Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Tertangkapnya Reva



Halo my beloved readers, terima kasih banyak atas apresiasi dan dukungan kalian untuk ceritaku ini. Jangan lupa budayakan tinggalkan jejak kalian setelah membaca berupa like, komentar, serta vote seikhlasnya. Dukungan kalian selama ini melalui like, vote dan juga komentar positif membuatku semakin semangat menulis.


Follow juga Instagramku @senjahari2412 untuk mengetahui informasi seputar cerita-cerita yang kutulis.


Selamat membaca....


****


Beberapa buah map warna hitam yang tadi diletakkan Adrian ke atas meja Bima, kini berserak di lantai. Bima memejamkan mata, memijat pangkal hidungnya lalu memukul sisi meja kerjanya seraya berdecak kesal.


Ia baru saja memeriksa isi setumpuk map itu, di dalamnya tertera laporan keuangan perusahaan bulan ini. Grafiknya menukik tajam membuat kepalanya berdenyut liar, sepertinya itu semua adalah imbas dari penarikan uang perusahaan secara dadakan dalam jumlah besar yang dilakukannya beberapa waktu lalu.


Sudah beberapa hari terakhir Bima tidak menelan obat candunya. Berusaha menahan diri dan mengalihkan perhatiannya pada hal lain jika keinginan negatifnya menguat. Namun, di saat suasana hati dan pikirannya kacau balau, bukanlah hal mudah untuk mengendalikan dorongan itu.


Bima beranjak ke toilet yang terdapat di dalam ruangannya, mendekat ke wastafel dan mengambil vas bunga yang terpajang di sisi wastafel. Bunga plastik tiruan yang menghuni vas itu dikeluarkannya, kemudian diambilnya sebuah kotak kecil yang tersembunyi di dasar vas.


"Semoga masih ada," gumamnya.


Saat dibuka isinya kosong melompong, hanya tinggal cangkang pembungkus berwarna silver yang tertinggal di sana. Bima memang sangat rapi menyimpan benda rahasianya ini, bahkan bekas pembungkusnya pun tak pernah dibuang sembarangan. Dia akan memastikan membuangnya ke tempat yang aman, agar perbuatan tercelanya sebagai pecandu barang laknat tak terendus oleh siapapun.


"Sialan!" geramnya kesal kemudian membanting kencang kotak tersebut ke lantai kamar mandi hingga tercerai berai.


Saat mendapati obatnya habis, Bima bukannya menyerah atau berusaha menenangkan diri. Dia malah makin menjadi-jadi dan rasa frustrasi menerjangnya tanpa ampun.


Dengan tergesa-gesa Bima kembali ke mejanya, mencari ponselnya dan langsung mencari kontak Reva. Berkali-kali Bima menghubungi melalui ponsel khusus yang hanya dipakai jika hendak memesan kepada Reva karena selebihnya ponsel itu berdiam di laci sebagai penunggu, akan tetapi nomor yang dihubungi tak kunjung menjawab.


"Kenapa gak diangkat sih!" suaranya meninggi sarat akan emosi.


Bima membanting dirinya ke atas sofa. Efek dari suasana hati dan pikirannya yang kalut membuatnya kesulitan mengendalikan reaksi tubuhnya yang haus dan lapar tak terkira menagih jatah candunya. Bima menggeram dengan tangan mengepal berusaha menahan desakan yang mulai menguasai nalarnya.


Sembari menunggu Reva membalas pesannya, Bima memutuskan untuk memejamkan mata dalam upayanya mengalihkan perhatian dari rasa tak nyaman yang menderanya. Semoga saja dia bisa tertidur sejenak meskipun sulit.


Saat rasa kantuk mulai membelainya, kemudahan ponselnya berdering kencang. Bima menggapai-gapai benda berbentuk persegi panjang yang tergeletak di meja dekat sofa. Dilihatnya temannya sesama pelanggan Reva yang menghubungi.


"Halo." Bima langsung mengangkat teleponnya tanpa berbasa-basi.


"Bim, aku ada kabar buruk!"


"Kabar apa?" Bima yang asalnya berbaring buru-buru bangun dan menegakkan punggungnya. Kesadarannya yang sempat mengabur seketika menjadi waspada saat mendengar nada tak biasa dari seberang telepon.


"Reva ditangkap polisi dini hari tadi!" Lanjut temannya menegaskan.


Deg ....


Bima terkesiap dan mematung tak bersuara, mengerjapkan matanya sembari mencerna untaian kalimat yang terlontar dari temannya dengan saksama.


"Aku memberitahumu agar jangan sampai menghubungi Reva kalau ingin tetap aman. Polisi pasti menginterogasinya dan menyita ponselnya, jika kamu menghubungi Reva maka polisi akan dengan mudah menangkapmu." Temannya memperingatkan.


"Po-polisi?" Bima tergeragap.


"Iya Bim, Reva sudah ketahuan dan berada di hotel prodeo sekarang."