Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Sweet Moment



Sebuah lengan kekar memeluknya dari belakang diiringi kecupan mesra di pipinya. Viona tak bisa menahan diri untuk mengukir senyuman kemudian memejamkan mata, meresapi kehangatan dari seseorang yang mendekapnya juga aroma menyenangkan yang amat dirindukannya.


“Mas Bima.”


“Hemm.”


“Kita di mana?”


“Coba lihat ke sana.” Bima mengarahkan telunjuknya ke hamparan rerumputan hijau yang sudah ditata sedemikian indahnya, meja-meja berjejer dilapisi kain satin putih dilengkapi bunga-bunga berwarna warni, juga terdapat rangkaian bunga indah ditata melengkung seperti podium pernikahan.


“Ini apa?”


“Ini pesta pernikahan,” sahut Bima.


“Pernikahan?” Viona tampak bahagia, ia mengurai pelukan dan berbalik. Namun, sesuatu tak terduga hadir di hadapannya, di balik punggungnya ternyata juga ada Hana bukan hanya Bima.


“Kami akan menikah,” ucap Bima dan Hana serentak yang kemudian bergandengan tangan.


Viona terperangah. Mereka melangkah pergi sembari melempar senyum padanya. Bima dan Hana semakin menjauh ke tempat pesta sedangkan tubuhnya sama sekali tak mampu digerakkan.


Kakinya seakan dipaku ke bumi, tubuhnya kaku tak mau menuruti. Viona ingin berlari ke sana dan menghentikan sumpah pernikahan mereka, seolah alam memaksanya untuk menyaksikan dengan mata dan kepalanya sendiri adegan paling menyeramkan yang pernah dilihatnya.


“Nggaaak… Mas Bima, hentikan! Bukankah kamu pernah mengatakan ingin kita kembali bersama? Ayo, aku bersedia… aku ingin kita bersatu lagi. Aku, kamu dan juga Nara. Tolong hentikan pernikahan ini, aku masih mencintaimu, Mas. Maafkan aku yang telah membohongi perasaanku sendiri. Kumohon jangan menikah dengan Hana,” racaunya seperti orang gila.


“Hentikaaaaaan!”


Viona tersentak bangun dibarengi teriakan yang keluar dari mulutnya. Napasnya memburu, dadanya tersengal naik turun, peluh bermanik di pelipisnya juga sudut matanya basah lantaran air mata ikut luruh dari netranya.


Pandangannya menyapu sekitar masih dalam isakan yang tertahan. Ternyata ini adalah kamarnya, Viona mendudukkan diri lalu mengusap wajahnya, ia menelan ludah sembari menetralkan deru napas yang tak beraturan.


“Ternyata cuma mimpi buruk. Syukurlah ini hanya mimpi,” desahnya parau dengan embusan napas lega.


Diraihnya ponsel di nakas dekat kepala ranjang, waktu menujukkan pukul dua pagi. Ia membuka aplikasi pesan WhatsApp dan memeriksa riwayat aktif Bima. Di sana menunjukkan bahwa lelaki itu aktif lima menit yang lalu.


Mengesampingkan gengsi dan rasa malunya, Viona mengetikkan pesan di sana. Tak peduli jika hal itu mengganggu sekalipun.


Tadi jam sepuluh aku tertidur dan terbangun satu jam yang lalu, sekarang aku terjaga tak bisa memejamkan mata lagi. Ada apa Vi? Kenapa belum tidur, ini sudah dini hari.


Nggak ada apa-apa. Cuma iseng aja.


Atau kamu juga nggak bisa tidur? Mau kutemani? Bima mengirim emoji tertawa juga merayu berbentuk hati.


Viona meraba pipinya yang tiba-tiba memanas, melipat bibir mengulum senyumnya malu-malu.


Kalau aku beneran pengen ditemenin gimana hayo? Dengan lincah jemari Viona menari di keyboard ponsel.


Viona yang selama ini tak pernah genit ataupun merayu mendadak melontarkan kalimat semacam itu. Matanya fokus memelototi ponselnya ingin tahu seperti apa balasan dari Bima. Lima menit berlalu, Bima belum membalas pesannya, lima belas menit berikutnya keadaan masih sama, hingga waktu berlalu 45 menit masih tak kunjung di balas juga.


Ia mendesah frustrasi dan merutuki diri, pasti sekarang Bima menganggapnya wanita murahan.


“Haish dasar bodoh!” Viona mengacak rambutnya sendiri dan mengerang frustrasi.


Ponselnya kembali berbunyi, di sana tertera panggilan langsung dari Bima, bukan pesan singkat.


Viona berusaha meredam detak jantungnya yang melompat-lompat menggila, ia cemas dengan tanggapan Bima tentang isi pesannya tadi.


“Ha-halo Mas. Maaf, tadi itu aku cu_”


“Lihatlah keluar jendela,” pinta Bima.


Viona mengerutkan kening, turun dari tempat tidur lalu berlari ke dekat jendela kamar dan menyingkap gordennya.


“Bukankah kamu ingin ditemani? Aku ada di sini. jadi sekarang tidurlah,” ucap Bima.


Senyum merekah yang berusaha disembunyikan mengembang begitu saja di wajah cantik Viona. Dari jendelanya dia melihat Bima melambai melalui jendela mobil Chevrolet Camaro warna putihnya yang terparkir di halaman rumah. Jadi ternyata Bima lama membalas pesan lantaran langsung meluncur ke rumahnya, sungguh manis sekali bukan?


*****


Bagi yang aplikasinya sudah di update, vote sekarang bukan hanya memakai poin dan koin melalui kolom hadiah saja, juga bisa vote dengan kupon mingguan untuk mendukung cerita kesayanganmu. Jangan lupa berikan dukungan melalui kolom hadiah dan vote kupon kalian untuk Mas Bima dan Viona, thank you all💕😘.