
Byur….
Viona terperanjat kaget, sedangkan wanita itu memekik antara terkejut dan juga murka. Ia meraih beberapa lembar tisu yang tersedia di atas meja untuk menyeka wajahnya diringi berbagai umpatan kasar yang terlontar dari mulutnya.
“Dasar sialan! Berani-beraninya kamu melakukan ini padaku!” teriaknya angkuh. Ia melempar tisu bekas dari tangannya dan memokuskan diri ingin melihat siapa yang telah berani menyiramnya di tengah acara pesta.
“Sebaiknya jaga mulutmu! Atau bangkai yang kamu sembunyikan akan kuseret dengan kejam agar lalat-lalat bebas mengerubutinya,” desisnya dingin dan tajam.
Si wanita tersebut menelan ludah susah payah dengan sorot mata resah saat melihat jelas sosok yang menyiramnya, keangkuhannya seakan luruh sirna entah kemana. Dia tergesa-gesa angkat kaki dari sana dengan wajah ditekuk, sementara Viona mengerutkan keningnya samar. Matanya terus tertuju pada lelaki yang posisinya masih membelakanginya.
Tubuh tinggi itu, bahu lebar itu, aroma maskulin juga suara dari lelaki itu terasa begitu familiar. Viona berdiri, sedangkan si lelaki tersebut masih tak bergeming tampak ragu untuk berbalik.
“Maaf, A-anda siapa?” Viona memberanikan diri untuk bertanya karena dirinya benar-benar penasaran saat ini. “Terima kasih atas bentuannya. Padahal tak usah repot-repot, saya sudah terbiasa dengan respon negatif semacam itu.”
Lelaki dengan setelan biru dongker itu tampak mengepal kala mendengar penjelasan Viona, ia merasakan sesak tak berujung menyiksa seluruh dirinya.
Ia perlahan berbalik hingga tubuh tingginya menjulang di hadapan Viona. “Vi, lama tak jumpa,” lirihnya dengan seulas senyum getir.
Viona terhenyak, seluruh tubuhnya tiba-tiba terasa lemas, kakinya mundur satu langkah ke belakang dengan kedua tangan membekap mulutnya sendiri. Wajah itu, suara itu, sorot mata juga caranya tersenyum sangat mirip dengan seseorang yang setiap pagi dilihatnya setiap kali bangun tidur, senyum menawan buah hatinya.
“M-mas, Mas Bima?” Viona tergeragap.
Bima mengangguk tipis. “Iya, ini aku.” Bima melangkah mendekati. “Bagaimana kabarmu, Vi?” tanyanya.
Viona tak menjawab, masih mematung di tempatnya berdiri. Terakhir kali mereka bertemu bertatap muka secara langsung adalah saat Bima menjatuhan talak padanya. Rasa perih kenangan itu kembali menyeruak, tetapi rasa rindu yang hebat juga ikut mengekor dan menerjang dirinya tanpa ampun. Rindu yang menyakitkan lantaran berselimut luka.
Bola mata cantiknya mulai terasa panas, dadanya bergemuruh ingin menyemburkan kemarahan, penuh sesak tak ada ruang tersisa hingga terasa nyeri.
“Aku merindukanmu, Vi.” Bima kembali berkata diiringi tatapan nanar, lalu melangkah semakin dekat mengikis jarak. Ia hendak meraih tangan Viona, tetapi ditepiskan.
“Jangan sentuh aku!” Viona langsung memutar badannya dan berlari kencang keluar dari restoran melalui pintu samping yang terhubung ke area parkir.
Bima menyambar tas Viona yang masih tergeletak di meja, kemudian menyusul berlari mengejar. Jujur saja Viona gemetaran saat ini karena pertemuan yang terlalu tiba-tiba. Sejak lama, banyak hal yang ingin diledakkannya jika suatu saat bertemu Bima lagi, ingin memukulnya, menyumpah, mencaci maki meluapkan segala gejolak yang bersemayan di kalbunya.
Namun, kini dia berlari sepeti pengecut, Viona malah kebingungan entah apa yang ingin diluapkannya saat nyata bertatapan langsung dengan mantan suaminya. Dirinya baru saja hendak menata hati untuk menerima seseorang yang baru, tetapi mendadak pria yang telah memporak-porandakan dirinya muncul di hadapannya tanpa permisi. Ia membenci Bima sekaligus merindukannya secara bersamaan.
Lelaki tinggi tegap itu berhasil menyusul, kaki panjangnya membuat langkahnya dua kali lipat lebih lebar. Viona berlari tak tentu arah, hingga sebuah tarikan membuat punggungnya menabrak dada seseorang.
“Aku rindu, aku sangat merindukanmu,” desah Bima sambil mengeratkan pelukannya, sedangkan Viona meronta tanpa henti ingin melepaskan diri.
“Lepaskan brengsek! Jangan sentuh aku.” Viona meronta membabi buta. “Kamu jahat, Mas, kamu jahat!” jeritnya diiringi tangisan yang pecah kemudian.