
"Juna?" Ibel melongo karena lelaki di depannya ini sama sekali bukan Juna yang dikenalnya.
"Kamu beneran Juna? Arjuna si cupu itu!" Ibel setengah berteriak saking pangling dengan tampilan Juna sekarang, bahkan Ibel membelalakkan mata sembari menutup mulutnya yang menganga menggunakan kedua telapak tangannya.
"Juna ... ya ampun. Kenapa kamu bisa berubah jadi ganteng begini sih?" Ibel meraba-raba wajah Juna kemudian mencubit kedua pipinya, "Kamu nggak operasi plastik kan?" Ibel mengacak-acak rambut Juna.
Juna tergelak, tingkah Ibel tidak berubah, tetap saja blak-blakan dan spontan sejak dulu.
"Iya ini aku." Juna menarik tangan Ibel dari wajahnya, tawa gembira tak henti menghiasi wajah tampannya.
"Juna, kamu manglingin banget. Kenapa baru muncul sekarang sih, tuh si Viona kalang kabut waktu kamu pindah sekolah karena dia kehilangan tim kutu bukunya." Ibel menggedikkan bahunya ke arah Viona.
"Isabella! Itu mulut jangan asal bunyi, siapa yang kalang kabut!" Viona melotot pada Ibel, tampak semburat merah muncul di wajah cantiknya, sedangkan Ibel hanya nyengir kuda dengan ekspresi wajah tanpa dosa.
Tak lama kemudian Zoey datang dan ikut bergabung dengan mereka, semua bercakap-cakap dengan ceria mengenang masa-masa remaja dulu, dan tak terasa mereka sudah berada di penghujung acara penutupan reuni.
"Vi, duh maaf banget, kayaknya aku gak bisa nganterin kamu pulang. Ini mendadak ada acara penting keluarga, dan aku diminta segera datang bersama Zoey," ucap Ibel merasa bersalah.
"Aku bisa pulang sendiri kok. Aku kan bukan anak kecil, Ibel," sahut Viona sambil tersenyum manis pada sahabatnya itu.
"Tapi kalau pulang sendiri aku takut kamu diculik. Kamu kan manusia edisi terbatas, kalau tiba-tiba hilang aku harus nyari di mana lagi yang modelannya kayak kamu." Ibel memasang raut sedih di wajahnya.
"Apa lo bilang edisi terbatas!" Viona menggelengkan kepalanya. "Emangnya gue ini produk tas dari Perancis hah?" Viona bersungut-sungut.
"Juna, bisa tolong antarkan Viona ya. Masa ibu hamil dilepas sendirian, nanti kalau bayinya brojol di jalan kan berabe. Aku duluan ya, dah Viona, dah Juna." Ibel melemparkan fly kiss pada Viona dan langsung beranjak pergi menggandeng kekasihnya.
"Siap, Bel," sahut Juna.
"Eh, tidak usah Jun, aku bisa pulang sendiri kok, beneran." Viona merasa tidak enak, baru saja bertemu kembali mendadak langsung merepotkan Juna.
"Gak boleh! Ibel udah nitipin kamu ke aku, pokoknya gak boleh nolak. Yuk, kuantar sekarang." Juna bangkit dari duduknya, dan mau tidak mau Viona mengikuti Juna ke tempat parkir.
Viona yang mengekor di belakang Juna tidak memperhatikan ada motor yang keluar dari tempat parkir dan hampir menyerempet dirinya, namun untung saja Juna dengan sigap menarik Viona ke arahnya.
"Awas hati-hati. Kamu nggak apa-apa?" suara Juna terdengar sangat cemas.
"Ak-aku nggak apa-apa kok, Jun." Viona merasa kikuk karena tubuhnya hampir menempel rapat dengan Juna.
Juna membukakan pintu mobilnya untuk Viona. Wanita hamil itu masih tampak ragu-ragu untuk masuk, ia malah berdiri mematung di ambang pintu. "Apa nggak ngerepotin nih?" tanya Viona memastikan.
"Nggak, Vi, ayo cepetan masuk," pinta Juna.
"Tapi aku mau mampir dulu ke suatu tempat."
"Aku antar, kamu mampir dulu kemanapun akan kutemani, bukankah kita masih berteman? Jadi jangan sungkan." Juna berusaha meyakinkan Viona.
Viona dapat melihat ketulusan dari raut wajah Juna, akhirnya ia mengangguk dan masuk ke dalam mobil. Sepanjang perjalanan mereka bercakap-cakap dengan gembira, bercanda tawa mengenang masa lalu yang seolah tak ada habisnya.
"Eh iya, kamu mau mampir kemana tadi?" Juna bertanya dengan mata tetap fokus ke jalanan.
"Aku pengen makan bakso yang isinya cabai itu. Nanti mampir ke kedai bakso yang searah dengan jalan ke rumahku, kira-kira tiga ratus meter lagi kita akan sampai." Viona menjelaskan dengan penuh semangat.
"Vi, kamu jangan terlalu banyak makan makanan yang pedas, nanti gimana kalau bayimu kepedesan di dalam perutmu?" Juna menjauhkan tempat sambal yang hendak diambil Viona.
"Juna ... balikin sambalnya gak? Aku pengen makan bakso yang pedas ini langsung di kedainya sejak semalam, aku membayangkannya hingga berliur dan tak bisa tidur." Viona merengut kesal.
"Sejak semalam? Kenapa kamu nggak minta dianter sama suamimu? Bukannya kata para orang tua nanti bayinya ngeces kalau ibunya ngidam gak kesampaian?" tanya Juna penuh selidik.
"Ah, itu ... itu karena suamiku pulangnya malem banget, jadi kedainya udah tutup." Viona mencari alasan.
Ia tidak mungkin menceritakan yang sebenarnya pada Juna bahwa Bima tidak pernah mau direpotkan dengan hal-hal seperti ini, itu sama saja dengan membuka aib rumah tangganya sendiri. Sebetulnya sopir bisa saja mengantarnya semalam, tetapi jika Bima sedang di rumah ia tak bisa seenaknya pergi, kecuali ingin mengundang keributan.
"Begitu rupanya." Juna memberikan tempat sambal pada Viona.
Ia memerhatikan Viona yang kesusahan mengiris bakso ukuran besar itu, akhirnya Juna mengambil alih mangkuk, mengiris baksonya menjadi potongan-potongan yang lebih kecil dan setelah selesai ia mengembalikan mangkuk tersebut ke hadapan Viona.
"Nih, dimakan, kasian dedeknya udah nunggu dari semalam." Juna memberikan sendok dan garpu ke tangan Viona.
"Mak-makasih Jun." Viona menatap mangkuknya nanar, ia tidak tahu harus senang atau sedih diperlakukan seperti itu. Selama ini Bima tidak pernah mau memerhatikannya seperti yang dilakukan Juna padanya saat ini. Hatinya kembali merasa sedih, batinnya bertanya-tanya, kenapa ia malah mendapatkan hal ini dari orang lain dan bukan dari suaminya sendiri.
Juna memperhatikan raut wajah Viona yang tiba-tiba berubah murung. Sebelumnya Viona sangat antusias, tetapi sekarang tatapan matanya kosong, ia hanya mengaduk-aduk baksonya dan tak kunjung menyantap makanan yang sejak tadi diinginkannya.
"Vi, kenapa gak dimakan?" Suara Juna menembus ke dalam lamunan Viona.
"i-ini karena baksonya masih panas," sahut Viona tergagap karena tertangkap basah sedang melamun.
"Kamu punya masalah? Jika mau, aku bisa jadi tempatmu berbagi cerita." Juna menatap Viona dengan serius.
"Nggak kok, aku baik-baik aja." Viona memerhatikan ekspresi dan tatapan mata Juna.
"Jun, aku sarankan jangan memasang wajah serius begitu jika nanti sedang berkencan, bisa-bisa ceweknya kabur duluan liat ekspresi killermu yang mirip guru BP." Viona terkekeh.
Juna menarik sudut bibirnya sehingga terlukis sebuah senyuman yang menawan di wajahnya yang rupawan. Juna mengamati Viona yang tertawa renyah di hadapannya, namun matanya menangkap sesuatu di balik senyuman dan juga tawa Viona. Ia tahu Viona tidak baik-baik saja, bibirnya mungkin tersenyum tapi pancaran mata Viona tidak bisa membohonginya.
Juna ingin sekali mengetahui apa sebenarnya yang terjadi pada kehidupan wanita yang sudah lama mengisi hatinya itu. Namun, Juna tidak mungkin serta merta merangsek memaksakan Viona untuk bercerita padanya karena sepertinya Viona sangat tertutup jika menyangkut tentang ranah pribadinya.
Dulu, saat mereka masih bersekolah bersama, Juna menyukai Viona dalam diam. Ia tidak percaya diri dan tidak berani mengungkapkan perasaannya. Juna takut, jika setelah menyatakan cinta hubungan pertemanan mereka malah menjadi rusak.
Viona menghabiskan makanannya hingga bersih, bahkan sisa kuah diminumnya langsung dari mangkuknya. Peluh bermanik di dahinya disebabkan rasa pedas juga kuah panas dari bakso yang membuatnya berkeringat. Juna mengambil sapu tangan dari saku celananya dan memberikannya pada Viona.
"Lap keringatmu, atau mau aku yang melakukannya?" goda Juna sambil memberikan sapu tangannya pada Viona.
"Makasih, aku bisa sendiri, Jun." Viona menerima sapu tangan tersebut dan menyeka dahinya.
"Memangnya aku ini meja apa, sampai harus kamu lapin!" Viona melempar tatapan sebal dan bersungut-sungut, sedangkan Juna hanya tergelak melihat Viona mengerucutkan bibirnya.
*****
Terimakasih yang tak terhingga pada semua my beloved readersku tersayang yang masih tetap setia mengikuti cerita ini. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian setelah membaca ya, dukungan kalian jadi penyemangat buatku untuk terus menulis.
😘😘💕💕 love you all.