
Tiga hari berlalu, kini kondisi Viona berangsur membaik begitu juga Abdul. Dokter menyatakan hari ini mereka semua sudah bisa kembali pulang. Rima merasa sedikit lega akhirnya Viona telah berkumpul kembali bersamanya. Rima juga tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih kepada Ibel yang sudah berhasil membawa Viona kembali pulang.
Awalnya Viona hendak pulang ke rumahnya sendiri, tetapi Abdul dan Rima meminta agar Viona tinggal bersama mereka untuk sementara waktu, tak ingin membiarkan anaknya yang masih dirundung pilu berduka seorang diri.
“Tinggallah dulu bersama kami untuk menenangkan diri, agar kondisi Ayahmu juga semakin membaik jika melihat anaknya berada dalam jangkauan pandangannya. Ibu mohon,” bujuk Rima.
“Baiklah, Bu.” Viona menyetujui usulan orang tuanya, lagipula memang benar jika dirinya saat ini butuh menenangkan diri dari kejadian badai dahsyat yang menghantam kehidupannya.
****"
Sudah dua minggu Viona tinggal di rumah orang tuanya, Ibel juga selau datang berkunjung menghiburnya jika pekerjaanya senggang. Kondisi kesehatannya yang sempat menurun drastis mulai membaik. Kendati tak dipungkiri, setiap malam saat hari semakin sunyi dan gelap, air matanya kembali meluruh, rasa sakit, juga rindu berpadu menjadi satu. Tak jarang ia mengusap bantal di sebelahnya, tempat di mana biasanya Bima berbaring tertidur di sampingnya, kini malam- malamnya hanya bersulam sepi, berhias pilu, juga perih tak terperi.
Beberapa hari yang lalu Viona sempat berencana berkunjung ke rumah tahanan, tetapi Abdul melarang keras dan tak mengijinkan Viona menginjakkkan kaki di sana. Abdul masih merasa sakit hati, merasa ditipu oleh kedua orang tua Bima.
“Jangan sekalipun kamu menginjakkan kaki di sana. Cukup urus dirimu dan juga Nara dengan baik, hanya itu yang Ayah minta.”
Ketukan di pintu kamarnya membuyarkan lamunannya menjadi serpihan debu kemudian berlalu tertiup angin. Terdengar suara ibunya memanggil, “Vi… Viona.
“Iya Bu, sebentar.”
Viona beranjak dari jendela tempatnya melamun tadi dan bergegas membuka pintu, ketika pintu terbuka sempurna tampak raut wajah ibunya bergelayut penuh kebimbangan.
“Mertuamu datang, dia ingin bertemu denganmu juga Nara,” jawab Rima yang kemudian menarik napasnya bimbang. “Terserah padamu mau menemui mereka atau tidak, tapi Ibu rasa sebaiknya kamu menemuinya, lagipula tak baik memutus silaturahmi.”
“Iya Bu, sebentar lagi aku turun. Tapi di mana Nara?” tanya Viona.
“Nara ada di taman samping bersama pengasuh. Ibu tunggu di bawah, sebaiknya kamu cepat menemui mereka mumpung Ayahmu belum pulang bekerja. Jika Ayahmu melihat keberadaan mereka entah bagaimana reaksinya.” Raut wajah Rima tampak serba salah.
Viona mengangguk mengerti, merapikan pakainnya dan segera turun ke ruang tamu. Tampak di sana Annisa Ibunya Bima dan juga Malik Ayah mertuanya tengah duduk dengan wajah kusut. Viona meremas jemarinya sendiri dan duduk di hadapan mereka.
"Ma, Pa," ucap Viona.
Annisa langsung menghambur memeluk menantunya. Tangisan tak terelakkan beserta ribuan untaian kata maaf untuk Viona. Selama ini Annisa adalah mertua yang baik, Viona juga balas memeluk mertuanya.
“Maafkan kami sayang, karena telah menyeretmu dalam pusaran ini. Maafkan kami.” Annisa berkata dengan isakan hebat begitupun dengan Malik yang melakukan hal serupa. Viona tak mampu berkata-kata. Dia sendiri masih berada dalam lingkupan kebingungan. Semua kejadian yang menimpanya terlalu tiba-tiba.
Terdengar derap langkah cepat yang memasuki rumah, ternyata Abdul yang muncul dengan ekspresi geram dan marah.
“Masih berani kalian datang kemari setelah menipu keluargaku? pergi kalian!” teriak Abdul dengan emosi yang meluap-luap.