Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Let's Begin



Mobil Chevrolet Camaro warna putih diparkir sembarang di garasi sebuah rumah mewah. Seseorang turun dan membanting pintunya dengan kencang lalu melesak masuk ke dalam rumah tersebut.


Dilemparnya topi yang dipakainya, duduk di lantai bersandar ke ranjang besarnya, satu kakinya lurus, satunya lagi ditekuk. Ia mengusap wajahnya frustrasi dengan dada kembang kempis tak beraturan.


Ya, Bima baru saja menyaksikan Viona dicium oleh pria lain yang tentu saja dikenalinya, lelaki itu adalah Juna. Dadanya bergemuruh, kepalanya berdenyut, segumpal daging di rongga tubuhnya terasa nyeri penuh sesak dengan kecemburuan saat matanya dengan jelas melihat kejadian itu. Lantas, apakah dia berhak marah, sedangkan dirinya sendiri yang dulu telah memutus ikatan diantara mereka tanpa belas kasihan, tanpa iba, yang ada hanya tega.


Sudah beberapa malam Bima memperhatikan rumah Viona dari kejauhan, tapi sampai saat ini dia belum pernah melihat Nara karena Bima tak pernah datang mengawasi saat hari terang, jika malam-malam mungkin Nara sudah tertidur.


Rasa rindunya seketika menyeruak ketika kembali melihat Viona yang cantik dan mungil terkunci di retina matanya, bahkan aroma tubuh Viona masih sama sedari dulu, dari kejauhan pun ia masih mampu menghidunya, yang hanya dengan aroma pun mampu membuat kalbunya bergetar hebat dan dunianya terasa indah seketika. Namun, kini hal berharganya itu begitu jauh dari jangkauannya, seperti peribahasa yang berbunyi bagaikan pungguk merindukan bulan.


Satu tahun setengah menjalani rehabilitasi, nalarnya kembali menguasai dirinya secara utuh. Saat itu barulah penyesalan menyeruak. Dia kerap kali meminta Malik untuk menyampaikan pesan kepada Viona tentang keinginannya bertemu dan meminta maaf, juga dia merindukan putri kecilnya. Akan tetapi, Malik menolak. Ayahnya itu mengatakan bahwa kerinduannya pada Viona dan Nara adalah hukuman baginya, hukuman karena telah dengan mudah menjatuhkan kata-kata terlarang dalam sebuah ikatan sakral janji suci.


Merenunglah, perbaiki dirimu, pantaskan dirimu, setelah itu barulah berusaha untuk kembali meraih mereka ke dalam pelukanmu. Tapi Ayah dan Ibu takkan membantu, berusahalah sendiri, perjuangkan hal paling berharga dalam hidupmu yang pernah kamu campakkan.


Kata-kata ayahnya itu acap kali terngiang di telinganya, bahkan hingga kini selalu berdengung hebat hingga memenuhi kepalanya.


*****


Mantan narapidana, bagai sebuah tinta hitam yang akan terus melekat pada Bima seumur hidupnya, juga ibarat kotoran yang dilemparkan di wajah kedua orang tuanya, tak terkecuali berimbas pada mantan istri juga anaknya. Namun, hidup harus terus berlanjut bukan? semua rintangan yang menghadang harus dihadapi bukan menjadi pecundang yang memilih bersembunyi.


Setelah selesai dari tempat merapikan rambut, Bima juga mampir ke beberapa butik ternama, berbelanja setumpuk pakaian baru dan kelengkapan lainya. Untuk berjuang dia juga butuh amunisi, merapikan tampilannya adalah salah satu usahanya agar layak untuk terjun ke medan perang, bagaimapun juga saingannya adalah Juna, lelaki yang lebih muda dengan rupa yang tak kalah menawan darinya.


Sudah saatnya dia berjuang dalam niatnya mendapatkan kembali keluarga kecilnya yang porak poranda. Walupun semua itu takkan mudah, mengingat kejadian beberapa malam yang lalu bahwa seseorang sudah menyalip beberapa langkah lebih jauh di depan. Belum lagi dia harus siap menghadapi kemurkaan Abdul yang pasti tidak akan membiarkan dirinya kembali mendekati anaknya, putri berharga yang pernah disakiti dan di sia-siakan olehnya.


Annisa memindai putranya yang kini kembali terlihat ketampanannya di usia matangnya. Tangannya terulur membelai rahang Bima. Ia memang pernah kecewa, tetapi bagaimanapun juga Bima adalah anaknya, anak yang dilahirkannya, seperti apapun Bima dia tetap menyayanginya, laksana pepatah yang mengatakan, bahwa kasih sayang ibu sepanjang jalan.


“Anakku sudah kembali,” ucap Annisa.


“Do’akan Bu. semoga aku bisa memperbaiki kembali apa yang pernah kuhancurkan.”


“Tentu, tanpa diminta pun, do’a ibu selalu menyertaimu, Anakku.”