
Seorang gadis yang memakai celana jeans dipadu hoodie sederhana berwarna dusty pink dengan rambut digulung asal, melangkah lunglai keluar dari rumah sakit sambil menggenggam sebuah amplop besar di tangan. Ayunan kedua kakinya terhenti di bawah pohon rindang dekat gerbang keluar area rumah skait. Cuaca begitu cerah, berbanding terbalik dengan kisahnya yang berhias nestapa juga noda.
Punggung tangannya mengusap cairan bening yang menggenang di sudut mata sebelum luruh membasahi wajah tirusnya. Helaan napasnya berat, ia mengibaskan tangan di tembok pinggiran pohon untuk menyingkirkan dedaunan kering sebelum mendaratkan bokongnya di sana.
Tangan kurusnya bergerak membuka amplop coklat yang sejak tadi dicengkeramnya dan mengeluarkan kertas putih di dalamnya. Matanya kembali menyusuri kata demi kata yang terangkai menjadi kalimat-kalimat yang tertulis di sana. Ia sudah membacanya saat di dalam tadi, bahkan dokter sudah menjelaskan panjang lebar secara terperinci. Akan tetapi gadis berwajah pucat dengan bibir yang sedikit kering itu ingin memastikan kembali, masih sulit percaya dengan keterangan dokter yang memeriksanya.
Gadis yang usianya kira-kira 24 tahun itu adalah Nia. Setelah pemeriksaan visum beberapa hari lalu, ia dikejutkan dengan diagnosa lain yang dan tak pernah menyangka akan diidapnya. Membuatnya terpukul dan dunianya sekan berhenti berputar. Dokter menyatakan jika terdapat tumor di rahimnya juga terdeteksi gejala pra kanker serviks. Dokter menyarankan agar Nia segera melakukan pengobatan juga operasi untuk tumornya yang didiagniosa sudah berukuran cukup besar lantaran khawatir berubah menjadi tumor ganas jika dibiarkan berlama-lama.
Dokter menjelaskan. Tumor yang dideritanya bisa saja efek dari kontrasepsi yang dipakainya sembarangan sedangkan dirinya sama sekali belum pernah mengandung sebelumnya.
Lumrahnya kontrasepsi berupa suntikan maupun pil dan jenis lainya yang disarankan untuk wanita, dipergunakan dalam kondisi tertentu dan tetap dalam pemantauan medis juga konsultasi sebelumnya. Di antaranya supaya jarak kehamilan antara anak yang satu dengan lainnya tidak terlampau dekat, atau karena memang ada larangan hamil dalam kurun waktu tertentu seperti pada kondisi pasca melahirkan operasi cesar, atau juga karena mengikuti anjuran yang disarankan pemerintah dalam program dua anak cukup.
Nia pun sempat diceramahi panjang lebar oleh dokter, karena menyalahgunakan kontrasepsi dan memakainya sebelum waktunya sehingga kini menuai akibatnya. Jika tumornya lengket dengan rahim dan berukuran besar, bisa jadi rahimnya pun harus ikut diangkat.
Dulu Nia menggunakannya karena dipaksa Yoga, juga orang yang katanya dokter yang memberinya suntikan pencegah kehamilan setiap tiga bulan sekali merupakan rekan Yoga. Entah apakah dokter tersebut terpercaya atau tidak.
Sedangkan gejala pra kanker serviksnya, berasal dari Human Paviloma Virus yang menjangkitinya. Nia memang hanya melakukan aktivitas seksual dengan Yoga saja, akan tetapi si hidung belang Yoga sering bergonta ganti partner ranjang dan akhirnya virus yang dibawanya entah dari jalang yang mana tertular pada Nia. Jika tidak segera ditangani maka gejala pra kankernya akan menuju positif kanker nantinya. Dokter menjelaskan bahwa Nia harus secepatnya melakukan serangkaian prosedur pemeriksaan serta penanganan yang cukup panjang dan semua itu tak terlepas dari dana yang harus disediakan, mengingat dalam pengobatan jenis penyakit yang dideritanya sudah tentu memerlukan banyak biaya.
Kurang lebih setahun lalu Nia yang baru lulus menjadi sarjana dari universitas di daerahnya memutuskan mencari pekerjaan di Kota Bandung dengan harapan memiliki pekerjaan yang lebih baik di kota besar dibanding di tempat asalnya. Dulu ia dipenuhi mimpi dan angan-angan, bermimpi memiliki karir cemerlang dan bisa membanggakan kedua orang tuanya yang hanya pekerja serabutan.
Bermodalkan IPK yang cukup bagus ditunjang dengan rupa ayunya. Nia yang polos namun percaya diri melamar di beberapa perusahaan di Kota Bandung. Saat melamar ke Homeshopping ia langsung diterima bahkan ditawari menjadi sekertaris bos. Ia begitu gembira, diterima di salah satu perusahaan online shop yang sedang naik daun dan langsung diberi jabatan yang cukup penting. Nia yang lugu dan polos tidak menyadari jika semua itu hanya umpan semata, umpan yang menariknya terperosok ke dalam sangkar buaya keji, terjebak di sana sekian lama dalam kubangan lautan nestapa tanpa mampu melepaskan diri.
Ia memang memiliki peghasilan setiap bulannya selama bekerja dengan Yoga. Namun, uangnya tak tersisa banyak. Setiap bulannya Nia mengirimkan setengah nominal gajinya kepada keluarganya di tempat asalnya, sebuah kota kecil kira-kira lima sampai tujuh jam perjalanan dari pusat Kota Bandung. Dan sisa gajinya dipergunakan untuk kebutuhannya sehari-hari, karena untuk tempat tinggal, Yoga menyewakan satu unit apartemen di gedung yang sama dengan yang ditinggali Yoga.
Pikirannya kini bercabang. Dari mana ia bisa mendapatkan uang untuk dikirimkan pada orang tuanya yang sakit-sakitan sedang kini ia menjadi pengangguran juga sakit. Nia tak tega jika menyampaikan bahwa dirinya sekarang adalah pengangguran bernasib malang.
Tanpa disadarinya sejak tadi laki-laki berkacamata mengamatinya dari kejuahan. Bahkan Nia tak menyadari saat laki-laki itu kini sudah duduk di sebelahnya. Siapa lagi kalau bukan Adrian yang kini menghampiri. Beberapa saat yang lalu ia melihat punggung Nia menjauh bertepatan dengan dirinya yang juga keluar dari gedung rumah sakit setelah menemui Bima.
Wajah Nia tampak semakin sendu. Dirinya mengira telah terbebas dari derita saat laki-laki bajingan yang merantainya telah diringkus pihak berwajib dan dipastikan akan mendekam di dalam penjara dalam waktu lama. Sayangnya semua itu melenceng dari perkiraannya. Kini beban berat lain ditumpahkan dipundaknya yang lemah setelah mengetahui tentang penyakitnya. Terlebih lagi dokter memvonis kemungkinan rahimnya diangkat imbas dari tumor yang bersarang di sana.
Tak dipungkiri, di lubuk hati terdalamnya Nia masih memiliki secercah harapan. Di masa depan berharap bertemu seseorang yang dapat menerima dirinya apa adanya, merajut ikatan suci dan mengarungi samudera kehidupan bersama-sama. Dirinya yang penuh noda memanglah sudah tak bisa dikembalikan menjadi putih bersih lagi, hanya saja jika nantinya rahim pun ia tak punya, lantas apa yang masih bisa dibanggakan sebagai seorang wanita. Air mata yang sejak tadi mendesak kini berjatuhan tak terkendali, punggung kurusnya berguncang diiringi isakan pilu.
“Ini, pakailah.”
Lagi-lagi Sebuah sapu tangan disodorkan padanya membuat Nia menoleh ke samping. Ia cepat-cepat menghapus wajah basahnya sembarang menggunakan punggung tangannya dan mencoba bersikap biasa.
“Eh, P-Pak Adrian. Tidak usah, Pak. Sapu tangan yang kemarin pun belum bisa saya ganti. Saya membuangnya karena noda darah yang tertinggal menempel sulit dibersihkan. Maaf,” ucap Nia sungkan.
“Tak usah dipikirkan. Aku masih punya lusinan sapu tangan. Ambillah,” pinta Adrian sambil mengulas senyum penuh pemakluman.
Nia menatap nanar sapu tangan tersebut, lalu tangannya terulur hendak menerima. Sekilas senyuman terbit di wajah sendunya, kepedulian Adrian cukup menghangatkan hatinya yang dingin laksana goa es.
“Kalau mau menangis, aku bisa pinjamkan bahuku,” tawar Adrian tulus. Entah kenapa ia tak bisa berhenti peduli pada Nia yang rapuh.
Ucapan Adrian sukses membuat Nia membeku sekaligus terkesiap, gerakan tangannya yang hendak mengambil sapu tangan terhenti dan kini mata basahnya memandangi Adrian dalam diam.