
Sepanjang perjalanan, Viona mengambil dan membuang napas teratur, tetap tenang terkendali sembari berdo'a dalam hati. Bima yang duduk di sampingnya ikut megap-megap setiap kali Viona menghela seolah dirinya pun ikut merasakan mulas. Bima tak henti berbisik di perut buncit Viona, agar jagoannya menunggu hingga sampai di rumah sakit.
Viona malah terkikik geli di tengah-tengah rasa mulas yang frekuensi durasinya mulai bertambah. Ia tak bisa menahan tawa melihat ekspresi suami tampannya. Wajahnya memucat, peluh berembun di dahi ditambah ikut-ikutan menarik dan membuang napas seperti dirinya bahkan dengan cara yang lebih ekstrem, membuat Bima tampak hendak melahirkan juga.
"Tenanglah, Sayang." Viona menyeka keringat di dahi Bima dan menatap penuh cinta pada sang suami yang tengah dilanda kecemasan.
"Aku takut, aku takut kamu kenapa-napa," ujarnya lemah dan rendah dengan suara serak, bahkan kini Bima seperti ingin menangis.
Direngkuhnya Bima ke dalam dekapan. Viona memeluk lelakinya penuh sayang dan mengecup puncak kepala Bima.
"Aku dan bayi kita pasti baik-baik saja. Lebih baik sekarang kita berdo'a. Jangan terlalu banyak berpikir, Mas." Sungguh lucu memang, situasi justru terbalik. Si ladang mungil yang hendak menyemai buahnya lah yang berusaha menenangkan si penebar benih saat panen akan tiba.
"Bunda, apa dedeknya udah mau ketemu kita?" Si kecil Nara akhirnya bersuara setelah tadi sibuk dengan kegiatannya sendiri.
"Iya, Sayang. Sebentar lagi Nara bakalan jadi Kakak." Viona membelai lembut kepala sang anak.
"Yeayy ... asik. Nara mau gendong dedek, mau ajak main perosotan juga." Nara berjingkrak dan bertepuk tangan gembira. "Tapi kenapa Ayah kayak nangis?" Bola mata jernihnya bergulir memerhatikan Bima yang menenggelamkan wajah di ceruk leher bundanya dengan lengan melingkar di perut buncit itu.
"Ayah nggak nangis, cuma ngantuk," sahut Viona dibumbui senyuman teduh terukir di bibir.
"Dedek, ayo keluar sekarang. Kakak udah gak sabar pengen ketemu." Nara berujar ceria dengan suara khas anak kecilnya seraya mengelus perut Viona menggunakan tangan mungilnya sambil menggoyangkan kaki.
Kalimat Nara sukses membuat kedua orang tuanya menegang. Bima langsung menarik wajah dari ceruk leher sang istri. Netranya membulat dan kini saling bertukar pandang dengan Viona dalam raut wajah yang sama terkejutnya. Bima terburu-buru menurunkan wajah hingga mendarat di perut Viona berbisik sepelan mungkin.
"Jangan dengarkan kakakmu, boy. Dengarkan ayah saja ya, oke. Pokoknya dengarkan Ayah," ucapnya parau dengan nada sedikit memerintah. Kepanikan semakin hebat menyerbu, takut si jabang bayi di dalam sana terayu kalimat anak sulungnya dan malah menendang keluar saat ini juga.
*****
Sesampainya di rumah sakit, dokter dan perawat sudah bersiaga siap sedia di lobi dengan ranjang untuk pasien. Bima segera memapah Viona dan membantunya naik ke atas ranjang yang telah tersedia.
Bik Yati turun tergesa sambil membawa Nara dalam gendongan dan segera mengekori tuannya. Sedangkan Mang Ujang si sopir secepat mungkin memarkirkan kendaraan, lalu menyusul masuk sembari membawa tas berisi kelengkapan bayi yang memang sengaja disiapkan dan disimpan Viona di bagasi jauh-jauh hari, menjaga apabila kondisi darurat terjadi.
"Kondisi kalian berdua bagus dan sehat. Ini sudah pembukaan tujuh, syukurlah Anda tiba sebelum pembukaan lengkap sesuai perkiraan," jelas dokter pada Viona, air mukanya terlihat sedikit lega.
"Saya mengikuti semua saran Anda selama di perjalanan, Dok," sahut Viona bersemangat.
"Bima, bersiap-siaplah untuk mendampingi, sebentar lagi tiba waktunya." Si Dokter menepuk pundak Bima kemudian beranjak ke sudut ruangan memastikan keperluan melahirkan untuk Viona sudah siap tersedia.
Viona kembali meringis kecil sambil menggigit bibir kuat-kuat. Frekuensi juga tarikan mulasnya makin intens terasa.
Yang lainnya diperintahkan menunggu di luar, hanya Bima yang diperbolehkan ikut masuk ke ruang bersalin. Ia memeluk Viona yang ingin duduk bersandar tak sepenuhnya berbaring sambil membalas remasan jemari lentik ibu dari anak-anaknya itu di tangannya.
"Kamu pasti bisa sayang, kamu kuat." Sebetulnya kalimat itu untuk menguatkan diri Bima juga, lantaran merasa tak tega menyaksikan Viona kepayahan dalam proses menghadirkan buah cintanya ke dunia.
"Aku nggak apa-apa kok. Asalkan ada Mas di sisiku, aku pasti bisa. Kamulah kekuatanku," jawab Viona dengan deru napas yang mulai tersengal menahan mulasnya yang makin mengigit dan menguat.
Beberapa saat kemudian dokter kembali memeriksa. Ia dan para perawat langsung siaga karena pembukaan jalan lahir sudah lengkap. Dokter memberi instruksi singkat padat dan jelas pada Viona.
"Ikuti aba-aba saya, Nyonya. Jika mulas hebatnya kembali terasa, silakan mengejan. Mengerti?"
Viona mengangguk, sudah tak mampu menjawab dengan bibirnya yang kini terkatup rapat menahan kontraksi. Saat rasa mulasnya kembali datang, dokter memberi aba-aba, dan Viona memasang kuda-kuda untuk mengejan.
Tak disangka, belum juga Viona mengejan, bayi dalam perutnya langsung menendang keluar begitu saja dan menangis kencang, membuat semua orang si ruangan itu mengerjap kaget.
Viona tercengang, begitu pun dokter juga semua orang yang mengelilinginya. Seingatnya sewaktu melahirkan Nara reaksinya berbeda. Viona masih tak percaya jika bayi yang dikandungnya sudah terlahir ke dunia, terasa begitu mudah tak seperti dulu. Mungkin penyebabnya karena anak keduanya ditanam dan dipupuk dengan penuh cinta oleh sang ayah, juga rajin dijenguk dan disapa.
"Selamat, bayinya laki-laki. Lahir dalam keadaan sehat tanpa kurang suatu apapun," ucap si dokter yang juga ikut berbahagia.
Dokter meraup bayi mungil yang menangis itu, meminta Bima mengadzani dan juga iqamah ke telinga si bayi. Suara Bima serak dengan mata berkaca-kaca, tak mampu menahan haru yang menyeruak di dalam diri. Setelahnya, dokter meletakkan bayi mungil itu di dada Viona untuk dilakukan inisiasi dini.
"Selamat datang di dunia, putraku," sambut Viona juga Bima bersamaan, dalam balutan rasa haru serta mata berkaca-kaca berlumur cinta pada si buah hati.