
Hari syukuran kehamilan Viona telah tiba. Sengaja agak dimundurkan menunggu hingga Bima dinyatakan sembuh. Usia kandungan Viona kini menginjak minggu ke tujuh belas, dan beberapa hari yang lalu mereka sudah bisa mengintip jenis kelamin si jabang bayi.
Kegembiraan jelas terpancar dari sorot mata dan wajah Bima. Dokter menyatakan jenis kelamin adiknya Nara adalah laki-laki. Kondisi ibu dan bayi dalam keadaan sehat. Para orang tua pun ikut berbahagia, menyambut kehadiran anggota keluarga baru dengan untaian do’a juga penuh suka cita. Nara yang kini paling heboh, ingin segera bertemu adik bayinya dan mengatakan ingin membelikan hadiah bola sepak berwarna pink.
Gelak tawa para orang tua pecah. Cucu pertama mereka memanglah selalu mampu menghidupkan keceriaan. Bahkan tanpa mereka sadari, si pemersatu orang tuanya juga luluhnya ego Abdul pun adalah Nara sebagai jalanya. Itulah mengapa anak sering juga disebut sebagai anugerah, seperti halnya Nara yang juga menjadi anugerah bagi keluarganya.
Tidak seperti saat syukuran kehamilan pertama Viona. Dulu Bima cuek saja bahkan tak banyak tak peduli, merasa acara semacam ini merepotkan, membuat bising juga hanya memberantakkan rumah. Namun kini, Bima ikut berdo’a dengan khidmat, mengikuti jalannya acara pengajian dari awal hingga selesai.
Sejumput rasa ngilu juga nelangsa menyelinap menghinggapi kalbunya. Bima tak mampu menahan diri untuk tidak memeluk Nara yang duduk di pangkuan. Begitu erat, berlumur cinta juga rasa bersalah, pernah abai akan kehadiran putri tersayangnya dulu saat masih dalam kandungan Viona.
Pelupuk matanya berlinang seiring rasa sesak yang bercokol di dalam dada. Bima merasa berdosa dan menggaungkan untaian maaf dalam hatinya pada si buah hati. Menghujani kepala Nara dengan kecupan sayang membuat bocah cantik itu mendongak.
“Kenapa Ayah nangis?” Nara meraba sisi wajah ayahnya dan menepuk-nepuknya lembut.
“Ayah cuma lagi seneng, karena sekarang bisa meluk Nara lagi dengan kedua tangan Ayah.” Bima berujar rendah dengan suara parau.
Nara bangkit dan mengusap air mata Bima. “Kalau seneng gak boleh nangis. Ayah harus senyum, kayak gini.” Nara menarik ke atas kedua sudut bibir Bima sembari tersenyum riang.
Bima menarik kedua sudut bibirnya dan kembali meraup Nara ke dalam pelukannya. Mendekap sang anak dengan untaian maaf yang terus bertasbih dalam hati.
*****
Siang telah berganti malam. Panasnya matahari digantikan kekuasaannya dengan sejuknya sang pemilik kelam. Membelai Bumi untuk menyerah dalam rayunya, pasrah pada pesona memikat gelapnya meski menyimpan sejuta rahasia.
“Nara udah tidur?” tanya Viona yang melihat Bima menuruni tangga. Ia sedang menyeduh susu hamil di ruang makan. Meminum susu hamil menjadi ritual rutinnya semenjak mengandung lagi.
“Baru saja. Kenapa nggak minta pelayan yang bikin?” Bima menunjuk gelas yang dipegang Viona.
“Para pelayan pasti kelelahan setelah sibuk mengurus acara tadi siang. Biarkan saja mereka beristirahat. Lagian Ini cuma hal kecil kok, Mas. Aku juga bisa sendiri,” sahut Viona lembut. Ia menarik kursi, duduk di sana dan meneguk susunya hinga tandas.
Jakun Bima naik turun menyaksikan Viona yang meminum susu hamilnya. Viona menatap keheranan menangkap reaksi lain suaminya yang memandang mendamba pada gelas kosongnya.
“Kenapa, Mas? Mau minum juga? Mau dibikinin apa? Tapi nggak boleh kopi, ini udah malem,” tawar Viona, karena saat ini Bima tampak kehausan.
“Aku mau susu juga. Sepertinya nikmat.”
“Susu? Baiklah. Akan kubuatkan susu rendah lemak. Mau rasa apa? Minum susu lebih bagus buat Mas yang baru saja sembuh.” Viona beranjak dari kursinya hendak mengambil gelas lain namun lengannya ditahan oleh Bima.
Viona mengangguk. “Iya, sebaiknya begitu.”
Bima menarik Viona agar merapat dengannya dan melingkarkan lengannya ke belakang pinggang, lalu tangannya merambat turun meremas bokong seksi sang istri sembari mendekatkan wajah ke telinga Viona.
“Aku ingin susu yang kamu janjikan waktu itu, saat aku dinyatakan sembuh. Aku sudah sangat mendambakannya,” desisnya berat penuh hasrat.
Bima membalikkan posisi Viona dengan lembut menjadi membelakanginya. Dengan mata memejam ia kembali menarik dan merapatkan tubuh hangat memabukkan itu dengannya. Menenggelamkan wajah di leher Viona dengan bibir menjelajah nakal di sana, dan tangannya menyingkap gaun, menyusup makin ke atas mengusap-usap lembut perut buncit Viona
“Hei, jadi Anda sedang menagih janji?” cicit Viona sambil menahan tawa. Ia tahu Bima kini tengah sangat berhasrat. “ Ingatan Anda sungguh tajam, Tuan.”
“Iya, Nyonya. Aku sudah sangat membutuhkannya hingga hampir sekarat rasanya karena kurang asupan. Kepalaku berdenyut hebat, begitu juga si murahan.” Bima memeluk semakin erat. Bahkan Viona bisa merasakan bukti gairah suaminya menggesek tubuh belakangnya.
“Ayo, kita ke kamar.” Viona tersenyum penuh arti, menarik Bima menaiki tangga dan memasuki kamar mereka.
Tanpa menunggu lama, begitu pintu tertutup Bima langsung menyerbu bibir merah menggoda istrinya, memagutnya tanpa jeda dengan napas memburu. Viona yang juga sama berhasratnya, membalas bibir dan lidah Bima sama rakusnya. Mereka terengah, tetapi enggan berhenti barang sejenak pun.
Viona mulai membuka satu persatu kancing kemeja Bima, membelai dada dan perut berotot menggiurkan itu dengan gerakan seringan bulu dari tangan halus lembutnya. Deru napas Bima tak beraturan, ia mengerang di sela-sela pertautan bibirnya dengan bibir manis Viona. Semakin rakus menyecap seisi mulut ranum itu saat merasakan sentuhan Viona makin merambat ke bawah membuka kancing juga resleting celananya.
Bima mendongak dengan mata memejam saat merasakan halusnya telapak tangan Viona membelai pusat tubuhnya. Helaan napasnya semakin berat saja, Ini sungguh gila, Bima dilanda desiran hebat yang menerjangnya bertubi-tubi. Ia lalu menunduk hingga tatapan mereka saling mengunci. Viona dapat melihat gairah membara dari sorot mata berkabut lelakinya, gairah yang sempat tertahan cukup lama kini tampak begitu penuh sesak di sana, tak mampu untuk bertahan lebih lama lagi.
“Aku akan memenuhi janjiku, biarkan aku memanjakan Mas kali ini,” desah Viona terengah, juga dilanda hasrat yang mulai naik, ditambah hormon kehamilannya yang bergejolak hebat.
“Aku menunggunya. Tunaikanlah janjimu padaku.”
Tanpa menunggu lama Viona mendorong Bima hingga terlentang di ranjang yang selalu menjadi saksi bisu betapa bergeloranya peleburan cinta mereka. Ia melucuti sendiri gaunnya dan membuangnya sembarang ke lantai membuat Bima makin memuja, terlebih lagi perut buncitnya menambah kecantikan dan keseksian Viona.
Merangkak di atas tubuh kokoh suaminya sambil menggigit bibirnya menggoda. Menghargai setiap inci tubuh lelakinya. Bima laksana diajak terbang di angkasa dilingkupi indahnya awan-awan putih memesona dengan perlakuan Viona di raganya.
“Sebaiknya Mas jangan dulu terlalu banyak bergerak. Biarkan aku yang memimpin kali ini,” desis Viona penuh janji di telinga Bima. Mengirimkan gelenyar dan senyar menyengat menjalar di sekujur tubuh si lelaki yang kini pasrah di bawah kuasa wanitanya.
Bima menggeram dilanda hasrat. “Lakukan sesukamu, aku milikmu, Honey.”
Pemenuhan janji pun ditunaikan penuh puja, mengisi ulang nafkah batin satu sama lain yang sempat menganga tak terisi selama beberapa waktu. Viona mempersembahkan cinta dan sayangnya dengan menautkan dua tubuh juga hati dalam gelora yang panas membara. Memberi juga mengejar kenikmatan yang sama, hingga dua insan itu meledak diluluh lantakkan surga dunia, terpenuhi nafkah ragawinya.