Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Diringkus



Yoga dan antek-anteknya langsung diringkus dan diamankan pihak berwajib. Tak lupa uang tunai juga mobil mewah yang dibawa Bima segera diamankan polisi untuk dikembalikan kepada pihak keluarga.


Yoga yang terluka di bahu dan kaki kanannya tak hentinya meraung kesakitan dalam kondisi tangan terborgol. Dua preman berperawakan kurus hanya tertunduk gelisah, sementara si gempal yang tadi sempat ngompol malah tampak ingin menangis.


Nia juga diminta polisi untuk ikut serta dalam posisi sebagai saksi. Ia akan dibawa terpisah menggunakan mobil lainnya. Adrian yang baru selesai berkoordinasi dengan polisi melirik tipis ke arah Nia yang tak kunjung masuk ke dalam mobil.


Nia terus tertunduk seraya terdiam seribu bahasa. Tidak berbicara maupun menangis. Kedua tangannya yang terkena cipratan darah yang mulai mengering, terjalin satu sama lain dan tampak gemetaran tak kunjung berhenti lantaran dilanda serangan shock atas tindakannya sendiri.


Adrian yang melihatnya merasa iba. Ia mengambil sapu tangan dari saku celananya kemudian mengepalkannya ke tangan Nia. Gadis rapuh itu berjengit kaget dan langsung menoleh waspada.


“Pakailah sapu tanganku untuk menyeka darah yang mengenai tanganmu," ucap Adrian sambil mengulas senyum prihatin.


Nia mengangguk pelan dan kembali menunduk. “Te-terima kasih, Pak Adrian.”


Adrian mengangguk sekilas, kemudian berpamitan langsung tancap gas menyusul ambulans yang membawa Bima bersamaan dengan iring-iringan mobil polisi juga meninggalkan TKP.


****


Ambulans membelah jalanan. Bunyi sirenenya yang selalu sarat akan kengerian yang mencekam membuat pengguna jalan lain menyingkir dan memberi akses penuh agar si putih beroda empat itu melaju leluasa supaya segera sampai secepat mungkin. Dalam kurun waktu lima belas menitan, mobil sampai di lobi rumah sakit terdekat.


“Nyonya, silakan tunggu di luar,” pinta perawat menghentikan langkah Viona.


Viona dengan napas terengah sambil terisak menatap nanar pintu yang tertutup. Dua orang polisi yang terdiri dari pria dan wanita yang tadi ikut serta naik ke ambulans, berusaha menenangkan dan membujuk Viona untuk duduk di kursi yang tersedia.


“Nyonya, sebaiknya Anda duduk dan beristirahat. Anda harus memerhatikan kandungan juga,” ucap si polisi wanita mengingatkan.


Viona menggeleng. “Saya ingin tetap di sini,” sahutnya lirih.


Viona masih enggan, tak ingin beranjak dari depan pintu ruangan di mana Bima ditangani. Ia terus menatap lurus pintu putih tersebut sambil menangis tersedu-sedu menyembilu. Ia takut hal buruk dan fatal menimpa Bima. Viona merasa begitu bersalah, karena dirinya yang meminta melonggarkan pengawalan ketat membuat suaminya berakhir seperti sekarang.


Wajah cantiknya basah, sembab juga sedikit lebam dengan sisi bibir terluka. Rambutnya kusut masai, keringat pun bermanik di dahinya, serta pakaian dan tangannya ikut terpercik noda darah yang kini mulai mengering, cairan merah yang berasal dari luka di kepala Bima.


“Nyonya, luka di wajah Anda sebaiknya segera diobati. Mari,” pinta salah seorang perawat yang menghampirinya.


“Benar Nyonya. Anda juga harus ingat kondisi tubuh dan janin. Sebaiknya Anda juga diperiksa secara menyeluruh, untuk memastikan kondisi Anda dan bayi dalam kandungan. Saya yakin, Pak Bima pasti tidak ingin melihat Anda abai terhadap diri sendiri,” ucap Adrian yang ikut membujuk. Ia baru saja sampai di rumah sakit.


“Nanti saja. Aku yakin kandunganku dalam keadaan baik. Sebelum memastikan kondisi Mas Bima seluruhnya, aku takkan beranjak seinci pun dari sini,” jawab Viona fak ingin dibantah.