
Sepeninggal Bima, Nara, juga Bik Yati ke sekolah, Viona termenung di teras. Saran Ibel kembali terngiang, tentang mencoba menelaah perasaannya sendiri. Ia duduk di kursi rotan yang terdapat di halaman, mencoba meraba hatinya dan mencari tahu kepada siapa desiran rasa itu tertuju.
Sedari dulu hingga kini memang selalu begitu bukan? Bahkan setelah dihantam badai, terombang-ambing ombak dahsyat, di hatinya hanya setia terukir satu nama, tak pernah ada yang lain. lelaki pertama yang membuatnya jatuh cinta sekaligus membuatnya terluka.
Mulai terbersit di pikiran Viona untuk kembali memikirkan ulang tentang rencana pertunangannya dengan Juna, jiwanya berteriak bahwa bukan dengan laki-laki itu sang hati ingin bertaut, melainkan dengan satu nama berdebu di ruang usangnya.
Namun, Viona gamang akan perasaan Bima kepadanya kini. Memang benar beberapa waktu yang lalu sang mantan suami sempat mengutarakan ingin kembali merajut ikatan yang telah dikoyaknya, hanya saja tentang Hana ini sungguh menganggu pikirannya, bagaiman cara memastikan bahwa Bima masih mempunyai keinginan yang sama dengannya? Haruskah ia mengungkapkannya terlebih dahulu?
Sepertinya aku harus bicara secepatnya dengan Juna, walaupun mungkin aku tak bisa lagi bersama dengan Mas Bima jika telah memutuskan untuk bersama hana, setidaknya aku tidak harus menghabiskan seluruh hidupku dalam dusta, daripada berakhir dalam jurang curam yang bernama saling tersiksa, batinnya.
Viona sudah membulatkan tekad, benar kata Ibel, pernikahan bukanlah ajang balas budi. Lagipula Viona yakin, Juna bukanlah orang sepicik itu, dia laki-laki yang baik, walaupun akhir-akhir ini Viona mulai merasakan Juna tak lagi seperti yang dulu.
Dia berencana menemui Juna dan membahas masalah rencana pertunangan ini, Viona akan membatalkannya sebelum terlambat. Ia tahu resiko tindakannya akan melukai hati Juna, tetapi lebih baik masalah ini dibenahi sekarang juga bukan? Daripada dibiarkan berlarut hinga berkarat dan berakhir saling melukai satu sama lain.
*****
Sepanjang hari, Bima tak henti mengukir senyum. Sesekali tangnnya mengusap kemeja yang dipakainya, merasakan kasih sayang Viona yang tertinggal dalam setiap serat kain yang dikenakannya hari ini.
“Anda tampak sumringah hari ini.” Adrian memberi komentar pada bos-nya ketika mereka masuk ke ruangan Bima
“Mungkin Anda harus memeriksa kamera CCTV ruang rapat. Sepanjang rapat berlangsung, Anda terus tersenyum Pak, apakah harga saham naik drastis?" Adrian tak mampu menahan diri dari rasa penasarannya, sudah lama Bima tak terlihat seceria ini.
“Bukan karena saham, tapi sesuatu yang lebih berharga daripada itu," sahut Bima gembira.
"Ya ampun, saya lupa belum memeriksa grafik bursa saham hari ini.” Adrian malah memekik panik sendiri dan keluar dari ruangah Bima terburu-buru.
Bima tertawa kecil lalu mengenyakkan dirinya di kursi kebesarannya. Ia sudah memantapkan hati, akan mencoba kembali mengajak Viona rujuk, meski tempo hari saat di apartemen Viona tak memberi jawaban yang sesuai dengan harapannya.
Fakta di pagi ini seumpama secercah harapan untuknya, mengetahui Viona bahkan membuatkan pakaian untuknya membuat asanya melambung tinggi, jika begini bukankah mantan istrinya itu juga masih memendam rasa yang sama dengannya?
Ia memang bukanlah manusia suci tanpa cela, bahkan pernah menghujam perih di jantung Viona, tetapi hatinya tetap berharap, semoga Viona masih memberinya kesempatan kedua.
Bima memantapkan hati akan kembali melanjutkan memperjuangkan Viona, niatnya sempat tersendat saat rencana pertunangan mantan istrinya itu tercetus.
Ia ingin menebus semua kesalahan dan juga waktu yang telah terbuang dengan keluarga kecilnya. Seperti yang Hana katakan, sebelum janur kuning melengkung, kesempatan itu masihlah ada. Lain halnya jika Viona sudah menikah lagi, Bima takkan meletakkan tangannya untuk merusak kebahagiaan wanita yang dicintainya.