Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Semakin Mesra



“Pak Yoga meminta bertemu Anda, Pak.” Adrian menelepon melalui ponsel memberitahukan keberadaan Yoga di lobi kepada Bima.


“Aku tak ingin bertemu dengannya. Tangani seperti yang biasa kamu lakukan untuk mengusir penganggu seperti dia,” titah Bima. Ia malas menemui makhluk bermuka dua itu, paling juga Yoga datang dengan sejuta dalih. Namun, ada yang Yoga belum ketahui, bahwa sekarang posisi presdir Sinar Abadi Grup sudah kembali beralih ke tangan Bima, sedang Malik hanya memantau selaku komisaris.


Adrian sudah terbiasa menghadapi situasi ini, dia duduk kembali berhadapan dengan Yoga di kursi yang terdapat di lobi sambil memasang wajah ramahnya.


“Maaf, Pak Yoga. Pimpinan kami sangat sibuk, juga kebetulan tak ada di tempat karena sedang mengadakan rapat di luar kantor dengan mitra bisnis. Silakan datang di lain waktu,” ucap Adrian resmi dan sopan.


Yoga tampak kacau dan acak-acakan, mengusap wajahnya kasar juga menyugar rambutnya sembarang.


“Kira-kira, kapan jadwal Pak Presdir agak lengang? Keperluan saya sangat mendesak. Tolonglah, saya harus bertemu dengannya secepat mungkin, saya harus meminta beliau untuk mempertimbangkan agar tetap melanjutkan kerja sama. Bukankah selama ini hasil penjualan produk yang dipasarkan Homeshopping selalu tinggi? Lantas kenapa kerjasama dihentikan dan produk ditarik tanpa sepengetahuan saya?” Yoga sedikit memaksa.


“Jadwal Presdir hingga beberapa pekan ke depan sangat padat. Saya tak bisa memberi kepastian kapan beliau bisa menemui Anda. Jika mau, saya akan mengatur jadwal untuk Anda. Hanya saja kapan waktunya untuk bertemu secara langsung saya tak bisa memastikannya. Tapi maaf, mengenai pembatalan kerja sama itu, kami tak harus meminta persetujuan Anda. Sesuai kesepakatan awal yang tertulis, bahwa Sinar Abadi Grup memiliki hak penuh atas produk kami dan bebas menariknya kapan saja tanpa harus membayar ganti rugi, itu adalah poin yang Anda ajukan saat meminta kami menjadi mitra. Saya harap anda tidak melupakan itu, karena saya pun berada di sana juga pengacara sewaktu kerja sama ditanda tangani.”


Adrian menjelaskan panjang lebar dengan tenang, dia memang sudah terlatih, kompeten di bidanganya dan dapat diandalkan. Itu sebabnya saat Bima kembali menjabat, ia tak menginginkn orang lain menjadi sekertaris, dan meminta Adrian untuk kembali menjadi sekertarsinya.


Apa yang dituturkan Adrian memang benar adanya. Yoga mengepalkan tangannya gusar.


Sial! Aku tak bisa menuntut apapun karena perjanjian itu! umpatnya dalam hati.


“Kalau begitu, saya minta dijadwalkan untuk bertemu beliau. Kapan pun beliau ada waktu saya siap. Saya harap bisa bertemu secepatnya,” pintanya penuh harap.


“Akan langsung saya kabari jika jadwalnya sudah ditentukan. Saya permisi Pak Yoga, masih banyak pekerjaan yang tertunda, Mari.”


Adrian berpamitan, bergegas masuk ke dalam lift eksekutif dan kembali ke lantai di mana Bima berada.


*****


Bima sedang membenahi tempat tidur sang anak, menata bantal, guling juga bonekanya. Setelah seminggu penuh mereka tidur bertiga, baru malam inilah Nara setuju untuk kembali tidur di kamarnya setelah dibujuk.


Nara naik ke tempat tidur dan menarik selimut bergambar Frozen guna menutupi tubuhnya, disusul Bima yang juga ikut naik dengan buku dongeng di tangan.


“Nara mau punya adik kan?”


“Mau, Nara pengen punya adik, mau sekarang,” pintanya polos. Bocah itu berpikir bahwa adik adalah sejenis properti yang bisa dibeli seperti boneka mainannya.


Bima tertawa kecil lalu mengusap sayang kepala sang anak. “Gak bisa sekarang sayang. Kalau Nara mau punya adik, bobonya gak boleh sama Ayah sama Bunda lagi. Adiknya masih malu-malu, jadi harus nunggu dulu.”


“Tapi pengen ditemenin sampai bobo. Kalau Nara udah merem, baru Ayah boleh ke kamar Bunda. Jangan lupa panggilin adik biar cepat datang.”


“Siap, Tuan Putri yang cantik. Sekarang mau dibacain dongeng yang mana?” Bima memilah-milah buku yang ada di pangkuannya.


“Pengen dibacain dongeng si kancil dan serigala,” jawabnya riang.


“Oke.”


Bima membacakan dongeng yang diminta Nara sambil mengusap sayang kepala anaknya. Nara begitu gembira, karena kini setiap malam sang ayah selalu ada untuknya. Setelah buku hampir sampai di halaman terakhir, Nara mulai terkantuk-kantuk. Bima menutup buku dongeng tersebut dan menaruhnya di nakas.


“Anak Ayah udah ngantuk ya?”


Nara mengangguk dan memeluk boneka beruang dokter kesayangannya.


“Yuk baca do’a dulu.”


“Selamat tidur, mimpi indah, Anakku.”


Pintu kamar utama didorongnya perlahan, Bima melihat istrinya tengah sibuk membenahi ranjang mereka. Viona menoleh begitu mendengar suara derit pintu.


“Nara udah tidur, Mas?”


“Udah.“ Bima mengangguk, lalu memeluk Viona yang sedang menata bantal.


“Aku kangen,” desahnya manja.


Viona terkikik geli. “Ya ampun, manjanya kumat deh.” Viona meneruskan kegiatannya dan Bima yang tetap menempel di punggungnya mengikuti kesana kemari.


“Yank, pengen.” Bima membelai lembah hangat istrinya dari luar daster ruffle yang dipakai Viona.


Setelah hari pernikahan, mereka baru memadu kasih saat di hotel saja, selebihnya belum pernah lagi menebar benih. Bima dan Viona harus banyak bersabar untuk meluapkan cinta dan rindu mereka, karena Nara terus merengek ingin tidur bertiga semenjak hari itu, baru malam ini putrinya yang menggemaskan kembali bersedia tidur di kamarnya sendiri.


“Pengen apa sih?” Viona pura-pura tak mengerti seraya mengulum senyum.


“Pengen makan kamu.” Bima berbisik dan menjilat daun telinga Viona membuat si empunya meremang. Lalu kecupan–kecupan basah mulai Bima labuhkan di tengkuk Viona sembari menghirup aroma Viona yang menguar harum.


“Pakai baju itu ya, yang warna hitam,” pinta Bima dengan napas beratnya berbalut hasrat di sela-sela kecupannya.


“Haish… aku malu Mas.” Viona merona begitu saja, membayangkan betapa menerawangnya lingerie itu saat dipakai.


“Please, mau ya. Aku pengen lihat kamu pakai itu,” pintanya memelas tanpa menghentikan kegiatannya. Tangannya mulai menyelinap ke balik daster, mengusap pinggul, merambat ke perut dan semakin merajalela menyentuh di titik-titik tertentu.


“I-iya sayang, se-sebentar. Lepasin dulu, aku ganti baju dulu.” Viona mulai terengah. Kecupan dan rabaan tangan Bima menyulut gairahnya dengan mudahnya.


Seringai gembira tercetak di wajah tampannya. Ia melepas dekapan dan membiarkan Viona berganti pakaian.


“Aku tunggu. Jangan lama-lama, honey,” ujarnya mesra.


“Harap bersabar, Tuan.” Viona melayangkan fly kiss dengan senyuman genit yang hanya ditunjukkannya untuk Bima seorang.


Viona mengganti bajunya dengan cepat. Menepuk-nepuk pipinya sendiri saat menatap pantulannya di cermin. Sebetulnya ia agak malu, ini adalah kali pertamanya memakai lingerie super tipis dipadu g-string. Dulu Viona tak pernah sekalipun memakainya meski sudah menikah, tetapi kini demi memenuhi permintaan suami tercintanya ia menyemangati diri agar tak perlu malu, lagipula Bima sudah melihat juga merasakan dirinya luar dan dalam bukan?


“Aku siap suamiku sayang,” panggil Viona begitu keluar dari kamar mandi.


Bima memindai wanitanya dari kepala hingga kaki, lekukan indah itu membuat jakunnya naik turun. Matanya berkabut diliputi gairah seketika. Ia melangkah mendekat dan menarik Viona yang begitu memukau, segar dan ranum dalam balutan lingerie seksi agar merapat dengannya.


"Kamu cantik, luar biasa cantik,” pujinya dengan nada penuh pemujaan. Matanya menyusuri setiap jengkal kulit Viona, tak ingin berpaling sedetik pun dari sana.


Viona tersipu, dipuji cantik oleh lelaki yang dicintainya membuatnya bahagia tak terkira, ia mengalungkan lengannya ke leher Bima dan berjinjit mengecup bibir Bima sekilas.


“Apakah Mas bermaksud hanya akan memandangiku sepanjang malam?” goda Viona.


“Tentu saja tidak. Tapi aku akan membuatmu terjaga dan mendesah sepanjang malam, sayang.”


Tak menunggu lama, Bima menunduk dan menanamkan bibirnya di celah kemanisan bibir Viona, memagut dan menyesap dengan rakus bibir merah itu atas dan bawah secara bergantian.


Akhirnya peleburan panas kembali terjadi, memadu kasih dalam cinta, rindu dan hasrat yang menggebu, berkobar bergelora di atas peraduan. Gaun lingerie hitam itu kini sudah tak melekat lagi di tubuh mulus Viona, terlempar ke sudut kamar dan tak dipedulikan lagi bagaimana nasibnya.