Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Bala Bantuan



Mobil Chevrolet warna putih itu membelah jalanan yang masih cukup ramai. Di malam minggu begini banyak muda-mudi keluar rumah untuk menghabiskan waktu berkumpul bersama. Entah itu dengan pasangan maupun teman. Seperti sekadar menyusuri jalanan, makan bersama atau minum di kedai kopi. Membuat lalu lintas kota Bandung padat merayap.


Dengan punggung tangannya Bima mengusap air bening yang luruh di wajah tampannya, menarik napas panjang dan mendesah pelan. Kakinya menginjak rem dengan halus kala melihat lampu lalu lintas berwarna merah, memelankan laju kendaraannya hingga akhirnya berhenti sempurna menunggu dengan mobil lainnya sampai lampu berubah warna.


Gerimis ringan mulai turun, menyapa lembut mendarat di kaca depan mobilnya. Orang-orang yang berlalu lalang hiruk pikuk mencari tempat berteduh. Disekitarnya sangatlah ramai, tetapi Bima merasa begitu sepi.


Tusukan rindu makin menghujam kalbu, terpaan cahaya lampu jalan membias temaram di wajahnya yang sendu. Jiwanya terhimpit pilu, yang tersisa kini hanya sunyi menyembilu.


Malam ini Bima memutuskan untuk pulang ke rumah utama, ingin menghabiskan waktu bercengkerama dengan orang tuanya berharap mampu mengusir segala gundah.


Di garasi rumah besar itu terparkir beberapa mobil yang setahunya bukan milik Papanya. Bima melirik sekilas dan beranjak ke halaman, lalu matanya menangkap seseorang yang dikenalnya duduk di gazebo taman samping, ia bergegas ke sana dan menghampiri.


“Hana, kamu di sini?”


“Eh, Kakak. Aku mengantar Ibuku. Dia sedang berdiskusi tentang kunjungan ke panti jompo besok dengan Tante Annisa juga teman-teman sebayanya. Selaku sopir lebih baik menunggu di sini, aku tak paham dengan obrolan di dalam sana.”


Hana berucap ceria seperti biasanya, meskipun cerita hidupnya juga banyak dirundung kepedihan, tetapi tak lantas menjadikannya sosok wanita yang lemah dan bersedih, justru Hana semakin kuat juga tegar.


Bima tertawa kecil. “Ibumu beruntung sekali, sopirnya sangat setia.” Bima duduk mengenyakkan diri di sebelah Hana.


Hana terkikik geli. “Tumben Kakak ada di sini. Bukankah sekarang duda keren ini lebih suka tinggal di apartemen? Entah benar supaya merasa lebih tenang, atau agar bebas membawa masuk para wanita cantik?” ledek Hana sengaja dengan mata memicing.


“Aku memang bukanlah manusia baik, tapi aku pantang bermain wanita. Hanya pernah ada satu wanita dalam hidupku.” Bima tersenyum sekilas. Menyandarkan diri di sisi gazebo, lalu menengadah memandang langit gelap yang berpadu gerimis.


“Dan sekarang wajahmu kusut disebabkan wanita satu-satunya di hatimu itu?”


“Dia akan bertunangan,” ucap Bima dengan nada rendah dan getir.


“Viona?”


“Hmm.” Bima mengangguk pelan.


“Entahlah, aku tak tahu. Mungkin karena diri ini terlalu berharap bahwa masih aku di hatinya.”


“Kakak menyerah padanya? Tak mau berjuang lagi untuk medapatkan mereka?”


“Aku sangat ingin hingga frustrasi rasanya, memikirkan dia akan menghabiskan hidup bersama lelaki lain hatiku nyeri. Tapi jika terlalu memaksa aku takut cintaku malah melukai Viona.”


“Sudah Kakak pastikan?” tanyanya lagi.


“Tentang?” Bima menoleh pada Hana dengan dahi berkerut.


“Tentu saja tentang perasaannya padamu. Sudahkah Kakak mencari tahu?”


“Aku tak bisa memastikan, juga tak tahu bagaimana cara untuk mengetahui tentang perasaannya padaku yang sebenarnya. Yang kutahu pasti, dia marah dan benci padaku, tapi juga tetap peduli saat aku sakit.”


“Hhhh… kenapa tidak mencoba mencari tahu lebih dalam lagi? Jangan sampai ada penyesalan lainnya di kemudian hari,” desak Hana. “Sebelum janur kuning melengkung kesempatan itu masih ada.”


“Bagaimana caranya?”


Hana berdecak dan menggaruk kepalanya tak gatal. “Kakak itu sudah nggak muda lagi, tapi mencari tahu hal begini saja tak paham! Hadehhh.”


“Satu-satunya wanita yang pernah masuk dalam hidupku hanya Viona. Aku mungkin lihai dalam berbisnis, tetapi untuk urusan memahami perasaan wanita aku amatlah bodoh.” Bima tersenyum kecut.


“Butuh bala bantuan? Untuk memastikan perasaannya padamu?” tawarnya lugas.


“Kamu tahu bagaimana caranya?” Bima mulai memokuskan diri lantaran kata-kata Hana barusan menarik perhatiannya.


“JIka mau, aku bisa membantu,” sahutnya penuh percaya diri.