
“Saudara Bima, ada yang ingin bertemu.” Seorang petugas rutan membuka kunci ruang tahanan Bima.
Tubuh tinggi tegapnya tampak kurus dan kusut, baju oranye yang dipakainya terlihat terlalu longgar tak sesuai dengan postur tubunya. Ia melangkah keluar dikawal dua orang petugas menuju ruang besuk.
“Bima….”
Annisa menghambur begitu Bima memasuki ruang besuk yang tersedia di sana. Memeluk putranya diiringi tangisan tak terbendung. Malik duduk bersidekap menatap tajam pada putranya, rasa kecewa yang kental tercetak jelas di wajah lelaki paruh baya itu.
Mereka duduk berhadapan, kemudian Annisa kembali berkata, “Bim, kenapa… kenapa kamu mengulangi lagi dosa yang sama, Nak? pernahkah kamu memikirkan akibatnya pada dirimu juga keluargamu? terutama anak dan istrimu.”
Bima terdiam tak menjawab, tertunduk dengan ekspresi datar. Efek kecanduannya kembali menggerayangi, menggerogoti akal sehatnya dan menimbunnya dengan keinginan menenggak barang haram itu, selalu begitu.
“Papa sangat kecewa padamu. Papa pikir kamu sudah benar-benar berhenti menyentuh barang lakanat itu. Juga kenapa kamu melibatkan istri dan anakmu demi berkelit dari masalah yang kamu buat? bukannya mempertanggung jawabkan kesalahanmu, tapi malah membawa mereka kabur terlunta-lunta hingga Viona jatuh sakit.” Malik ikut bersuara menekankan setiap kata-katanya.
“Aku seharusnya tidak di sini, Ma, Pa. Ini pasti perbuatan Viona yang telah melaporkanku. Dasar istri sialan!” umpatnya dengan tangan terkepal dan mata berkilat penuh amarah.
Malik membeliak, bangkit dari duduknya dan menampar Bima kencang sekuat tenaga.
Plak….
“Papa benar-benar menyesal telah menikahkanmu dengan gadis sebaik Viona. Asal kamu tahu, Ayahnya Viona hendak membuat kalian bercerai, tapi istrimu masih membelamu dan tetap ingin mempertahankan biduk rumah tangganya meskipun suaminya seorang narapidana. Kamu manusia yang tidak bersyukur, Bim. Jika terus begini, Papa akan mendukung keputusan mertuamu agar Viona bercerai darimu. Kamu tidak cocok menjadi suami juga ayahnya Nara!” Malik beranjak dari duduknya dan keluar dari ruangan besuk dengan raut wajah luar biasa kecewa. Sementara Annisa semakin deras menangis.
“Bim, kamu berada di sini bukan karena Viona, melainkan karena perbuatanmu sendiri, Nak. Mama mohon, merenunglah, pikirkan Nara. Tidak sayangkah kamu pada putrimu? apakah kamu akan menyerah begitu saja tanpa berjuang untuk memantaskan diri menjadi suami juga seorang ayah? relakah posisimu sebagai Ayah Nara digantikan orang lain?” Annisa tetap mengajak putranya berbicara dengan nada lembut penuh kasih sayang meskipun hatinya juga kecewa.
Bima mematung. Viona, Nara, lelaki lain, cerai, obat laknatnya. Semua kata-kata itu berputar-putar di otaknya seperti kaset rusak. Akibat efek buruk dari barang haram yang dikonsumsinya, dia masih belum bisa mencerna dan menyaring, manakah yang harus diprioritaskan.
Dua orang petugas memasuki ruangan dan menghampiri Annisa. “Maaf Nyonya, waktu besuk sudah habis,” ucapnya sopan. Annisa sebetulnya masih ingin berbicara panjang lebar dengan putranya, tetapi karena keterbatasan waktu ia akan bersabar hingga pertemuan berikutnya. Mereka segera membawa Bima kembali masuk ke balik jeruji besi.
*****
Sebuah Mistsubishi Outlander warna hitam berhenti di depan kediaman orang tua Viona. Seorang lelaki dengan wajah rupawan turun dengan membawa sekeranjang parsel buah di tangan kanannya, tak lupa seikat Mawar Putih favorit Viona di lengan kirinya.
Dialah Arjuna. Juna yang beberapa waktu terakhir ini mengurus pekerjaan di luar pulau baru saja kembali. Dia bertemu Ibel di bandara kemarin sore, dan alangkah terkejutnya ketika mengetahui kabar buruk yang menimpa Viona.
Juna memencet bel dan seorang asisten rumah tangga datang membuka pagar. “Maaf, cari siapa ya, Mas?”
“Saya mau bertemu Viona, saya temannya, Arjuna.”