Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Berubah



Bima mematung di ambang pintu, kakinya terasa kaku seperti ada tali yang merantainya. Ia masih ragu antara harus menghampiri Viona atau tidak yang sepertinya sedang berusaha menghindar darinya.


Bima tertegun sejenak, pikirannya semrawut, lalu mengurungkan niatnya dan memilih masuk ke kamar mandi untuk menyegarkan tubuh dan pikirannya.


Lima belas menit berlalu, Bima keluar dari kamar mandi dan tidak mendapati Viona di dalam kamar. Matanya menyapu melihat ke seluruh penjuru ruangan. Biasanya ketika Bima selesai mandi, Viona akan sibuk mempersiapkan pakaian ganti hingga pakaian dalam untuknya yang biasa ditaruhnya di atas tempat tidur.


Di pagi ini pemandangan itu tidak tampak lagi, tidak ada tubuh mungil Viona yang berlari-lari kecil kesana kemari di kamar itu dengan kaki telanjangnya, berusaha memilihkan pakaian yang sesuai dengan seleranya walaupun seringkali berakhir dengan penolakan darinya yang kerap mencela pilihan Viona dalam menyiapkan pakaian untuknya.


Bima menghela napasnya berat lalu menuju lemari pakaiannya yang terletak di sebelah kanan kamar besar itu. Berhubung sekarang hari minggu, Bima memilih memakai kaos oblong warna hitam yang dipadu celana santai berwarna abu-abu. Rambutnya yang masih basah hanya disisir menggunakan jemarinya kemudian segera keluar dari kamar dan turun ke lantai bawah menuju ruang makan untuk sarapan pagi.


Suasana ruang makan begitu senyap. Meja makan masih bersih tidak ada menu apapun yang tersaji di sana, bahkan piring dan gelas pun belum tertata untuk menghiasi meja besar tersebut. Bima bertanya-tanya dalam hati, apakah mungkin Viona belum selesai memasak?


Bima melangkahkan kakinya ke dapur. Ternyata suasana dapur juga sama sunyinya, tidak ada bunyi peralatan masak yang beradu dengan nyaring menciptakan irama pagi yang hangat dan menyenangkan dipendengarannya seperti pagi yang sebelum-sebelumnya, juga tidak ada aroma masakan mengugah selera yang menguar memanjakan indera penciumannya.


Para pembantu rumah tangga yang biasanya bekerja di rumah juga belum datang, waktu masih menunjukan pukul tujuh pagi, sedangkan biasanya mereka datang jam delapan tepat setiap harinya, karena Viona memilih mempekerjakan asisten rumah tangga yang tidak menginap.


Rumah itu sepi laksana tak berpenghuni, tidak ada aura kehidupan di dalamnya di pagi hari itu. Bima bertanya-tanya kemana Viona pergi pagi-pagi begini di saat hari libur. Ini adalah pertama kalinya Viona benar-benar mengabaikan kewajibannya sebagai seorang istri, dimulai dari tadi malam hingga pagi ini tidak ada lagi Viona yang selalu manis dan penyabar seperti biasanya.


Bima mencari ponselnya, mengambil kunci mobil lalu beranjak ke garasi tergesa-gesa dengan ponsel yang ditempelkan ke telinga, mencoba menghubungi Viona. Berkali-kali ia menelepon namun Viona tak kunjung menjawabnya.


Ia melajukan mobilnya perlahan, matanya melirik ke kanan dan ke kiri, melihat setiap perempuan hamil yang sedang berjalan kaki di pinggiran jalan dan berharap itu adalah Viona.


Setelah beberapa saat, Bima menepikan mobilnya dan menyandarkan diri, memejamkan matanya disusul memijat pangkal hidungnya.


Jiwanya bertanya-tanya, sejak kapan ia begitu takut Viona pergi darinya? Bima merasa bingung dengan dirinya sendiri, sebelumnya ia tak pernah cemas tentang hal semacam ini karena Bima sangat yakin Viona tidak akan pernah meninggalkannya walaupun dia sering bersikap semena-mena. Itu disebabkan karena ia merasa selama ini Viona adalah istri yang penurut dan tunduk kepadanya. Namun, kini situasinya sudah berubah, Viona mulai memberontak membuat Bima merasa takut kehilangan.


Bima kembali menelusuri jalanan komplek hingga sampai di depan gerbang. Seperti biasa di depan gerbang pemukiman itu terlihat berjejer gerobak-gerobak yang menjual berbagai menu makanan sarapan pagi. Di sana terdapat meja-meja panjang dari kayu dan bangku plastik sederhana sebagai tempat duduk para pembeli.


Perutnya mulai melilit menagih asupan untuk nutrisi tubuhnya, sebenarnya Bima sangat pemilih dalam hal makanan, hanya saja untuk pagi ini dia memutuskan mencoba mencicipi sarapan di sini saja. Begitu banyak orang yang membeli, sepertinya makan di sini bukanlah ide buruk, walaupun ia masih tidak yakin akan kehigienisan tempat tersebut.


Di antara kerumunan orang-orang itu matanya menangkap sosok Viona yang sedang melahap semangkuk ketupat sayur dengan semangat, rasa laparnya tiba-tiba sirna begitu saja. Bima merasa napasnya yang tadi tercekat terikat dengan kuat, kembali terbebas dari cengkeraman tak kasat mata yang menderanya.


Secara impulsif kakinya melangkah dengan cepat, ia menarik kursi dan duduk disebelah Viona, istrinya yang tengah hamil itu masih fokus pada makanannya dan tidak menyadari bahwa Bima sudah duduk disampingnya. Viona bahkan seperti tak perduli pada sekelilingnya dan hanya sibuk menyendok tiap suapan makanan yang ada di hadapannya.


Bima memperhatikan Viona yang makan seperti orang kelaparan, bahkan bibirnya sedikit belepotan. Secara refleks sebuah senyuman tersungging di wajah Bima, ini adalah pertama kalinya ia memperhatikan Viona yang sedang makan.


Tangan Bima meraih kotak tisu yang ada di meja dan mengambil isinya beberapa lembar, ia menyeka sudut bibir Viona membuat perempuan yang tengah hamil itu berjengit kaget lantaran tiba-tiba ada seseorang yang menyentuh wajahnya tanpa permisi.


Viona sedikit memundurkan wajahnya dan langsung menoleh ke sebelahnya. Ia membeliak, raut wajahnya yang tadi begitu riang dengan binar mata gembira langsung berubah muram saat matanya bersirobok dengan Bima.


Viona menaruh sendoknya dan bangkit dari duduknya. Saat ia hendak beranjak pergi Bima menahan tangannya dan menatapnya dengan sorot mata yang berbeda tidak seperti biasanya.


"Mau kemana? Makananmu belum habis," ucap Bima dengan nada lembut membuat Viona mengerutkan keningnya dalam-dalam dan matanya memicing penuh antisipasi, tidak biasanya Bima bersikap manis dan peduli padanya.


"Duduklah lagi, lanjutkan makannya." Bima menarik Viona untuk duduk kembali dan menggenggamkan sendok ke tangan istrinya itu. "Kenapa, hmm? Atau mau kusuapi?" tawar Bima pada Viona.


Viona merasa asing berada di situasi semacam ini, benaknya dipenuhi tanda tanya, kenapa suaminya memperlakukannya dengan lembut dan penuh perhatian? Tetapi bukankah ini yang sudah lama di nanti-nanti olehnya?


Namun, kini Viona dibuat kebingungan akan perubahan sikap Bima yang terlalu tiba-tiba. Batinnya bertanya-tanya, apa yang terjadi dengan Bima sebenarnya?


Viona menatap Bima dan memindainya dari ujung kepala hingga kaki. Suaminya terlihat baik-baik saja, tak ada keanehan apapun. Akhirnya ia kembali mendudukkan diri, dan satu pertanyaan lolos dari bibirnya


"Mas, kamu nggak lagi sakit kan?" tanya Viona keheranan.


Bima hanya tersenyum, lalu mengambil alih mangkuk serta sendok yang ada digenggaman Viona, menyendok ketupat sayur itu lalu menyodorkan sesendok penuh ke depan mulut Viona. "Aaa ... ayo buka mulutmu?"