
Bima sampai di rumah sakit bersalin yang disebutkan Viona hanya dalam waktu empat puluh menit saja. Sepanjang perjalanan ia terus meminta kepada pengemudi ojek online untuk memacu motornya lebih cepat lagi.
"Ini bayarannya Pak, ambil saja kembaliannya." Bima menyerahkan tiga lembar uang berwarna merah dan langsung berlari masuk ke dalam rumah sakit.
Si pengemudi yang terkaget-kaget karena mendapatkan bayaran lebih masih termangu. Di aplikasi tertera hanya tujuh puluh lima ribu rupiah saja tarif yang harus dibayar, tetapi Bima memberikan tiga ratus ribu rupiah kepadanya.
Saking senangnya dia baru ingat bahwa penumpangnya tadi belum mengembalikan helm, begitu juga dengan Bima yang tak menyadari bahwa dirinya berlarian masuk ke rumah sakit masih dengan helm warna hijau berlogo putih hurup G yang melekat di kepalanya.
Si pengendara ojek online memarkirkan motor dan menyusul masuk untuk mengambil helmnya. Ia tergopoh-gopoh dan akhirnya terlihatlah penumpangnya tadi yang tengah berdiri di depan lift.
"Tuan ... Tuan tunggu!" teriak si pengemudi sambil berlari mendekat.
Orang-orang yang tengah berlalu lalang di lobi rumah sakit menatap keheranan kepada Bima, bahkan ada beberapa yang mengulum senyumnya, terlebih lagi ketika melihat pria tambun berjaket warna hijau berlarian ke arahnya.
"Tuan, helmnya ... helmnya masih Anda pakai," tunjuknya sungkan ke arah kepala Bima, napasnya tersengal akibat berlarian.
"Hah?" Bima menyentuh kepalanya dan baru menyadari bahwa helm tersebut memang masih terpasang di kepalanya. Dengan cepat ia membukanya dan menyerahkan benda tersebut.
"Maaf, saya sampai lupa membuka helm karena Istri saya akan melahirkan," jelasnya dengan raut wajah panik.
"Tak mengapa Tuan, semoga persalinannya lancar."
"Terima kasih," sahut Bima berbarengan dengan pintu lift yang terbuka. Tanpa menunggu lagi ia melangkahkan kakinya masuk dan menuju lantai empat di mana Viona berada.
"Bima, kamu kemana saja, kenapa baru datang?" tanya Annisa mamanya Bima yang ternyata sudah hadir di sana beserta mertuanya.
"Maaf Ma, aku terlambat karena jalanan macet," jawabnya dengan dada naik turun. "Di mana istriku? aku ingin bertemu dengannya."
"Viona sudah berada di ruang bersalin, dia mengalami kontraksi saat berada di butik dan para pekerja langsung membawanya kemari. Berdo'alah, agar proses melahirkannya lancar." Annisa menepuk-nepuk pundak putranya.
"Apakah suami Nyonya Viona sudah datang?" tanya seorang perawat yang baru saja keluar dari ruangan bersalin.
"Saya suaminya." Bima masih berusaha menetralkan napasnya dan juga degupan jantungnya yang tak beraturan karena rasa khawatir yang berkecamuk di dadanya.
"Dokter meminta Anda masuk untuk mendampingi proses persalinan. Silakan Pak."
"Silakan kemari." Dokter meminta Bima untuk mendekat ke kepala ranjang.
"Vi." Bima mengusap kepala Viona penuh sayang. Mengecup keningnya dan menggenggam tangannya.
Viona tersenyum senang melihat suaminya sudah hadir di sampingnya, bibirnya tersenyum meskipun rasa mulas kontraksi yang hebat tengah menderanya.
"Pembukaan sudah hampir lengkap, tunggu aba-aba dari saya Nyonya," kata Dokter.
Viona mengangguk tanda mengerti dan kembali mengalihkan pandangannya kepada Bima.
"Mas," panggilnya parau.
"Aku di sini, aku di sini, Sayang." Bima mendekatkan wajahnya dan mengecupi wajah cantik Viona yang bermandikan peluh.
"Sudah waktunya, Nyonya. Bersiaplah." Dokter dan para timnya bersiap dan Bima makin mengeratkan genggamannya.
Dokter memberi aba-aba. Di saat rasa mulasnya kembali datang membelit seolah memeras saripati dirinya, Viona melakukan sesuai instruksi untuk mengejan sekuat tenaga. Tiga kali diulangi, tetapi si bayi enggan keluar juga. Rasa sakit yang tak pernah dirasakannya menerjang Viona tanpa ampun hingga membuatnya nyaris menyerah.
Dokter dan semua orang kembali menyemangati tak terkecuali Bima. Viona berusaha tetap meraih kesadarannya dan mengumpulkan kembali tenaga yang terkuras beberapa saat yang lalu.
Kontraksi kembali terjadi, dan kali ini dalam satu tarikan napas Viona mengejan sesuai arahan dokter hingga terdengarlah tangisan bayi memecah seluruh ruangan.
"Selamat Tuan, Nyonya. Bayinya perempuan, sehat sempurna tanpa kurang suatu apapun. Silakan di adzani."
Dokter menyerahkan bayi merah itu ke pangkuan Bima, ia mengadzani di telinga kanan dan disusul iqamah di telinga kiri buah hatinya. Bima juga mengecup kening Viona penuh sayang, mengucap terima kasih setulus hati. Rasa haru sudah tak mampu dibendungnya dengan si bayi merah dalam dekapan, sebutir bening luruh dari sudut matanya kemudian ia berkata.
"Selamat datang di dunia, Anakku. Narayana Putri Prasetyo."
pic source by pinterest