Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Terima Kasih, Istriku



Kelamnya sang penguasa malam bertahta dengan gagahnya di angkasa. Ditemani para bintang gemintang yang mulai menaburkan kelopaknya berkelap kelip indah. Ada yang bersinar penuh percaya diri dengan dada membusung, ada juga yang berbinar malu-malu tersipu, menarik ulur merayu sang malam untuk memeluk kemolekannya dalam selimut gelap yang menyimpan sejuta pesona juga tanya.


Di peraduan besar itu, tampak Bima masih membuka mata padahal hari sudah sangatlah larut. Sorot matanya berpendar penuh puja pada wanita yang bergelung terlelap di pelukannya.


Bagi Bima, Viona adalah candunya, pemicu detak jantungnya, desah kehidupan dalam setiap helaan napasnya, sumber semangat juga kekuatannya dalam memerangi sisi hitam yang pernah hinggap menodainya. Viona memberi cinta yang mampu mengubah hidupnya, cinta yang menyeretnya dari simpangan salah menuju jalan yang benar, membasuh noda kelamnya dengan aliran murni kasih sayang dan ketulusannya.


Lengkungan serupa bulan sabit di wajah cantik si bunga indah idaman hati laksana mantra ajaib yang mampu membuat dunia Bima selalu bersemi indah, aroma harum tubuhnya menenangkan juga membangkitkan semangat gairah kehidupan dalam dirinya, terpacu ingin menjadi manusia yang lebih baik lagi setiap harinya, menjadi sosok yang seharusnya bagi keluarga kecilnya.


Punggung tangan Bima membelai lembut pipi wanita tercintanya, embusan napas Viona halus teratur pertanda lelap melingkupinya, belahan jiwanya tengah mengenyahkan lelah setelah menghabiskan beberapa jam berulang kali menyatu dengannya, berkubang dalam peleburan bergelora.


Tubuh ranum itu sungguh membuat Bima lupa diri, Viona yang tanpa perawatan spesial pun sudah mampu membuatnya menggila apalagi sekarang, ia merasakan sensasi yang lebih menggigit dari biasanya menjadikannya ingin terus-menerus tenggelam di sana tanpa henti.


Alunan merdu suara Viona saat mengerang, mendesah, melenguh, juga tubuhnya yang bergetar hebat memejam dengan mulut sedikit terbuka didera kenikmatan yang diberikannya tersaji luar biasa indah bagi Bima.


Tubuh ramping istrinya merapat dengannya tak ada jarak yang tersisa, berbagi kehangatan, bergesekan gulit tanpa terhalang benang dalam satu selimut yang sama. Ditatapnya lekat-lekat Viona yang tengah tertidur itu, luar biasa cantik bak dewi, membuatnya tidak kuat menahan diri untuk tak melabuhkan kecupan sayang penuh pemujaan di kening pemilik hatinya.


Bima menarik selimut guna menutupi tubuh urian Viona hingga bahu. Ia cepat-cepat melakukannya sebelum dirinya lepas kendali dan berakhir mengusik tidur Viona, gairahnya kembali bangkit begitu saja saat ekor matanya tak sengaja melihat bongkahan ranum menyembul mengintip di balik selimut.


“Kamu benar, dia memang murahan,” gumam Bima pelan disertai kekehan.


Ia merengkuh Viona semakin erat, mencoba memejamkan mata berusaha merayu diri memasuki alam mimpi. Awalnya memang sulit karena naluri kelelakiannya berteriak dan menggeliat meminta dipuaskan lagi, tetapi akhirnya alam berbaik hati dengan menghadiahkan kantuk untuknya hingga akhirnya ia pun terbuai dalam cendera sembari memeluk si belahan jiwa.


*****


Hari ini Bima hampir terlambat berangkat ke tempat seminar. Bagaimana tidak, selepas shalat subuh ia kembali merayu dan menyeret Viona mengolah ladang dalam cucuran keringat yang menjadikan pagi mereka panas membara.


“Vi, di mana macbook punyaku?” Bima tengah memakai kaus kaki tergesa dikejar waktu.


“Sudah kumasukkan ke dalam tas.” Viona masih memakai bartrobe selepas mandi bersama tadi. Ia membawakan tas kerja Bima, lalu berjongkok membantu Bima memakai sepatu kemudian merapikan dasinya lagi, mengancingkan jasnya dan mengusap lurus memastikan suaminya rapi sempurna.


“Sudah rapi. Semoga seminarnya sukses,” ucap Viona menyemangati.


“Aamiin. Makasih, sayang.” Bima mengusap rambut Viona yang masih setengah basah, merangkulnya dan mengecup puncak kepalanya, ia melepas pelukannya meski berat rasanya seolah tak rela dan ingin terus menempel pada istrinya.


“Cepat berangkat, nanti terlambat.” Viona membujuk suaminya yang tampak enggan pergi, makin hari Bima semakin lengket saja padanya.


“Berikan aku sesuatu yang manis dulu,” pinta Bima.


“Yang manis? Aku tak punya gula di sini, haruskah kupanggilkan layanan kamar? Tapi kayaknya nggak bakal keburu, waktu seminar dimulai tinggal lima belas menit lagi kan?” Viona memeriksa waktu di jam tangan mahal yang melingkar elegan di pergelangan tangan suaminya.


“Ini lebih manis dari gula manapun. Aku berangkat,” ucapnya dengan senyum merekah.


Viona tertawa kecil, suaminya kini ibarat budak cinta. “Pergilah dan hati-hati."


*****


Seminar dihelat besar-besaran. Para narasumber, menteri perdagangan, para pemilik perusahaan baik perusahaan berskala besar maupun mikro berkumpul antusias menghadiri seminar akbar itu. Presdir dari tiga perusahaan besar terkemuka yang mengusung produk hasil asli dalam negeri menjadi pembicara yang mengisi seminar, termasuk salah satunya adalah Bima sebagai presdir Sinar Abadi Grup.


Sebagai seorang istri, Viona juga ingin ikut menyemangati. Ia datang tanpa sepengetahuan Bima, duduk di deretan kursi para peserta seminar dan mengamati jalannya acara ditemani dua staf wanita yang ditugaskan Bima untuk menemaninya.


Dari kejuahan ia dapat melihat lelaki tercintanya sedang sibuk berdiskusi dengan para moderator lainnya di depan sana. Tatapan berlumur rasa bangga berpendar dari mata Viona, ucapan syukur pun tak luput berderai dari hati juga bibirnya. Suaminya yang sempat terjebak lembah nista itu kini tampak lebih bersinar dari sebelumnya setelah ditempa keras sedemikian rupa.


Untuk mendapatkan saripati yang penuh manfaat manusia harus melewati beberapa tahapan seumpamanya buah kelapa. Ketika kita ingin mendapatkan santan yang kaya manfaat dan kegunaannya, kelapa harus melewati beberapa proses yang cukup panjang serta tak mudah.


Pertama, buah kelapa yang masih muda dirawat dan disayangi sepenuh hati agar tumbuh dengan baik. Saat usia kelapa sudah masak dia dijatuhkan dari ketinggian hingga terhempas ke tanah, sabutnya dikupas tanpa belas kasihan, batok kelapanya dipukul-pukul tanpa perasaan kemudian dikuliti, daging kelapanya diparut setelahnya barulah diperas dengan kuat sehingga menghasilkan santan yang diinginkan.


Santan itu ibarat Bima yang sekarang. Setelah melalui proses perjalanan panjang membuat dirinya menemukan saripati jati dirinya. Cibiran mantan narapidana yang terlontar tak lantas menjatuhkannya, malah ia gunakan sebagai pengingat yang menjadikannya lebih bersinar, menguarkan cahaya menyilaukan yang berbeda. Kini jiwanya sekokoh berlian, yang tak mudah bergeming rayuan sesat apalagi hancur. Juga tak jatuh kala dicaci dan tak terbang lupa diri saat dipuji.


Viona mengambil gambar sang suami menggunakan ponselnya, tak ingin kehilangan momen yang begitu berharga ketika Bima menjadi narasumber bersama jajaran pebisnis hebat di depan sana.


Bima belum menyadari kehadiran Viona di aula seminar. Ia sedang fokus memberikan arahan, kiat-kiat sukses dalam berbisnis dan motivasi inspiratif bagi para pelaku usaha terutama yang baru terjun di dunia bisnis.


Sejak dulu Bima memanglah kompeten dalam berbisnis, berkat arahan sang papa yang sudah lebih dulu berkecimpung, sehingga Malik memercayakan penuh kursi jabatan tinggi untuk putra semata wayangnya itu. Hanya saja kecanduan obat terlarangnya menjadi masalah terbesarnya, sebelum akhirnya seorang wanita mungil mengambil langkah berani membuat kuasa si barang haram porak-poranda.


Tepuk tangan riuh juga decak kagum diberikan untuk Bima sesaat setelah selesai mengisi materi. Viona berdiri dan ikut bertepuk tangan dipenuhi rasa bangga. Barulah saat itu Bima menyadari bahwa istri tercintanya sejak tadi menyaksikan sepak terjangnya.


Tergesa ia turun ketika giliran narasumber lain berbagi materi. Bima tak kembali ke mejanya, memilih menghambur pada istri tercintanya yang berada di antara kerumunan.


“Kenapa nggak bilang mau datang?”


“Kejutaaaan....”


Viona mengangkat kedua tangan di udara dengan raut wajah cerianya. “Aku sengaja nggak bilang, karena ingin menyaksikan Mas menjadi narasumber di acara sabesar ini. Suamiku memang hebat,” puji Viona penuh syukur.


“Semua pencapaianku ini berkat dirimu, aku takkan berada di sini tanpa keberanianmu dulu. Keberanianmu yang mampu mengubahku. Jika tidak, mungkin saat ini aku masih sibuk melarikan diri. Makasih Vi, sudah hadir dalam hidupku.”


Tanpa memedulikan sekitar mereka bergengaman tangan erat, saling berpandangan mesra dalam balutan senyum penuh syukur meresapi rasa bahagia yang terasa lebih manis setelah sebelumnya pahit tertelan.