
Bima memeriksa nominal rekening pribadinya melalui ponsel. Rekening itu hanya Bima yang tahu, di luar rekening perusahaan ataupun rekening yang diketahui keluarganya. Rekening yang biasa dipakainya untuk membeli si laknat menyesatkan.
Jumlahnya begitu pas dengan nominal yang diminta Sesil. Demi mendapatkan video yang mengancam itu, ia mengosongkan semua isinya dan langsung berpindah ke nomor rekening Sesil dalam sekejap saja.
"Uang sudah kukirimkan. Ini buktinya." Bima menunjukan bukti transfer yang tertera di layar. "Sekarang serahkan barangnya!"
Sesil menyerahkan memori card dan juga kamera mini kepada Bima sambil terkekeh pelan penuh kepuasan.
"Sekarang waktunya membicarakan tentang kehamilanku. Coba tunjukan rasa tanggung jawabmu yang kau sebutkan tadi."
"Maksudmu?" Kening Bima berkerut dalam.
"Aku tak mungkin terus menerus tinggal di rumah orang tuaku sementara perutku semakin membesar. kecuali kamu mau menikahiku maka itu lain cerita. Atau jika kamu bersedia menampungku dalam satu atap dengan istrimu aku tak keberatan," ucapnya santai.
"Jangan pernah mengganggu istriku! Cepat katakan apa maumu!" bentak Bima dengan rahang mengeras.
"Kau bilang akan bertanggung jawab terhadap anakmu walaupun aku tak termasuk di dalamnya. Tapi karena sekarang bayi itu masih berada di dalam rahimku, maka mau tak mau kamu juga harus bertanggung jawab terhadapku. Aku butuh tempat tinggal yang layak dan jauh dari orang tuaku selama kehamilanku. Atau mungkin kamu mau menjadikanku istri simpananmu? Dengan senang hati aku bersedia," desisnya merayu tak tahu malu.
"Jangan mimpi! Aku tak sudi mempunyai istri selain Viona. Akan kupenuhi seperti maumu, tapi tidak dengan pernikahan. Jika memang benar yang kau kandung itu adalah anakku, aku akan mencukupi semua kebutuhan bayi tak berdosa itu seumur hidupku." Bima membuka tas kerjanya dan mengeluarkan sebuah map berwarna biru.
"Ini adalah surat perjanjian tentang anak yang kau kandung. Setelah bayi itu lahir aku akan melakukan prosedur tes DNA dan jika kamu menipuku maka aku akan menjebloskanmu ke jeruji besi," ancam Bima.
"Ehm ... begini Tuan Bima. Jika kau berani menjebloskanku ke dalam penjara, maka kenyataan tentang kamu seorang pecandu obat terlarang akan kubeberkan juga kepada polisi!" Sesil balik mengancam.
"Beberkan saja. Maka kita akan membusuk bersama di dalam penjara! Atau sebetulnya kamu takut karena memang sedang menipuku sehingga menggunakan cara ini untuk mengancamku?" tuding Bima sembari menekankan setiap kata-katanya.
"Ahahaha ... ma-mana mungkin. Aku tidak takut. Karena aku memang benar-benar mengandung anakmu." Sesil berusaha menyembunyikan kegelisahannya.
Sesil tak pernah menyangka Bima ternyata sudah berpikir hingga langkah ini dalam waktu singkat. Akan tetapi, sesaat kemudian dia kembali tersenyum penuh percaya diri. Apa sulitnya memiliki bayi? batinnya. Dia tinggal berhenti meminum pil kontrasepsi dan mencari cara agar Bima menidurinya dalam waktu dekat. Jika berhasil mengandung anak Bima, maka sang bayi akan menjadi tambang emas berkesinambungan seumur hidupnya.
"Di mana aku harus membubuhkan tanda tanganku?" ucap Sesil tak gentar.
"Tanda tangani di bagian kanan bawah, dan juga bubuhkan cap jarimu." Bima menyodorkan dua lembar kertas berisi penjanjian kepada Sesil yang langsung ditanda tangani oleh wanita tersebut.
"Tempat tinggal yang kau minta akan kupersiapkan secepatnya. Tapi, kuperingatkan padamu, jangan pernah mencoba meletakkan tangan kotormu kepada istriku, atau kita berdua akan berakhir di hotel prodeo!" tegas Bima. Ia menyimpan kembali map tersebut ke dalam tasnya.
"Jangan khawatir. Selama kamu mau bekerja sama dengan baik maka aku akan menjaga sikapku. Terima kasih, Tuan Bima. Senang berbisnis dengan Anda." Sesil menyodorkan tangannya dengan senyuman menjijikkan.
Bima tak menggubris uluran tangan Sesil. Ia langsung beranjak pergi dari sana tanpa menoleh lagi dan Sesil hanya tersenyum kecut sambil menipiskan bibir.
"Bima, Kamu ternyata sangat memesona. Akan kujadikan kamu milikku. Sepenuhnya," gumamnya penuh ambisi.