Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Bebas



Viona mencebik dengan mata memicing. “Aku serius karena sedang senang, profitku semakin meningkat," sahutnya ceria.


“Jangan terlalu lelah. Aku tahu ini bukan sekedar pekerjaan untukmu, tapi perhatikan juga kesehatanmu.” Juna melangkah mendekat lalu duduk di kursi depan meja Viona.


“Aih bawelnya.” Viona memutar bola matanya malas.


“Jangan ngeyel.” Juna bangkit, menyondongkan tubuhnya dan menjawil pipi Viona membuat si empunya melotot.


“Sakit tahu,” gerutunya sambil mengusap pipinya, sedangkan Juna terkekeh jahil.


“Ayo, kita makan siang dulu sambil membahas tentang peluncuran produkmu. Setelah itu kuantar berkeliling mengunjungi gerai.”


“Kamu itu punya perusahaan tapi malah mau jadi sopir gratis,” sahut Viona dengan senyum mengejek, kedua tangnannya terlipat di dada kemudian memundurkan tubuhnya hingga mendarat di sandaran kursi.


“Siapa bilang gratis? tentu saja ada imbalannya.” Juna menopang wajahnya dengan siku yang bertumpu di meja kemudian mengedipkan sebelah matanya merayu.


“Wah, kamu benar-benar tamak, Bos mata duitan!” cerocos Viona bersungut-sungut.


“Temani aku ke pesta rekan bisnisku akhir pekan ini,” pinta Juna.


“Hey aku tak suka pesta. Penuh dengan gosip.” Viona mengibaskan tangan kanannya menolak.


“Ayolah, aku tak ingin pergi sendiri, please.” Juna membujuk Viona dengan memasang wajah memelas.


“Nanti kupikirkan,” sahut Viona.


“Kuberi waktu satu menit untuk berpikir,” ucap Juna.


“Satu menit? yang benar saja! Ya ampun, kamu memang pengganggu.” Viona menggerutu ketika melihat jam di dinding yang tak terasa berputar begitu cepat. “Gara-gara kamu pekerjanku jadi nggak selesai-selesai dan sekarang udah jam dua belas!"


“Hhhh… kamu benar. Ayo berangkat.”


*****


Seorang pria berambut gondrong duduk dengan laptop dihadapannya, jemarinya menari-nari lincah di atas keyboard, sementara layar menunjukkan indeks saham dengan grafik naik cukup signifikan. Jambang dan kumis juga tumbuh memenuhi wajahnya, tetapi tak menutupi ketampanannya yang masih tetap memesona meskipun kini usianya semakin matang.


Ketukan dipintu kamar membuatnya menoleh, lalu masuklah seorang wanita paruh baya dengan nampan berisi segelas susu juga beberapa butir vitamin. “Minum dulu vitaminnya, Bim.”


“Makasih Ma.”


Ya, dia lah Bima. Tiga bulan yang lalu dia sudah bebas, beberapa bulan lebih cepat dari masa tahanan yang ditetapkan. Berkat kegigihan Bima untuk sembuh juga kelakuan baiknya dua tahun terakhir di rutan, dia mendapatkan pengurangan masa hukuman dari yang seharusnya.


Orang-orang sekitar juga keluarga terdekatnya belum ada yang mengetahui tentang bebasnya Bima. Bima sendiri yang meminta kepada kedua orang tuanya untuk merahasiakan dulu tentang berita ini, termasuk pada mantan istrinya, Viona.


Annisa duduk berhadapan dengan putranya dan memandangi dengan tatapan sendu. Tangannya terulur membelai sisi wajah Bima. “Kapan kamu akan bercukur rambut juga janggutmu? apa kau berniat membiarkan wajah tampanmu ini tersembunyi?” ucapnya sembari mengulas senyum.


“Nanti Ma, tidak sekarang. Saat waktunya tiba,” sahutnya seraya melirik sebuah pigura foto ukuran 4R di meja. Foto dirinya, Viona dan Nara yang masih bayi.


“Kamu rindu mereka?” tanya Annisa melirih.


“Sangat. Aku sangat merindukan mereka.” Mata Bima mulai berkaca-kaca, dia menarik napasnya dalam-dalam berusaha menetralkan gejolak di dada yang mendorong sumber air di netranya mendesak memaksa keluar.


“Viona pasti sangat membenciku, tapi aku memang brengsek yang pantas dibenci.” Bima tertawa getir. “Meskipun begitu, aku akan berusaha dan berjuang menebus semuanya walaupun pasti sulit. Sepertinya maafku seumur hidup pun takkan cukup mengobati luka yang kutorehkan di hati Viona, tapi aku ingin mereka kembali ke pelukanku, semoga Tuhan masih memberiku kesempatan untuk memperbaiki sesuatu yang telah kurusak sendiri.”


“Banyaklah berdo’a, memohon ampun atas segala kekhilafan. Dan juga jika kalian memang ditakdirkan untuk bersama kembali, maka pasti ada jalan. Berusahalah untuk terus memperbaiki diri juga memantaskan diri sebagai seorang suami juga ayah, Anakku.”