
Pagi-pagi buta Bima keluar dari rumah dan mengendarai mobilnya sementara Viona masih bergelung selimut. Bima meninggalkan secarik kertas di nakas dekat ranjang menuliskan di sana bahwa ia hendak pergi sebentar karena ada urusan mendadak.
Meskipun malas karena ini akhir pekan, dengan terpaksa Bima berangkat menjemput Sesil untuk mengantarnya ke rumah yang telah disiapkannya untuk ditinggali wanita yang mengaku tengah mengandung anaknya itu.
Bima tak menyuruh orang ataupun bawahannya untuk menjemput dan mengantar Sesil lantaran tak ingin masalah sialan ini terendus oleh orang luar. Berusaha menutupinya serapat mungkin dengan melakukan semuanya sendiri.
Mobil Bima berhenti di depan sebuah rumah berdesain minimalis di hunian elit yang letaknya agak jauh dari pusat Kota Bandung. Raut wajah Sesil tampak puas karena Bima memilihkan tempat tinggal yang sesuai dengan seleranya.
"Ini adalah tempat tinggal yang kau minta. Jangan coba-coba bertingkah dan tinggallah di sini dengan tenang hingga hari kelahiran tiba. Setiap satu bulan sekali akan kutugaskan dokter kandungan yang kutunjuk untuk memeriksa kondisi anakku. Semua kebutuhan yang berkaitan dengan kehamilanmu akan dijamin sampai melahirkan, kamu hanya perlu diam di sini dan jangan pernah berani membuka mulutmu kepada siapapun kecuali ingin kita berdua berakhir di jeruji besi. Camkan itu!" tegas Bima.
"Baik, baik ... tapi itu tergantung bagaimana sikapmu padaku. Kamu tidak melupakan tentang biaya bulanan pribadiku juga kan? Aku pun punya kebutuhan pribadi, bukan cuma janin dalam kandunganku. Kalau kamu melupakannya aku akan muncul di butik istrimu dengan perut membesar," ancam Sesil santai sambil memainkan kuku-kuku di jari tangannya.
"Akan kuberikan biaya yang kamu minta asalkan kau kunci mulutmu rapat-rapat dan jangan berani mengganggu istriku!" seru Bima yang kemudian disusul sebuah tinju di pintu kayu rumah tersebut tepat di samping wajah Sesil.
"Ak-aku tahu!" jawab Sesil yang terperanjat kaget ketika Bima bereaksi menakutkan dengan sorot mata tajam seakan menghunusnya.
Tanpa menoleh lagi, Bima langsung tancap gas mengendarai mobilnya dari sana. Ia ingin segera kembali pulang karena ingat belum memberikan kado ulang tahun untuk Viona.
Di pertengahan jalan Bima mampir ke sebuah toko Bunga dan memesan sebuket besar bunga untuk Viona. Bima berdiri termangu ketika pelayan bertanya tentang jenis bunga apa yang akan dibelinya, ia tidak pernah tahu varian bunga kesukaan istrinya karena tidak pernah bertanya.
Karena kebingungan, akhirnya Bima memesan sebuket bunga yang dirangkai menggunakan beberapa jenis bunga-bungaan yang ada di sana, berharap Viona menyukainya dan menerima permintaan maafnya karena telah melupakan hari ulang tahunnya.
*****
Sebuah senyuman merekah dengan manis di wajah cantiknya. Viona meletakkan piring berisi roti panggang yang dipegangnya ke atas meja makan, kemudian berbalik badan menjadi berhadapan dengan Bima.
"Maaf aku terlambat mengucapkannya dan melupakan ulang tahunmu," desah Bima dengan suara pelan sarat akan rasa bersalah.
"Terima kasih, Mas." Viona memeluk tubuh tinggi itu dan Bima balas merangkulnya.
"Mintalah apapun hadiah yang kamu inginkan, aku pasti akan mengusahakannya," tanya Bima.
"Beneran boleh?" Viona mendongak menatap wajah suaminya.
"Hmm ...." Bima mengangguk meyakinkan.
"Kalau boleh, aku ingin pergi berlibur berdua bersama Mas ke daerah puncak yang sejuk. Kita pergi berlibur ke tempat yang dekat saja karena aku sekarang sedang hamil besar," pinta Viona penuh harap.
"Tentu saja. Kita berangkat ke puncak siang ini juga sesuai keinginanmu." Bima merengkuh wajah Viona dan menghadiahkan kecupan mesra di bibir merahnya.
"Aku akan bersiap-siap." Viona begitu bersemangat dan hendak beranjak, tetapi Bima menahannya.
"Duduklah dulu, bukankah itu roti untuk sarapanmu? Ayo sini, kusuapi." Bima menarik kursi makan, menghela tubuh Viona supaya duduk di pangkuannya.
Rona merah muda merebak di wajah Viona, tersipu sambil membuka mulut menerima suapan Bima. Ia menerima segala curahan cinta dan sayang dari suaminya, tanpa buat tahu bahwa Bima kini tengah dilanda gundah gulana