilih untuk tidak mengemudi karena ingin perjalanan akhir pekan ini dapat selalu memeluk istri dan buah hatinya.


Perjalanan lancar sesuai harapan. Mereka tiba tepat sebelum akad dimulai. Ibunya Adrian langsung menyapa, menyambut Bima sekeluarga dan mempersilakan masuk.


Acara akad berlangsung haru dan khidmat. Hanya dihadiri kerabat dan orang-orang terdekat karena pasangan Adrian dan Nia ingin pernikahan mereka terasa momen sakralnya. Untaian do’a bertasbih dari setiap insan yang menghadiri, juga ucapan selamat menempuh hidup baru berderai dari para tamu.


“Waktu cutimu kuperpanjang jadi sepuluh hari. Nikmati waktumu, dan ini hadiah tambahan dariku.” Bima merogoh saku jasnya, memberikan sebuah amplop panjang pada Adrian.


Adrian membuka amplop tersebut dan cukup tercengang akan isinya. Di dalamnya berisi tiket pesawat pulang pergi dan paket bulan madu mewah di Bali untuk lima hari. “Pak Bima, ini terlalu mewah. Bahkan Anda sudah memberi hadiah juga sebelumnya, diberi waktu cuti tambahan saja saya sudah sangat senang.” Adrian tampak sungkan, bagaimanapun juga ia tahu harga paket bulan madu yang diberikan Bima bukanlah harga yang murah bagi seorang karyawan seperti dirinya, bisa ditebak dari harga Villa yang dibooking yang permalamnya bisa mencapai angka 25 juta rupiah.


“Kamu bukan hanya sekertarisku. Tapi sudah seperti keluargaku. Terimalah, bahkan ini tidak sebanding dengan pengabdianmu pada perusahaan juga keluargaku. Papaku juga ikut andil merencanakan ini. jadi tidak boleh menolak.”


“Benar, Adrian. Pergilah berbulan madu dan nikmati waktu cutimu,” timpal Viona seraya tersenyum hangat yang muncul dari belakang punggung Bima setelah sebelumnya bercakap-cakap dengan Nia untuk memberi selamat.


“Bunda, ayo pulang!” rengeknya untuk yang kesekian kali dengan wajah kesal, entah apa yang membuat putri cantiknya merajuk tiba-tiba.


“Iya, iya. Ayo kita pulang.”


****


“Mas, perutku kok mules ya. Kayaknya tadi asinan buah yang ada di menu hajatan kepedesan.” Viona meringis-ringis, mengusap-usap perut bagian bawahnya yang terasa mulas juga ngilu.


Bima yang duduk di sebelah kanan Viona langsung waspada begitu mendengar kata mules. “Apa mungkin, mau melahirkan?” ujarnya panik, lalu ikut mendaratkan telapak tangan di perut buncit sang istri.


Viona terkikik geli, memasuki hari perkiraan lahir Bima seperti orang paranoid, lebih tegang dari orang yang akan menjalani persalinan. “Ini mulas berbeda, Mas. Aku masih ingat betul bagaimana rasanya mulas mau melahirkan,” ucap Viona menenangkan.


“Iyakah? Kamu yakin? Semalam saat selesai dijenguk bukannya dia menendang lebih kencang dari biasanya? Apakah mungkin dia memberi tanda pada kita bahwa sebentar lagi akan melihat dunia? Bagaimana ini, untuk sampai ke Bandung masih sekitar dua jam perjalanan lagi.” Bima melirik arlojinya, lalu kembali meraba-raba perut buncit Viona dengan wajah cemas.


“Ya ampun, Mas. Ini beneran bukan yang mulas itu. Kita berhenti di pom bensin terdekat saja, aku ingin ke toilet.”


Memang benar yang dirasakan Viona saat ini tidak serupa dengan mulas pada saat hendak melahirkan Nara dulu, ia meyakini mulasnya kali ini efek dari asinan pedas yang dimakannya. Lagi pula tanggal perkiraan lahir masih sekitar lima hari lagi.


“Bunda, apa ini?” tanya Nara yang duduk di sebelah kiri Viona. Bocah itu menunjuk cairan bening yang menggenang di jok, merembes dari bawah paha bundanya.


“Ini apa ya?” Viona juga ikut kebingungan.


Setelah dirasa-rasa dan diraba, ternyata pantatnya menggenang basah. Viona terkesiap, menoleh perlahan pada Bima dengan wajah bingung dan berkata,” Mas, sepertinya aku akan melahirkan."


“Apa!”