Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Pertemuan



Viona menunggu di ruang khusus yang diperuntukkan bagi keluarga yang membesuk para napi. Menggigit bibirnya gusar, menjalinkan jemarinya satu sama lain dan meremasnya sembari mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan bercat krem tersebut yang hanya dilengkapi satu set kursi tamu sederhana terbuat dari kayu tanpa ada barang lainnya.


Sesekali diliriknya barang bawaanya di atas meja, diperjalanan dia menyempatkan diri membeli beberapa jenis makanan juga camilan kesukaan Bima, Viona sangat mengkhawatirkan tentang makanan di tempat tahanan yang sudah pasti tak sesuai dengan selera suaminya yang sangat pemilih.


Sepuluh menit kemudian datanglah yang ditunggu-tunggu. Viona berdiri dari duduknya ketika sosok Bima memasuki ruangan. Rasa khawatir juga rindu bergerombol di sorot mata juga bahasa tubuhnya, berbanding terbalik dengan Bima yang melempar tatapan tajam juga dingin. Setelah petugas yang mendampingi Bima undur diri dari sana, Viona tak bisa menahan diri dan segera menghambur memeluk suaminya.


“Mas, aku kangen.” Viona memeluk erat, sedangkan Bima masih terdiam tak bereaksi. Lama Viona dalam posisi itu, memejamkan mata menumpahkan kerinduan hingga akhirnya mengurai pelukannya.


“Gimana kabarmu, Mas?” Viona menyentuh rahang Bima dengan tatapan sendu. “Aku bawain makanan kesukaanmu," ucapnya lembut.


Tanpa diduga, Bima mendorong kasar melepas rangkulan Viona dengan paksa agar menjauh dari tubuhnya. “Kangen kamu bilang? cih… dasar pengkhianat!” ucapnya sinis sembari menipiskan bibir menyeringai penuh dendam.


“Mas… i-ini aku?” Bola matanya bergulir menatap Bima tak mengerti. “Ini aku, istrimu, Viona,” jelasnya dengan suara rendah.


“Ya, aku tahu. kamu Viona istriku, orang yang telah menusukku dari belakang dengan memberitahu polisi tentang keberadaanku sahingga aku berakhir di sini sekarang!” seru Bima berapi-api.


“Sayang padaku? hahahaha.” Bima tertawa sumbang. “Jangan memakai kata sayang untuk mengelak, kamu bilang tak ingin aku menjadi narapidana bukan? tapi apa, nyatanya kamu sendiri yang melaporkanku! Aku tersiksa dengan rehabilitasi dan juga penjara ini!” teriaknya menggelegar memekakkan telinga.


“Mas, ini adalah yang terbaik buatmu. Mas pikir aku dengan senang hati menyerahkanmu pada polisi? aku juga tersiksa!” pekik Viona dengan suara meninggi. “Tolong bersabarlah di sini, kembalilah ke jalan yang benar Mas. Berusahalah untuk berhenti menyentuh barang haram itu, demi Nara, agar kita bisa segera berkumpul lagi.” Viona mulai terisak, kelopak matanya mulai menggenang.


Bima memegangi kepalanya sendiri yang terasa sakit berdentam hebat seakan hendak meledak. Emosi semakin membakarnya saat suara Viona juga ikut meninggi. Akal sehatnya terkubur dalam tertimbun amarah juga rasa menyiksa ketergantungannya, bahkan ketika nama Nara ikut disebut telinganya seolah tuli tertutup bisikan setan dalam dirinya.


“Kudengar ayahmu ingin kita bercerai bukan? atau jangan-jangan kamu sendiri yang meminta, huh?” ujarnya dengan mata menggelap penuh kebencian.


“Nggak Mas, nggak mungkin aku berpikir begitu. Itu hanya emosi sesaat Ayah. Tak pernah terlintas di benakku hal semacam itu.” Viona meggeleng-gelengkan kepalanya dan mencoba menyentuh lengan Bima namun ditepiskan.


“Jangan berdusta! Lagipula aku tak butuh seorang pengkhianat sepertimu. Akan kukabulkan, mulai hari ini kita bukan lagi suami istri, kujatuhkan talak satu padamu saat ini juga, Viona!” serunya dengan suara meninggi tanpa belas kasihan.