
Rima duduk di samping Viona yang tengah menonton tayangan berita di televisi.
“Vi.”
“I-Iya Bu.” Viona mengecilkan volume televisi dan meletakkan remot di sampingnya.
“Ibu ingin tahu, apa yang paling membuatmu bahagia?” tanyanya seraya mengenggam tangan Viona dan tersenyum lembut.
“Kenapa Ibu tiba-tiba bertanya begini?” Viona merasa heran, lalu tetawa kecil kemudian.
Rima menghela napas panjang, seperti tengah merangkai kata.
“Sejak kecil, kamu adalah anak yang penurut juga tak pernah menuntut. Apapun yang ayah dan ibu putuskan selalu kamu terima tanpa membantah, kamu adalah putri terbaik di dunia, begitu bangga dipercaya Yang Maha Kuasa menjadi ibu yang melahirkanmu.” Rima menjeda sejenak kalimatnya.
“Sebenarnya ada apa, Bu?” ujar Viona yang balas menggenggam tangan ibunya.
“Ibu merasa bersalah padamu. Sedari dulu Ayah dan Ibu bahkan tak pernah bertanya, apakah kamu bahagia atau tidak dengan setiap keputusan yang kami ambil? Apakah kamu terpaksa atau tidak dalam menjalaninya? Kami abai akan hal itu, hanya berpikir bahwa semua keputusan kami adalah yang terbaik, seperti halnya perjodohanmu dulu dengan Bima," jelasnya, Rima mulai berkaca-kaca.
“Bu, sejak dulu, aku menerima dan menjalaninya dengan ikhlas semua keputusan Ayah dan Ibu. Sudah kewajibanku sebagai seorang anak untuk patuh dan berbakti pada orang tuanya. Tak pernah ada penyesalan di dalamnya, berusaha mengambil hikmah dari setiap kejadian entah itu baik maupun buruk.” Viona menatap dalam ke wajah ibunya yang sudah tidak muda lagi.
“Lalu, apakah kamu juga akan menerima keputusan ayahmu kali ini? Ibu tak ingin, terus-menerus dihantui rasa bersalah karena tak pernah memberi kesempatan padamu untuk memutuskan sesuatu dari sudut pandangmu."
Rima menghela napas berat. “Tentang rencana pertunanganmu dengan Juna. Ibu baru tahu malam itu bahwa ayahmu merencanakan semuanya tanpa persetujuanmu. Ibu kira itu adalah keputusanmu. Apakah kamu yakin hal itu akan diteruskan?” tanya Rima kembali.
“Jika kujawab tak menginginkannya dan menolak keputusan ayah, apakah aku akan dianggap tidak berbakti, Bu?” jawabnya serak dengan bola mata yang kini mulai berlinang.
“Kamu berhak memutuskan apa yang terbaik menurutmu, sekarang kamu sudah dewasa, Nak, bukan anak kecil lagi. Jika kamu tak mengutarakan apa yang terbaik menurutmu juga yang membuatmu merasa bahagia, Ibu takkan pernah tahu. Setiap Ibu di dunia ini hanya ingin anak-anaknya hidup bahagia itu saja.”
“Jika aku meminta restu Ibu, bahwa kebahagiaanku adalah bersama Mas Bima, apakah ibu akan mengizinkan? Mengingat Mas Bima bukanlah insan sempurna tanpa cela, manusia yang pernah terjerumus dalam lembah nista. Dia memang pernah bersalah Bu, tapi Mas Bima berusaha memperbaiki dan memantaskan diri untuk aku dan Nara. Aku ingin meletakkan kepercayaanku sekali lagi padanya. Bukankah Sang Pencipta pun memberi kesempatan juga ampunan bagi hambanya yang bertaubat dan bersungguh-sungguh ingin kembali ke jalan yang benar? Lantas kita sebagai manusia yang hanya ciptaannya akankah terus berkeras hati tanpa memberi kesempatan meskipun ketulusan telah ditunjukkan?”
Rima membelai rambut Viona dan menatapnya penuh sayang.
“Kamu mencintainya? Memutuskan ingin bersamanya?”
Viona mengangguk penuh keyakinan. “Selama hidupku, aku tak pernah meminta ataupun menginginkan sesuatu sebesar ini. Tapi untuk kali ini, bolehkah aku egois? Bolehkah memutuskan dan memilih dengan siapa aku ingin menghabiskan hidup? Dulu, kami memang berjumpa tanpa cinta, tapi di perjumpaan kedua ini aku ingin mengatakan, bahwa aku sangat mencintainya Bu, aku mencintai Mas Bima dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Untuk itu, maukah Ibu juga memberi kesempatan kedua pada Mas Bima? Hanya dia yang kubutuhkan begitu juga dengan Nara, bukan lelaki lain.” Air mata mulai berderai membasahi wajah cantiknya.
“Kamu berhak memilih, Nak. Ibu percaya, kamu tahu yang terbaik untukmu dan masa depanmu. Jika kamu ingin kembali bersama Bima, berjuanglah, Nak. Ibu takkan menutup mata, akan selalu ada di sisimu dan berdo’a yang terbaik untukmu. Kamu pasti paham, meluluhkan ayah tak semudah membalikkan telapak tangan. Tapi bukan hanya ayahmu rintangan yang harus kamu lewati, langkah pertama yang harus kamu lakukan sekarang adalah memberi tahu Juna terlebih dahulu tentang keputusanmu, sebelum semuanya terlambat.”
“Makasih banyak, Bu. Makasih karena sudah mengerti aku.” Ibu dan anak itu berpelukan dalam tangisan, tanpa menyadari bahwa Bima tengah memaku pandangan pada mereka dari balik pintu dengan air mata haru yang juga ikut meluruh.