Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Rumah Kita



Hari beranjak petang. Mercy hitam milik Bima berbelok mengambil jalur lain di pertengahan perjalanan pulang setelah sebelumnya menjemput Viona di butik terlebih dahulu.


“Kita, mau ke mana, Mas?”


“Ke mana ya?” Bima malah balik bertanya. Rona bahagia serta senyuman tak henti tercetak di wajah tampannya.


“Hih, Mas. yang bener dong jawabnya, ini mau ke mana?” Viona mengguncang lengan Bima sembari memasang wajah cemberut.


“Sabar honey, sebentar lagi kita sampai.” Bima meraih tangan Viona dan mengecup punggung tangannya lembut.


Sepanjang perjalanan mereka bergenggaman tangan, layaknya pasangan remaja yang tengah dimabuk asmara, enggan berjauhan walau sedetik saja. Viona memerhatikan jalan yang dilewati, Ia merasa mulai mengenali kemana arah tujuan mobil yang ditumpanginya.


“Ini kan, arah jalan ke rumah lama kita. Iya kan?” Viona mengalihkan matanya dari jendela dan menoleh pada lelaki yang tengah fokus mengemudi itu, menatap dengan raut wajah penuh tanya.


“Hmm,” gumam Bima diikuti anggukan.


Benar saja, mobil berhenti tepat di luar gerbang kediaman Bima dan Viona dulu. Viona turun, melangkah ragu lalu tertegun sambil menyapu pandangan ke sekeliling.


Bangunan kokoh itu memang rumah mereka yang sempat terbengkalai karena Viona memutuskan pindah setelah Bima resmi menceraikannya dan memberikan kuncinya pada Annisa. Terlalu banyak kenangan di sana, Viona merasa tak sanggup menanggungnya kala itu.


Rumah tempat awal di mana kebersamaan mereka dimulai kini tampak berbeda dari sebelumnya. Banyak bagian yang direnovasi juga ditambahkan. Terakhir kali Viona lewat kira-kira setahun lalu.


Yang tampak saat itu hanyalah rumah sepi yang dibiarkan kosong tak terurus. Namun kini, pohon-pohon cemara berjejer rapi di sisi kiri dan kanan rumah, bunga-bungaan indah tertanam rapi menyambut di bagian depan, begitu segar dan asri juga terasa hidup.


“Ayo, kita masuk.” Bima menarik Viona yang masih terpaku mengamati sekitar. Bima membuka kunci dan masuk ke dalamnya.


Saat dirinya dinyatakan bebas dari jeruji besi. Yang pertama kali Bima datangi adalah rumah itu. Setelahnya ia mulai merenovasi juga mengganti serta menambahkan beberapa furniture baru, mencurahkan segala cintanya di setiap sudut demi menata ulang rumah impiannya dengan suasana baru dan bertekad membawa kembali keluarga kecilnya ke rumah tersebut.


Viona menyentuhkan ujung jemarinya menyusuri setiap permukaan benda yang ada di sana. Furniturnya masih ada yang sama sebagian, tetapi barang-barang baru lebih mendominasi. Semuanya bernuansa klasik seperti kesukaannya, gorden-gorden juga berganti dengan warna warna favoritnya yaitu ungu muda dipadu putih. Cat seluruh rumah pun diubah menjadi putih bersih dari sebelumnya yang berwarna krem tua.


Di setiap sudut rumah itu kembali muncul kelebatan bayangan-bayangan kebersamaan mereka dulu di benak Viona. Dari mulai kisah yang perih juga yang manis berpadu menjadi satu. Kaki jenjangnya melangkah ke dapur dan Bima mengikuti. Bayangan Bima yang memakai celemek sedang memanggang roti gosongnya adalah hal yang pertama kali menyeruak di sana. Tawa ringan berderai dari mulut Viona.


“Kenapa tertawa, hmm?” Bima mengernyit samar.


“Aku teringat ketika Mas mencoba menyiapkan sarapan, tapi rotinya berakhir gosong.”


Mata indah Viona yang berkilauan dengan bulu mata lentiknya memaku ke netra sendu Bima, segala sesal masih tampak bergerombol di manik hitam suaminya.


“Ketika membujang dulu, aku sengaja membangun rumah ini untuk kutempati saat sudah menikah. Aku tahu, di rumah ini lebih banyak kisah air matamu daripada tawamu. Tapi kini aku ingin menghapus semua kesedihan yang terjadi di dalam rumah ini dan membasuhnya dengan segala pemujaan cintaku untukmu. Berharap semoga bisa meluruhkan dan mengusir pergi segala duka yang pernah tercipta. Jika kamu tak keberatan, aku ingin kita pindah lagi ke sini dan memulai lagi semuanya dari awal dengan benar. Tapi jika kamu tak menginginkannya aku takkan memaksa.”


Viona belum menjawab, masih terpaku pada manik mata Bima menatap dalam di sana.


“Ayo, kita lihat-lihat ruangan lain."


Bima merangkul Viona dan mengajaknya berkeliling. Sekarang di taman belakang terdapat area bermain anak-anak yang dibuat Bima untuk Nara. Ayunan, perosotan dan teman-temannya di desain begitu manis di sana.


Kolam renang masih berada di bagian belakang rumah, hanya saja di sampingnya dibuat kolam renang kecil yang ideal untuk anak-anak bermain air.


Bima juga membawa Viona ke sebuah ruangan baru di lantai satu. Di dalamnya terdapat berbagai keperluan sketsa serta sebuah mesin jahit terbaik yang pernah ada. Gulungan kain-kain mahal juga ikut meramaikan isinya. Bima membuatnya sebagai ruang kerja Viona. Ia tahu, bagi Viona, merancang busana bukan hanya pekerjaan semata, tetapi juga hidupnya, pesonanya yang membuatnya bersinar.


Kemudian mereka beranjak ke lantai dua. Menunjukkan kamar yang dulu diperuntukkan bagi Nara. Sudah didesain sedemikian rupa dengan segala pernak-pernik khas anak perempuan. Dan yang terakhir, Bima mengajak Viona membuka pintu kamar utama. Di dalamnya sudah ditata begitu apik. Semua furniturnya diganti, cat dan juga desain serta warnanya sangat sesuai dengan selera Viona. Dulu Bima tak pernah setuju saat dirinya ingin menata dan mendesain kamar, tetapi kini Bima mewujudkannya, bahkan seprai, selimut dan benda-benda lainnya pun didominasi warna serupa.


“Dulu, aku selalu mendebat pendapatmu tanpa peduli jika mungkin hal itu membuatmu sedih juga kecewa. Aku melupakan akan hal itu. Kini, saat kesempatan kedua diberikan padaku, aku ingin menebus semua kesalahanku padamu dengan mencurahkan seluruh sisa hidupku hanya untuk mencintaimu, membahagiakanmu, dan berbagi hidup denganmu," ucapnya pelan.


Bima merengkuh Viona, menarik punggung wanita mungilnya untuk bersandar di dadanya. Embusan napas berat Bima terdengar nyaring, sarat akan beban sesal di dada.


Isakan tertahan mengiringi desah napas Viona. Bola mata indahnya yang berkilauan mulai dibasahi sumber mata airnya. Ia masih terdiam tanpa kata.


Rasa haru menyeruak di ruang kalbunya. Semua hal yang dilakukan Bima kini menyentuh relung hati terdalamnya. Tak menyangka bahwa Bima benar-benar berbuat banyak hal dalam usahanya demi menjadi sosok suami juga ayah yang seharusnya.


Dibalikannya tubuh Viona perlahan. Bima mengangkat dagunya lembut. Disekanya air mata yang mulai berjatuhan membasahi pipi mulus istri tercintanya, mengecupi satu persatu kelopak matanya secara bergantian.


“Jangan menangis lagi, sayang. Hatiku terasa nyeri setiap kali mengingat aku pernah membuat mata indahmu selalu dibasahi air mata. Kalau kamu tak setuju kita pindah ke sini, jangan dipaksakan. Yang kuinginkan sekarang adalah kamu selalu bahagia saat bersamaku.”


“Ini bukan air mata kesedihan, tapi air mata bahagia. Dimiliki olehmu yang sekarang, adalah kebahagian terbesar dalam hidupku, membuatku merasa lengkap. Mas kini mengenyahkan kekosongan menganga yang selalu menderaku, menyempurnakannya dan memenuhi lubang menganga itu dengan curahan pemujaan cinta tulusmu untukku. di sini memang pernah terjadi banyak hal yang diisi kenangan manis juga getir, tapi aku bersedia untuk memulai lagi semuanya dari awal dengan benar. Ayo, kita tinggal lagi di sini.”


“Kamu serius, mau pindah lagi ke sini?” tanya Bima meyakinkan.


“Iya, Mas. aku mau," sahut Viona dengan senyuman diiringi anggukan di ujungnya.