
Bima memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Lampu merah pun diterobos tak diindahkannya. Bahkan telinganya seolah tuli dan tak peduli dengan klakson mobil lain yang berbunyi bermaksud memperingatkannya.
Pikirannya kacau balau, jiwa dan raganya lelah luar biasa. Suasana hatinya benar-benar buruk. Semua hal mendadak ini sungguh memukulnya dan membenamkannya hingga ke dasar.
Sebuah kenyataan yang sudah pasti melukai hati istrinya. Suaminya mempunyai anak dari wanita lain dibelakangnya? Membayangkannya saja membuat Bima merasa sesak tiada tara. Kecerobohannya berbuah masalah. Betapa sakitnya hati Viona jika dihadiahkan kado pahit semacam ini.
*****
Bima sampai di rumah dengan penampilan kusut serta acak-acakan, Viona menyambut kedatangannya dan terkejut mendapati suaminya tampak lusuh dengan wajah tampannya yang terlihat lelah.
"Mas kenapa?"
Viona memindai dengan cemas keseluruhan diri Bima dari atas hingga sepatu yang dipakainya. Ia menggandeng lengan Bima dan membawanya duduk di sofa, kemudian wanita hamil itu bersimpuh hendak membuka sepatu suaminya. Awalnya ia bermaksud berjongkok, tetapi perutnya yang sudah membuncit besar membatasi ruang geraknya.
"Aku bisa sendiri Vi, kamu kan susah geraknya. Jangan dipaksain ya, kasihan bayi kita di dalam sana." Bima meraih tangan Viona dan berusaha tersenyum meskipun sulit.
"Nggak apa-apa Mas, aku hanya ingin melakukan hal kecil untuk menghibur suamiku yang kelelahan setelah seharian bekerja," jawabnya penuh perhatian.
Menyaksikan Viona yang bersikap begini membuat rasa bersalah semakin bercokol kuat di hatinya. Bima makin berandai-andai meresapi setiap rasa menyiksa di dalam kalbunya.
Andai saja ia bisa menghentikan kebiasaan buruknya lebih awal, andai saja waktu bisa diputar kembali, andai saja dirinya tak diperbudak oleh barang haram itu dan andai saja hari itu ia tak berkunjung ke apartemen Reva mungkin semua ini takkan pernah terjadi.
"Mas," panggil Viona kembali karena melihat Bima malah tertegun seolah pikirannya menerawang entah kemana.
"Sebenarnya ada apa? Apakah ada hal buruk yang terjadi di perusahaan," tanya Viona ingin tahu karena tak mungkin suaminya tiba-tiba berubah kusut dan banyak melamun tanpa alasan.
"Baiklah. Atau ... mau mandi bersama?" tawar Viona sengaja menggoda sembari mengigit bibirnya.
Bima terkekeh pelan. Istrinya yang polos kini sudah berani menggodanya.
"Jangan memprovokasiku, Sayang. Aku terus meracuni otakku dengan mengingat pesan dokter agar berhati-hati, dikhawatirkan terjadi kontraksi palsu jika dalam kondisi hamil besar begini aku terlalu sering menyembur di dalam sana," jelasnya tanpa rasa malu sedikitpun membuat semburat merah membaur di wajah cantik Viona.
"Aku hanya menyarankan untuk mandi bersama, bukan melakukan itu," sanggahnya sembari mencebik sebal.
"Aku takkan bisa mengontrol diri jika melihatmu tanpa busana, tapi karena kamu sudah menyarankan sepertinya ide itu bagus juga untuk menyegarkan tubuh serta pikiranku yang lelah," ujarnya dengan seringai mesum.
Tak berlama-lama, Bima segera menggendong Viona dengan hati-hati menuju kamar mandi. Mereka saling melucuti pakaian masing-masing kemudian berendam bersama di dalam bathtub menggunakan air hangat yang dicampur aroma terapi untuk relaksasi.
Awalnya benar hanya mandi bersama dengan tenang sambil saling menggosok tubuh masing-masing, tetapi lama kelamaan terus-menerus bersentuhan kulit membuat keduanya mulai terbawa arus yang sudah beberapa waktu ini banyak diliburkan sesuai saran dokter.
"Aku menginginkanmu Vi," bisik Bima parau penuh hasrat di telinga Viona.
"Aku juga ingin dirimu Mas," desah Viona dengan dada tersengal naik turun karena gairah mulai membakarnya.
*****
Terimakasih yang tak terhingga pada semua my beloved readersku tersayang yang masih tetap setia mengikuti cerita ini. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian setelah membaca ya, dukungan kalian jadi penyemangat buatku untuk terus menulis.
love you all 💕😘